Pesta Sekolah: Dari Solidaritas Biaya Menuju Tanggung Jawab Pendidikan

Pesta sekolah yang bisa dipraktikkan di Manggarai Raya adalah wajah gotong royong yang indah. Namun, tradisi ini perlu dibaca lebih jauh: keberhasilannya tidak berhenti pada terkumpulnya dana, melainkan pada keberhasilan anak yang didukung untuk bertahan dan menyelesaikan pendidikan.

Pesta sekolah merupakan salah satu tradisi sosial-budaya yang hidup kuat dalam masyarakat Manggarai Raya di Flores barat—Manggarai Barat, Manggarai, dan Manggarai Timur.

Tradisi ini memperlihatkan bagaimana pendidikan dipandang bukan hanya sebagai urusan pribadi sebuah keluarga, tetapi juga sebagai kepedulian bersama dalam komunitas.

Melalui pesta sekolah, keluarga besar, kerabat, tetangga, dan sahabat hadir memberi dukungan bagi anak atau anggota keluarga yang hendak melanjutkan pendidikan, terutama ke perguruan tinggi. Bantuan yang terkumpul menjadi tanda bahwa mimpi seorang anak untuk belajar tidak dipikul sendirian.

Tradisi ini lahir dari kenyataan sosial yang sederhana tetapi kuat: banyak keluarga memiliki cita-cita besar untuk menyekolahkan anak, tetapi terbentur keterbatasan ekonomi. Dari kegelisahan itu, masyarakat membangun mekanisme solidaritas agar biaya pendidikan tidak menjadi tembok yang memutus harapan.

Hingga kini, pesta sekolah tetap dilestarikan. Bentuk pelaksanaannya memang berkembang mengikuti zaman, tetapi nilai dasarnya tetap sama: menguatkan keluarga, membuka jalan pendidikan, dan menegaskan bahwa masa depan anak adalah tanggung jawab moral bersama.

Biasanya, pesta sekolah ramai berlangsung antara Juni hingga Agustus, bertepatan dengan masa anak-anak yang baru tamat SMA atau SMK bersiap melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Pada periode yang sama, masyarakat Manggarai juga memasuki musim panen, terutama panen kopi. Pertemuan antara musim kelulusan dan musim panen ini membuat pesta sekolah memiliki dasar sosial-ekonomi yang kuat: hasil kebun menjadi salah satu sumber daya yang menopang solidaritas pendidikan.

Dalam pelaksanaannya, berbagai bentuk partisipasi hadir secara alamiah. Karaoke, penjualan makanan seperti sate, dan kontribusi sukarela dari para tamu menjadi bagian dari cara masyarakat menyalurkan tali kasih kepada keluarga penyelenggara.

Karena itu, pesta sekolah tidak hanya dimaknai sebagai acara sosial, tetapi juga sebagai ekspresi sukacita karena seseorang diberi kesempatan mengejar masa depan melalui pendidikan.

Lalu, mengapa tradisi ini disebut pesta?

Dalam konteks ini, kata “pesta” tidak merujuk pada hura-hura, kemewahan, atau sekadar hiburan. Ia adalah bahasa budaya untuk merayakan harapan, mengikat solidaritas, dan mengantar seorang anak memasuki perjalanan pendidikan yang lebih serius.

Karena itu, makna pesta sekolah dapat dibaca melalui empat gagasan utama berikut.

Pertama, pesta sekolah adalah perayaan syukur dan harapan baru. Bagi masyarakat Manggarai, kesempatan seorang anak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi merupakan pencapaian penting, bukan hanya bagi orang tua, melainkan juga bagi keluarga besar (panga) dan kampung.

Istilah “pesta” dengan demikian menggambarkan suasana sukacita kolektif: ada harapan bahwa anak yang berangkat menuntut ilmu kelak kembali membawa perubahan bagi keluarga dan komunitasnya.

Kedua, pesta sekolah berakar pada ritus adat komunal, yakni wuat wa’i. Secara kultural, pesta sekolah dapat dipahami sebagai adaptasi modern dari ritus melepas atau mengutus seseorang yang hendak merantau maupun menuntut ilmu.

Karena berakar dari ritus adat, pelaksanaannya sering mengikuti tata cara perjamuan adat Manggarai. Di dalamnya terdapat penerimaan tamu secara budaya melalui tuak kapu atau manuk kapu, yang menandai penghormatan kepada tamu dan keterlibatan komunitas.

Ritus tersebut juga dapat memuat penyembelihan hewan, seperti ayam atau babi, sebagai simbol kurban, pembersihan diri, dan permohonan restu kepada leluhur. Acara kemudian ditutup dengan makan bersama seluruh sanak saudara.

Rangkaian inilah yang memperlihatkan bahwa pesta sekolah memiliki dimensi adat, bukan semata-mata kegiatan pengumpulan dana.

Ketiga, pesta sekolah menjadi wadah gotong royong yang berwajah kekeluargaan. Agar bantuan dana dan material tidak terasa kaku atau transaksional, acara ini dikemas dalam suasana pesta. Sanak saudara, tetangga, dan kerabat datang membawa kontribusi berupa uang, beras, atau hewan ternak sebagai tanda dukungan.

Keempat, pesta sekolah adalah panggung doa bersama. Dalam tradisi Manggarai, menghadirkan banyak orang dalam sebuah perayaan merupakan cara untuk memohon restu kolektif. Di sinilah asas tegi campe agu momang—memohon bantuan dan kasih sayang—diwujudkan secara nyata. Melalui ritus adat torok, keluarga yang hadir menyampaikan berkat dan doa agar perjalanan studi seorang anak dilindungi Tuhan (Mori Kraeng) serta para leluhur.

Karena itu, pesta sekolah patut dilestarikan dengan tetap menjaga roh utamanya. Tradisi ini tidak boleh direduksi menjadi sekadar leko dodo atau balas budi sosial, apalagi berubah menjadi beban baru bagi keluarga.

Meski demikian, pesta sekolah juga menghadirkan tantangan yang perlu dibicarakan secara jujur. Tidak semua anak yang telah dipestakan kemudian benar-benar menyelesaikan pendidikannya. Ada yang berhenti di tengah jalan, tidak sampai meraih ijazah, atau gagal menuntaskan studi karena tekanan ekonomi, lemahnya motivasi, kurangnya pendampingan, maupun persoalan pribadi lainnya.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa pesta sekolah tidak boleh berhenti sebagai seremoni keberangkatan. Ia harus berkembang menjadi komitmen berkelanjutan.

Anak yang dipestakan perlu menyadari bahwa dukungan masyarakat adalah amanah sosial, sementara keluarga dan komunitas perlu ikut memastikan bahwa dukungan itu benar-benar menolong anak bertahan dalam proses belajar sampai selesai.

Dengan demikian, pesta sekolah harus tetap dipahami sebagai gerakan solidaritas untuk membantu keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi, agar anak-anak mereka dapat menapaki pendidikan tinggi dan menggapai mimpi.

Namun, solidaritas itu perlu dilengkapi dengan budaya tanggung jawab: tanggung jawab anak untuk belajar sungguh-sungguh, tanggung jawab keluarga untuk mendampingi, dan tanggung jawab komunitas untuk menjaga agar semangat gotong royong tidak berhenti pada hari pesta.

Di titik inilah pesta sekolah menemukan makna terdalamnya. Ia bukan hanya perayaan keberangkatan, melainkan janji bersama agar pendidikan benar-benar mengubah hidup.

Keberhasilannya tidak terutama diukur dari meriahnya acara atau besarnya dana yang terkumpul, tetapi dari keberhasilan anak yang didukung untuk bertahan, berjuang, menyelesaikan studi, dan kembali memberi arti bagi keluarga serta masyarakat.

Ambrosius Udal merupakan guru di SMP Negeri 2 Cibal Barat.

Editor: Ryan Dagur

Artikel ini terbit di halaman khusus KoLiterAksi. Jika Anda adalah pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pemerhati pendidikan ataupun masyarakat umum dan tertarik menulis di sini, silahkan kirimi kami artikel. Ketentuannya bisa dicek dengan klik di sini!

Silahkan gabung juga di Grup WhatsApp KoLiterAksi, tempat kami berbagi informasi-informasi terbaru. Kawan-kawan bisa langsung klik di sini.

Artikel Terbaru

Banyak Dibaca

Baca Juga Artikel Lainnya