PAUD hingga SMP di Kabupaten Manggarai Usung Semangat Kolaborasi dalam Perayaan Hardiknas

Kerja sama dan kolaborasi antarlembaga merupakan hal yang krusial dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu untuk semua, kata ketua panitia

Peserta didik dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga SMP di Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai mengusung semangat kolaborasi dalam merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini.

Berlangsung di Lapangan Sepak Bola Lemarang, Desa Lemarang pada 2 Mei, panitia kegiatan tersebut melibatkan lima lembaga pendidikan di kecamatan tersebut.

Kelimanya adalah SMP Negeri Satu Atap Lemarang, SD Katolik Sante, SD Inpres Lemarang, SD Negeri Lewar dan PAUD Desa Lemarang.

Panitia perayaan itu dipimpin oleh Kepala SMP Negeri Satu Atap Lemarang, Sislaus Kolumbanus Jumadi.

“Perayaan Hardiknas tahun ini berjalan dengan sangat lancar karena semangat kolaborasi lintas sektor,” kata Sislaus.

Siuslaus berkata, pelaksanaan kegiatan didukung oleh Puskesmas Lemarang serta pemerintah dan masyarakat Desa Lemarang.

Puskesmas Lemarang, kata dia, menghadirkan petugasnya untuk menolong peserta yang mengalami gangguan kesehatan. Sementara itu, pemerintah desa menggerakkan Linmas untuk menjaga keamanan dan ketertiban serta mengatur tempat parkir kendaraan. 

“Ini merupakan bentuk kerja kolaboratif yang dapat kita lihat hari ini,” katanya.

Siuslaus menyebut, tema Hardiknas tahun ini yang diusung oleh pemerintah adalah “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.”

Karena itu, lembaga pendidikan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

Menurutnya, kerja sama dan kolaborasi antarlembaga merupakan hal yang krusial dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu untuk semua, sehingga masyarakat percaya dengan lembaga pendidikan.

Senada dengan Siuslaus, Camat Reok Barat, Florentianus Laus Hadi berkata, “pendidikan bukan lagi tentang kompetisi antarlembaga, melainkan tentang gotong royong untuk menciptakan ekosistem belajar yang berpihak pada murid.”

Karno Dentius Oce merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Teologi UNIKA Santu Paulus Ruteng

Editor: Herry Kabut

Artikel Terbaru

Kejari Manggarai Kalah Dua Kali dalam Upaya Memenjarakan Petani yang Dituding Merambah Hutan

Hakim Pengadilan Tinggi menolak banding, menyatakan langkah jaksa yang bertentangan dengan KUHAP menjadi preseden buruk hanya karena tidak puas tuntutannya tidak terbukti.

Memoria Passionis Orang Papua dalam Film Pesta Babi

Pesta Babi menelanjangi bagaimana pembangunan di Papua berdiri di atas ingatan yang coba dihapus negara dan luka yang terus dipaksa dilupakan.

Pemda Manggarai Timur Ingkar Janji Perbaiki Saluran Irigasi yang Rusak Sejak Maret

Dinas PUPR mengklaim masih menunggu alokasi dana Belanja Tak Terduga

Sebelumnya Tuntut Warga yang Protes, Kini Kejari Rote Ndao Usut Pejabat terkait Penutupan Jalan

“Jalan itu ada karena pengorbanan warga. Harus selamanya dibuka untuk warga,” kata mantan kepala desa yang kini menjadi anggota DPRD

KoLiterAksi

Puluhan Siswa SMA Katolik di Manggarai Barat Lolos SNBP, Kepala Sekolah; “Motivasi untuk Guru dan Semua Siswa”

Sebanyak 37 siswa SMA Katolik St. Familia Wae Nakeng tembus kampus negeri ternama

Ajukan Permohonan Uji Materiil UU Pendidikan Tinggi ke MK, Mahasiswa di Surabaya dan Yogyakarta Ungkap Dualisme dalam Sistem Pendidikan Tinggi

Para pemohon menilai pemisahan pengelolaan pendidikan tinggi keagamaan dan pendidikan tinggi nasional menimbulkan berbagai keterbatasan struktural

Mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng Gelar Seminar dan Pameran untuk Dorong Kedaulatan Pangan Lokal

Pemateri berharap anak muda setia pada pangan lokal dan memiliki kesadaran kritis untuk memperjuangkan kedaulatan pangan

Perkuat Solidaritas dan Sikap Kritis, Organisasi Mahasiswa Manggarai Barat di Kupang Kukuhkan Pengurus Baru

“Mahasiswa diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap realitas sosial dan berani menyuarakan keadilan,” kata ketua organisasi

Esai Mahasiswa Lainnya

Beban Ekologis Ganda Ende: Ancaman Vulkanik, Krisis Sampah dan Degradasi Tanah di Kaki Gunung Iya 

Ketiganya membentuk darurat tata ruang yang secara langsung meningkatkan kerentanan kota terhadap potensi erupsi, longsoran, bahkan bencana turunan yang lebih luas

Ketika Labuan Bajo Melesat, Siapa yang Tertinggal?

Masa depan Labuan Bajo tidak ditentukan oleh seberapa megah bangunan yang berdiri, tapi seberapa banyak masyarakat lokal yang masih bisa berdiri tegak di atas tanah mereka sendiri - dengan harga diri yang utuh

Dari Hegemoni Beras ke Keberdayaan Jagung: Dekolonisasi Pangan Ala Timor

Dengan menyadari bahwa sistem pangan tradisional masyarakat Timor belum terputus sepenuhnya, masih ada harapan besar bahwa dekolonisasi pangan dapat terwujud

Mengapa Remaja NTT Rentan terhadap HIV/AIDS?

Krisis HIV di NTT adalah krisis remaja yang selama ini luput dari perhatian serius