Liputan Khusus

Iman di Persimpangan Identitas

Di Flores, menjadi Katolik bukan sekadar pilihan keyakinan — ia adalah napas sosial, penanda keberadaan, ukuran kepatutan.

Dalam tatanan seperti itu, menjadi transpuan sekaligus umat Katolik yang taat bukan sekadar paradoks pribadi. Ia adalah negosiasi harian yang tidak pernah benar-benar selesai.

Yolanda Adam, transpuan di Maumere, melayani OMK selama bertahun-tahun sebelum gereja benar-benar tahu bagaimana menempatkannya.

Hendrika Mayora Viktoria meninggalkan biara bukan karena kehilangan iman, melainkan karena memilih jujur pada dirinya sendiri.

Dea Dacosta tumbuh diterima keluarganya, lalu memilih membuka jalan bagi yang datang sesudahnya.

Tiga perjalanan yang berbeda, satu pertanyaan yang sama: apakah ada ruang yang benar-benar terbuka di dalam institusi? Serial liputan khusus ini lahir dari keyakinan bahwa jurnalisme yang baik tidak hanya mencatat konflik, tetapi juga menerangi ruang-ruang yang selama ini luput dari perhatian — termasuk ruang batin mereka yang hidup di persimpangan iman dan identitas.

Ini bukan liputan tentang perdebatan doktrinal. Ini adalah kisah tentang manusia yang mencari Tuhan, dan menemukan-Nya — meski tidak selalu di tempat yang diharapkan institusi.

Seri Liputan

Antara Iman dan Identitas: Pergulatan Transpuan Katolik di Maumere

Bagi mereka, gereja bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ruang negosiasi yang dinamis antara iman dan identitas—sebuah perjalanan mencari penerimaan di tengah batas-batas dogma dan tradisi.

Pastor Venansius Nahak, SVD: Suara Kenabian Justru Lahir dari Mereka yang Hidup di Pinggir

Di Maumere, kelompok transpuan mengambil peran pastoral yang diabaikan institusi. Bagi Pastor Venansius Nahak, itu bukan kebetulan — melainkan logika Injil yang bekerja dari tempat yang tak terduga.

Transpuan Hendrika Mayora Viktoria: Tetap Beriman, Jujur pada Diri Sendiri

Bagi Mayora, kejujuran adalah hal paling mahal — termasuk mengakui diri memiliki orientasi seksual berbeda di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya siap memahami identitasnya.

Liputan ini merupakan kolaborasi Floresa dengan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) untuk liputan konstruktif dan ramah keberagaman gender di Indonesia Timur.

Dukung Kami

Terus berada di jalur sebagai media independen dan kritis merupakan pilihan yang terus kami pertahankan. Kami ingin menjaga marwah jurnalisme yang melayani kepentingan publik, termasuk memperkuat suara mereka yang seringkali menjadi korban, dipinggirkan dan diabaikan. Liputan khusus ini adalah bagian dari upaya menjalankan komitmen itu. Jika kawan-kawan bersedia mendukung tim kami, caranya bisa dicek dengan klik di sini