Bola servis dari Ori meluncur deras ke daerah lawan. Pengembalian yang kurang sempurna membuat bola membentur net. Kendati masih berusaha diselamatkan, namun bola akhirnya tetap jatuh di daerah lawan.
Seketika para pemain voli putri Spentig Hewa dari SMPN 3 Wulanggitang berteriak. Menumpahkan emosi, suara tangis bahagia pemain pecah. Mereka saling berangkulan.
Pelatih, ofisial tim dan suporter pun berhamburan ke dalam lapangan, merayakan kemenangan.
Moment emosional tersebut terjadi di lapangan olahraga Kodim 1624 Flores Timur pada 12 Desember.
Tim bola voli putri Spentig Hewa mencatat sejarah, menjadi juara dalam turnamen perdana bola voli antarpelajar SMP se-Flores Timur yang diselenggarakan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga.
Prestasi ini diraih dengan sempurna. Sejak fase group hingga partai final, anak-anak pantai selatan Wulanggitang itu tidak pernah menelan kekalahan.
Di babak penyisihan, mereka tergabung dalam satu grup bersama tim voli putri SMPN 1 Wulanggitang, SMP Satap Bogalima dan SMPN 2 Tanjung Bunga.
Mereka selalu menang sehingga melaju ke babak perempat final sebagai juara grup.
Di babak gugur ini, tim Spentig Hewa memenang 3-0 atas tim SMPK Mater Inviolata, yang membawa mereka melaju ke semifinal.
Di semifinal, Spentig Hewa kembali menghadapi anak-anak Nagi. Penantangnya adalah tim SMPS St. Gabriel. Tiket final berhasil diraih tim Spentig Hewa setelah menang dengan skor meyakinkan 3 – 0.
Di partai puncak, laskar Spentig Hewa berhadapan dengan putri SMPN 1 Tanjung Bunga.
Kedua tim menyuguhkan permainan yang menarik dan mendebarkan, yang tidak hanya menguras tenaga tetapi juga emosi.
Spentig Hewa kalah pada dua set awal. Set pertama, Spentig Hewa menyerah dengan skor 25 – 23, set kedua tumbang dengan skor 25 – 22.
Dalam kondisi tertinggal, semangat anak-anak Spentig Hewa tidak patah. Nyali mereka tidak ciut.
Tangan dingin pelatih Bento Uran berhasil membangkitkan semangat bertanding mereka.
“Setelah set kedua, saya memberi instruksi kepada anak-anak untuk tetap tenang. Tidak boleh terpengaruh dengan penonton. Tingkatkan konsentrasi dalam bertanding. Dan kurangi membuat kesalahan sendiri,” katanya.
Hal itu terbukti karena pada tiga set terakhir, mereka bangkit dan melibas lawannya. Set ketiga hingga lima direbut dengan skor masing-masing 25 – 16, 25 – 21 dan 15 – 11.
Agustina Luruk Seran, kapten tim Spentig Hewa asal Pantai Oa berkata “kami gugup ketika memasuki lapangan.”
“Penonton banyak sekali,” katanya.
Hal itu ikut membuat mereka tertinggal pada dua babak pertama.

Noni, salah satu pemain, berkata, kemenangan ini merupakan buah dari kerja keras. Selama latihan, ia dan rekan-rekannya rela bertahan di sekolah saat para pelajar lain sudah kembali ke rumah.
“Kalau jadwal latihan, kami biasa bawa makanan dari rumah. Setelah jam pulang, kami tidak pulang lagi ke rumah supaya sore bisa berlatih bersama Pa Bento”.
Tim Spentig Hewa juga menghadapi tantangan selama pertandingan. Mereka harus melewati medan yang berat dalam perjalanan pergi – pulang Larantuka.
Pergi pagi dan pulang tengah malam, mereka menerobos dinginnya lembah Hokeng yang sepi dan zona bahaya Gunung Lewotobi Laki-laki yang masih berstatus Siaga.
Di musim hujan saat ini, ancaman lain tidak kalah bahaya karena banjir lahar dingin.
Perjalanan juga harus melewati beberapa kali mati yang menjadi aliran banjir lahar dingin. Berulang kali kontingen Spentig Hewa terjebak.
Selama turnamen, para pemain mendapat dukungan banyak pihak, termasuk dari orang tua mereka yang selalu menemani setiap kali bertanding.
Kepala SMPN 3 Wulanggitang, Kristina Sabu Punang memberikan apresiasi atas prestasi para pelajarnya.
“Saya memberikan apresiasi kepada pemain, pelatih dan ofisial tim karena sudah mengharumkan nama lembaga,” katanya.
Ia juga berterima kasih kepada semua pihak, “khusus orang tua yang selalu mendukung anak-anaknya selama turnamen ini.”
Editor: Ryan Dagur





