Guru dan Siswa SMA di Manggarai Timur Belajar Bahasa Inggris dengan Pendekatan Bahasa Daerah

Pertimbangan utama strategi tersebut adalah mayoritas siswa menggunakan Bahasa Manggarai sebagai bahasa utama dalam komunikasi

Guru dan siswa di salah satu sekolah di Kabupaten Manggarai Timur, NTT memiliki cara unik dalam belajar Bahasa Inggris.

Mereka menggunakan teknik bilingual story telling atau bercerita dengan dua bahasa yang memadukan Bahasa Inggris dan bahasa daerah.

Maria Astrini Besa, guru di SMA Negeri 5 Poco Ranaka itu berkata, ia menerapkan teknik tersebut setelah mempertimbangkan bahwa dalam komunikasi sehari-hari mayoritas siswa menggunakan Bahasa Manggarai.

“Hal itu membuat saya berpikir bahwa anak-anak yang lekat dengan Bahasa Manggarai perlu dilatih dengan pendekatan yang paling sesuai, yakni belajar Bahasa Inggris dengan code-switching strategy,” kata Rini, sapaannya.

Code-switching strategy atau strategi pertukaran kode dalam linguistik merujuk pada teknik belajar, terutama berbicara, dengan berpindah dari satu bahasa ke bahasa lainnya yang relevan dengan konteks dan kondisi tertentu.

“Terakhir pada 13 Oktober kami mempraktikkan itu di kelas pilihan Bahasa Inggris tingkat lanjut XI IPS 2. Total 28 siswa yang ikut,” katanya.

Rini berkata, strategi itu dipilih “agar siswa yang lekat dengan bahasa daerah merasa nyaman dalam belajar karena sesuai dengan identitas dan kebiasaannya sehari-hari.”

“Saya meyakini bahwa ketika siswa belajar melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka, proses belajar akan menjadi lebih alami, bermakna, penuh semangat dan menyenangkan,” katanya.

“Makna kata-kata dan kalimat Bahasa Inggris yang disampaikan juga bisa lebih kuat ketika dipelajari berbarengan dengan bahasa ibu mereka,” lanjutnya.

Pada awal proses pembelajaran bilingual storytelling, para siswa diminta menyiapkan satu contoh teks naratif. 

“Mereka lalu memilih salah satu cerita rakyat Manggarai yakni ‘Du Pu’ung agu Wangkan Rana Mese’ atau Legenda Terbentuknya Danau Rana Mese,” katanya.

Rana Mese adalah danau vulkanik yang terletak di kawasan hutan Taman Wisata Alam Ruteng, berjarak sekitar lima kilometer sebelah timur sekolah itu.

Para siswa lalu dibagikan ke dalam tiga kelompok untuk menulis cerita tersebut dalam tiga bahasa, yakni Bahasa Manggarai, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

“Setelah menulisnya, mereka membacakan teks tersebut secara bergantian. Kelompok pertama membacakan paragraf pertama dalam Bahasa Manggarai, disusul kelompok kedua dengan Bahasa Indonesia dan kelompok terakhir Bahasa Inggris,” katanya.

Praktik itu dilakukan secara bergantian sehingga setiap kelompok memiliki kesempatan untuk berbicara dalam tiga bahasa tersebut sesuai dengan teks yang ditulisnya masing-masing.

Rini berkata, selain bertujuan menjaga warisan budaya daerah, para siswa juga merasa lebih mudah memahami kata-kata dan struktur kalimat Bahasa Inggris ketika pembahasan di ruang kelas berkaitan langsung dengan tradisi percakapan sehari-hari.

“Apalagi kelas dibuat secara interaktif yang membuat mereka dipacu untuk berpikir, belajar dan mencari tahu dengan menggunakan kamus atau bantuan teknologi mesin pencari Google,” lanjutnya.

Ia mengakui, teknik pembelajaran tersebut tidak langsung membuat siswa fasih berbicara. 

“Secara tata bahasa memang bisa saja masih lemah, tetapi minimal mereka percaya diri bertutur atau berbicara karena materi yang dibahas dekat dengan situasinya,” katanya.

“Belajar dengan cara seperti itu membuat mereka paham struktur teks naratif, struktur bahasa dalam Bahasa Inggris dan arti kata-kata tersebut secara praktis,” lanjutnya.

Kristianus Ronal Batista, salah satu siswa kelas XII merasa dirinya terbantu dengan metode belajar tersebut.

“Kami sangat bersemangat di kelas ini karena bisa dengan mudah memahami materi. Cara belajarnya juga tidak terpaku pada Bahasa Inggris saja tetapi juga mengembangkan karakteristik bahasa daerah,” katanya. 

Kepala SMA Negeri 5 Poco Ranaka Darius Ngkahar berkata pendekatan yang digunakan Rini merupakan contoh inovatif guru di sekolah itu.

“Strategi bilingual storytelling ini saya rasa sangat cocok karena para siswa kami dilahirkan dari bahasa ibu, Bahasa Manggarai,” katanya.

Ia berharap pendekatan seperti itu menginspirasi guru lainnya, termasuk di luar sekolah tersebut, untuk mempraktikkan teknik pembelajaran yang kontekstual dengan situasi setempat.

“Mudah-mudahan ke depan semakin banyak inovasi seperti ini supaya dapat menginspirasi orang lain belajar Bahasa Inggris dengan cara yang menyenangkan,” katanya.

Rini berharap strategi yang digunakannya bersama siswa dapat membuat mereka mampu dan percaya diri mengekspresikan konteks budaya setempat.

“Lebih dari itu, bahasa lokal bisa jadi jembatan utama menuju bahasa global yang dapat menghubungkan pengetahuan budaya dan harapan untuk masa depan siswa,” kata Rini.

Editor: Anno Susabun

Artikel ini terbit di halaman khusus KoLiterAksi. Jika Anda adalah pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pemerhati pendidikan ataupun masyarakat umum dan tertarik menulis di sini, silahkan kirimi kami artikel. Ketentuannya bisa dicek dengan klik di sini!

Silahkan gabung juga di Grup WhatsApp KoLiterAksi, tempat kami berbagi informasi-informasi terbaru. Kawan-kawan bisa langsung klik di sini.

Artikel Terbaru

Banyak Dibaca

Baca Juga Artikel Lainnya