Arif Menggunakan Internet, Menjadi Pemuda Pemersatu Bukan Pemecah Belah 

Meski teknologi digital membuat kita bisa berkomunikasi kapan saja dan dengan siapa saja, potensi bahayanya juga hadir bersamaan

Indonesia hari ini punya lebih dari 200 juta pengguna internet. Mayoritas adalah anak muda. 

Angka tersebut, menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, setara dengan lebih dari 80 persen total populasi 286 juta jiwa. 

Data itu tentu tidak mengherankan jika mencermati keseharian hidup kita sebagai kaum muda. 

Sejak pagi kita langsung membuka ponsel, entah untuk scrolling Instagram, Facebook, Tiktok atau berkomunikasi via aplikasi percakapan seperti WhatsApp.

Berbeda dari zaman dahulu di mana orang yang ingin berpendapat secara publik harus naik podium di alun-alun dan berhadapan dengan ribuan pasang mata, generasi kita hari ini cukup dengan mengetik, mengklik dan mengirim pesan. 

Media sosial juga tidak lagi sekadar tempat mencari hiburan tetapi sudah jadi ruang publik baru, tempat kita terhubung satu sama lain, berpendapat, berdebat, bahkan membentuk identitas kita. 

Lewat berbagai aplikasi, dalam hitungan detik, kita bisa terhubung dengan pengguna dari berbagai daerah. 

Seseorang dari Pulau Jawa bisa berkomunikasi dengan temannya dari Nusa Tenggara Timur tanpa harus naik pesawat. 

Di ruang virtual itu mereka saling berbagi cerita, budaya, bahkan resep masakan khas daerah masing-masing. 

Waspada Bahaya 

Pertanyaannya, di tengah berbagai kemudahan karena teknologi digital itu, apakah kita benar-benar terhubung? 

Meski teknologi membuat kita bisa berkomunikasi kapan saja dan dengan siapa saja, potensi bahayanya juga hadir bersamaan.

Di kolom komentar media sosial, kita tak jarang menemukan diskusi yang tidak sehat. Bertebaran cacian, saling hujat, rasis, debat kusir soal politik sampai berita hoaks.

Hoaks menyebar lebih cepat dari kebenaran. Satu isu kecil bisa membesar jadi permusuhan antarkelompok. 

Ruang publik virtual yang dibayangkan sebagai alat pemersatu malah menjadi pemicu perpecahan.

Siapa di antara kita yang tidak pernah share berita tanpa terlebih dahulu mengecek kebenaran atau langsung percaya saja informasi yang kebetulan sesuai dengan apa yang kita yakini? 

Ini bisa saja sesuatu yang wajar karena otak kita memang dirancang untuk melakukan afirmasi, bukan konfirmasi kebenaran.

Sayangnya, kecenderungan inilah yang juga dimanfaatkan oleh para penyebar hoaks. Mereka tahu bahwa di media sosial, ekspresi emosi lebih cepat viral daripada fakta. 

Alhasil satu berita provokatif yang dikemas dengan judul sensasional bisa tersebar ke ratusan grup WhatsApp dalam hitungan jam. 

Sebelum ada klarifikasi informasi, kerusakan sudah terjadi, persepsi warganet sudah terbentuk dan kebencian sudah muncul. 

Yang lebih membahayakan lagi, algoritma media sosial justru menyokong kecenderungan ini. 

Platform seperti TikTok, Instagram dan Facebook dirancang untuk menampilkan konten yang cocok dengan psikologi kita. 

Akibatnya, kita terjebak dalam ‘ruang gema’ di mana yang terdengar hanya pendapat yang sesuai pikiran dan bayangan kita. 

Kita jadi berpikir bahwa semua orang setuju dengan kita dan yang berbeda pendapat adalah musuh.

Kalau hal ini dibiarkan, dampaknya bisa mengarah pada kehancuran fondasi persatuan. Bukan karena kita berbeda suku, agama atau ras tapi karena kita kehilangan kemampuan untuk mendengar dan memahami satu sama lain.

Generasi muda yang katanya melek digital bisa terjebak dalam kebiasaan untuk hanya berteman dengan orang yang sepaham dan menganggap yang berbeda pendapat sebagai musuh. 

Banyak dari kita yang lupa bahwa di balik setiap akun di media sosial ada manusia dengan perasaan, latar belakang dan keyakinan yang berbeda.  

Postingan kita dibaca oleh seluruh pengguna media sosial, baik yang sepemikiran maupun beda pemikiran serta latar belakang lainnya. 

Di titik inilah peran pemuda digital menjadi krusial, yakni berjuang untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pembentuk narasi di media sosial. 

Pertanyaannya: narasi apa yang ingin kita bangun? Apakah kita ingin terus menjadi masalah atau mulai menjadi bagian dari solusi?

Mulai dari Hal Sederhana

Kebebasan yang kita nikmati di internet luar biasa. Namun, hal yang juga mesti disadari adalah ada tanggung jawab beras untuk menggunakannya secara arif.

Menggunakan internet secara arif sebenarnya tidak ribet dan susah. Kita tidak perlu menjadi aktivis besar atau influencer terkenal yang pengikutnya jutaan orang, tetapi cukup mulai dari kebiasaan kecil sehari-hari. 

Pertama, berhenti sebelum share. Kita mesti menjadi pembaca kritis yang sebelum membagikan sesuatu selalu bertanya: Apakah ini benar? Dari mana sumbernya? Apakah ini bermanfaat atau malah akan bikin orang lain tersinggung? Apakah ini berpotensi membangun atau merusak?

Satu detik untuk berpikir bisa menyelamatkan bangsa dari satu hoaks yang tersebar. 

Kedua, menjaga cara berbahasa di media sosial. Jika di dunia nyata kita tidak asal teriak-teriak di depan orang asing atau ruang publik, mengapa di media sosial kita merasa boleh kasar, sarkastik atau sebebasnya menghina orang lain? 

Kata-kata kita punya kekuatan yang bisa membangun, namun juga bisa menghancurkan. 

Ketiga, hormati perbedaan. Artinya ketika seorang teman mengunggah pendapat yang berbeda, kita tidak perlu langsung menyerang. 

Kita mesti kritis dengan mendalami dan memahami perspektif orang lain. Memahami orang lain tidak harus berarti kita setuju, tetapi setidaknya kita tahu bahwa perbedaan itu bukan ancaman.

Keempat, gunakan platform untuk hal positif. Daripada ikut-ikutan bergosip tentang artis atau tetangga sendiri, kenapa kita tidak membahas hal positif.

Contohnya mempromosikan UMKM, karya seni lokal atau mengampanyekan kegiatan sosial? Media sosial punya kekuatan luar biasa untuk mengangkat hal-hal baik.

Sama halnya ketika menjadi kreator konten. Kalau kita punya ribuan follower, gunakan untuk hal baik, misalnya menyajikan konten yang edukatif, yang merayakan keberagaman dan menginspirasi orang lain.

Garda Terdepan Persatuan

Jika kita memperhatikan beberapa poin di atas, kita bisa menjadikan ruang virtual sebagai jembatan perbedaan berbagai suku, agama dan latar belakang. 

Namun, hal ini tentu bukan pekerjaan mudah. Akan selalu ada pihak yang ingin memecah belah kita entah karena kepentingan politik, ekonomi atau sekadar cari sensasi. Akan selalu ada netizen yang lebih suka konflik daripada dialog. 

Kita adalah pemuda digital, yang diandaikan melek dengan cara kerja platform, tahu soal algoritma, tren dan membuat konten viral. 

Saatnya kita menggunakan pemahaman itu bukan untuk popularitas semata, tetapi untuk tujuan yang lebih besar yakni menjaga persatuan.

Media sosial adalah cermin yang memantulkan apa yang kita beri. Kalau kita memberi kebencian, yang kita peroleh adalah kebencian. Begitupun sebaliknya.

Setiap kali beraktivitas di dalamnya, mulailah dengan bertanya: Apakah saya mau jadi bagian dari masalah atau solusi? Mau jadi pemecah belah atau perekat bangsa? 

Menjaga persatuan di era digital ini adalah tanggung jawab kita semua.

Heribertus Kamang adalah alumnus Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta

Editor: Anno Susabun


Artikel ini terbit di halaman khusus KoLiterAksi. Jika Anda adalah pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pemerhati pendidikan ataupun masyarakat umum dan tertarik menulis di sini, silahkan kirimi kami artikel. Ketentuannya bisa dicek dengan klik di sini!

Silahkan gabung juga di Grup WhatsApp KoLiterAksi, tempat kami berbagi informasi-informasi terbaru. Kawan-kawan bisa langsung klik di sini.

Artikel Terbaru

Banyak Dibaca

Baca Juga Artikel Lainnya