LIPUTAN KHUSUS

EKSPLOITASI DI BALIK GEMERLAP LABUAN BAJO

Welcome to Le Dupar

Labuan Bajo. Surga. Destinasi Super Prioritas.

Kami tidak memasang iklan.

Kami punya jaringan. Seorang teman menghubungi teman lainnya — perempuan dari Jawa— dan menceritakan angka yang membuat mata terbuka: pendapatan hingga Rp30 juta sebulan.

Mereka datang.

Malam pertama langsung bekerja. Kontrak? Seminggu kemudian. Satu lembar. Baca cepat. Jangan difoto. KTP kami pegang — untuk keamanan.

Kamar tidak perlu dikunci. Satpam yang akan periksa, kapan saja, termasuk saat mereka baru selesai mandi.

Gaji dihitung per jam. Ada potongan ini-itu. Kalau kurang, kami pinjamkan. Semakin besar utang, semakin lama mereka di sini.

Itu bukan ancaman. Itu matematika.

Awal Mei 2026, salah satu dari mereka meninggal. Kami bereskan kamarnya sebelum polisi datang — seprei, jarum suntik, semua peralatan medis.

Lalu kami ingatkan yang lain: tidak perlu cerita yang lain-lain.

Malam itu pub tetap buka. Tamu tetap datang. Mereka tetap tersenyum.

Tamu menikmati malamnya. Pekerja menanggung sisanya.

Ada yang tidak kami perhitungkan.

Dua perempuan yang berhasil keluar akhirnya bicara. Biarawati Katolik yang datang menjemput mereka juga bicara. Begitu pula pejabat-pejabat pemerintah.

Apa saja yang mereka ceritakan?

Baca serial liputan khusus Floresa: Eksploitasi di Balik Gemerlap Labuan Bajo.

SERI LIPUTAN

Bantah Eksploitasi Pekerja, Apa yang Janggal dari Penjelasan Pub Le Dupar?

Kuasa hukum Le Dupar bilang semua berjalan sesuai prosedur. Dinas Tenaga Kerja bilang tidak ada kontrak, sementara Puskesmas menyebut tidak ada data soal pemeriksaan kesehatan para pekerja

Mengapa Kami Meliput Perempuan di Pub Le Dupar?

Pekerjaan seseorang tidak pernah menentukan apakah ia layak diperlakukan sebagai manusia. Eksploitasi tetaplah eksploitasi—apa pun seragam yang dikenakan korbannya.

Suster Rita, SSpS: Perempuan Pekerja Pub Juga Manusia, Mereka Punya Hak

Stigma terhadap pekerja perempuan kerap menutupi persoalan yang lebih besar: pelanggaran hak, kekerasan, dan dugaan praktik perdagangan orang di balik bisnis hiburan malam.

Rekan Sekamar Meninggal, Pekerja Pub Le Dupar Dipaksa Layani Tamu, Berbohong kepada Polisi

Barang bukti medis diperintahkan dibuang. Pada malam yang sama, mereka harus tetap tersenyum melayani tamu

Dukung Kami

Floresa adalah media independen. Kami berkomitmen bahwa cerita yang paling sulit diungkap adalah cerita yang paling perlu didengar.

Kalau Anda percaya jurnalisme seperti ini penting — dukung kami. Caranya klik di sini