Bayangkan Anda baru saja check-in di sebuah hotel di Labuan Bajo. Kamar rapi sempurna. Handuk terlipat dengan presisi. Linen berbau wangi. Semuanya terasa mewah dan terkendali.
Anda tidak tahu siapa yang menyiapkan semua itu.
Hotel di Labuan Bajo tumbuh bagai jamur setelah pemerintah menetapkannya sebagai destinasi pariwisata super prioritas.
Dari bintang tiga sampai bintang lima, dari resor di tepi pantai hingga yang berdiri di puncak bukit menghadap laut — semuanya butuh tenaga.
Dan sebagian dari tenaga itu diisi oleh pelajar SMK berusia 16 atau 17 tahun yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL).
Mereka bekerja delapan hingga tiga belas jam sehari. Tidak ada satu pun aturan ketenagakerjaan yang secara tegas melindungi mereka.
Floresa mewawancarai lebih dari sepuluh dari mereka. Yang diceritakan bukan sekadar angka.
Seorang pelajar mencuci linen kiriman dari hotel bintang lain setiap hari selama lima bulan — bayarannya dua bungkus susu per minggu.
Pelajar lain dikenai sanksi kerja 13 jam karena membuka WhatsApp saat jam kerja. Ada yang menyaksikan rekannya tersiram minyak panas, sementara kotak P3K di dapur kosong.
Di antara para pelajar perempuan, ada yang berjalan kaki pulang pukul 23.30, sendirian, di jalan yang sepi.
Pihak hotel berdalih para pelajar butuh pengalaman kerja di lapangan. Pihak sekolah mengklaim tidak punya pilihan lain karena butuh lokasi untuk menampung pelajar setiap tahun.
Di antara dua kepentingan itu, para remaja ini mengisi celahnya — dengan tenaga mereka, tanpa perlindungan apa pun.
Semua itu terjadi di balik gemerlap kota yang mungkin Anda pilih untuk berlibur.
Di balik linen yang terlipat rapi di kamar Anda, ada seseorang yang belum genap 18 tahun, berdiri selama berjam-jam, tanpa gaji, tanpa jaminan, dan tanpa siapa pun yang diwajibkan secara hukum untuk memastikan mereka pulang dengan selamat.
Kami mengulas fenomena ini dalam serial liputan khusus: Antara Belajar dan Buruh Gratis Hotel.

