BerandaPERSPEKTIFANALISISKecurigaan Terhadap Penelitian di...

Kecurigaan Terhadap Penelitian di Liang Bua

Diduga, letusan Gunung Tambora, atau Gunung Berapi yang kini menjadi Danau Toba ataukah Gunung Berapi di Flores yang kini menjadi Danau Rana Mese,” terang Jatmiko. Dikatakannya, dugaan itu didasarkan atas struktur lapisan tanah vulkanik setebal 80 cm yang ditemukan berada tepat diatas kerangka tulang Homo Floresiensis ditemukan.

Salah seorang tim local penggailian Liang Bua 2012, Hendrikus Bandar (72) yang bertugas sebagai seorang pencatat tanah yang sudah ditimbang mengatakan bahwa dirinya telah bergabung dalam tim ini sejak tahun 1979. “Tim penggalian menggunakan tenaga warga sekitar Liang Bua yang terlatih sejak tahun 1979,” ujarnya.

Masyarakat setempat meyakini manusia purba itu berukuran pendek, setinggi 80 cm-100 cm. Penampilan mendekati bentuk monyet, tetapi sudah punya kemampuan berburu. Mereka makan binatang, seperti tikus atau kelelawar.

Lorens Hena termasuk salah satu warga yang diajak para peneliti arkeologi untuk menggali fosil manusia purba di dalam goa tersebut sejak awal tahun 2000-an.

Menurut Hena, sebelum digali untuk penelitian, gua besar ini pernah dipakai untuk tempat sekolah, yaitu mulai tahun 1960-an sampai 1970-an. Sekolah Rakyat, tempat anak-anak kampung belajar. Kadang, gua ini dipakai untuk upacara adat dan persembahan sesaji untuk leluhur.

Untuk diketahui bahwa Homo Floresiensis atau “Manusia Purba dari Flores”, dijuluki “hobbit” dan “llo” adalah spesies yang kini sudah punah, dalam genus Homo. Sisa-sisa fosilnya ditemukan pada tahun 2003 di Liang Bua, Manggarai. Kerangka parsial dari sembilan orang telah ditemukan, termasuk satu tengkorak lengkap. Bekas-bekas inilah yang menjadi subyek penelitian intensif untuk menentukan apakah mereka merupakan spesies yang berbeda dari manusia modern, dan kemajuan ini menimbulkan kontroversi ilmiah.

PUBLIKASI TERKINI

Baca Juga