Salah satu SMA Negeri di Kabupaten Manggarai Barat menggelar pelatihan jurnalistik untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menulis berita.
Berlangsung pukul 15.45 hingga 18.00 Wita pada 3 Oktober, kegiatan bertajuk “Jurnalisme Sekolah” itu diinisiasi oleh Kelompok Literasi SMA Negeri 2 Komodo yang berbasis di Desa Nggorang.
Kegiatan itu melibatkan 30 peserta didik kelas X hingga XI, dengan Anno Susabun, editor Floresa sebagai fasilitator.
Wakil Kepala SMA Negeri 2, Albertus Daventus berkata, kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para peserta didik dalam menulis serta membangun wawasan mereka terkait jurnalisme.
Selain itu, kata dia, kegiatan itu untuk melatih peserta didik merespons informasi secara kritis.
“Kami juga ingin siswa-siswi bisa peka terhadap isu-isu yang ada di sekitar mereka,” katanya.
Falrianus Hengki, pendamping Kelompok Literasi berkata, kegiatan tersebut merupakan bekal bagi peserta didik untuk mengisi majalah dinding dan web sekolah dengan berbagai macam tulisan.
“Kami telah membuat web sekolah. Nanti siswa-siswi akan mengisi tulisan di situ, baik berita, puisi, cerpen maupun opini,” katanya.
Pada sesi pertama, Anno menjelaskan cara membentuk kalimat dan paragraf, dua unsur yang menurutnya “paling mendasar bagi siapapun yang mau mengembangkan kemampuan menulis.”
“Paling dasar adalah membuat kalimat dengan makna yang utuh, lalu menggabungkan kalimat-kalimat secara runtut untuk membentuk paragraf,” katanya.
Di sela-sela materi tersebut, para siswa diminta membuat kalimat dan paragraf yang langsung dikoreksi secara bersama-sama.
Materi selanjutnya terkait pengertian jurnalistik dan jurnalisme sekolah, jenis-jenis berita, cara memperoleh berita, menulis berita hingga menyampaikan berita kepada publik.
“Selain tahu membentuk kalimat dan paragraf, hal yang harus dilakukan jurnalis adalah melakukan observasi langsung di lapangan, wawancara narasumber dan riset terkait konteks naskah yang mau ditulis,” kata Anno.
“Kalau kita dengar kabar bahwa di luar sedang hujan, hal pertama yang dilakukan jurnalis bukan menulis, tetapi keluar untuk memastikan kebenaran kabar itu,” lanjutnya.
Pada 30 menit terakhir pelatihan, para siswa diberi waktu untuk menulis contoh berita singkat tentang kegiatan tersebut.
Fitri R. Ismail, salah satu siswi kelas X berkata, kegiatan tersebut membuatnya “baru memahami cara menulis berita dengan baik.”
“Ternyata untuk menjadi seorang jurnalis, seseorang harus bisa mencari berita, melakukan observasi, penelitian, wawancara hingga mengolah sebuah informasi menjadi berita,” katanya.
Ia menyebut, untuk bisa menjadi seorang jurnalis harus banyak membaca.
“Harus meningkatkan literasi supaya menambah perbendaharaan kata dan meningkatkan daya kritis agar peka terhadap situasi sosial di masyarakat,” katanya.
Ia berharap kegiatan jurnalistik di sekolah tersebut bisa mendorong siswa-siswi untuk berperan aktif di lingkungan sekolah, masyarakat dan konteks sosial yang lebih luas.
Pemimpin Redaksi Floresa, Herry Kabut berkata, pihaknya menyambut baik inisiatif SMA Negeri 2 Komodo yang melibatkan Floresa dalam pelatihan ini.
“Kami terbuka untuk terlibat dalam kegiatan serupa, sebagai bagian dari komitmen kami untuk meningkatkan literasi di kalangan kaum muda, termasuk pelajar,” katanya.
Ia menjelaskan, sejak tahun lalu, Floresa telah meluncurkan kanal KoLiterAksi yang mewadahi artikel, baik berita maupun opini yang dtulis oleh pelajar, mahasiswa hingga guru dan dosen di NTT.
“Kami berharap, setiap pelatihan yang telah dibuat bisa diikut sertai dengan praktik menulis. Silakan juga mencoba mengirimkan kepada kami untuk dipublikasi di kanal KoLiterAksi,” katanya.
Editor: Ryan Dagur





