Ketika Labuan Bajo Melesat, Siapa yang Tertinggal?

Masa depan Labuan Bajo tidak ditentukan oleh seberapa megah bangunan yang berdiri, tapi seberapa banyak masyarakat lokal yang masih bisa berdiri tegak di atas tanah mereka sendiri - dengan harga diri yang utuh

Foto-foto Labuan Bajo di media sosial selalu tampak memesona: laut biru yang jernih, bukit-bukit hijau yang berjajar, Pelabuhan Marina yang modern. 

Sebagai anak NTT yang tumbuh besar sambil menyaksikan perubahan ini dari dekat, saya tahu pesona itu bukan rekayasa. Labuan Bajo memang indah. Dan ia memang sedang berubah dengan sangat cepat.

Namun, semakin saya memperhatikan apa yang terjadi di balik layar, semakin jelas bahwa ada dua sisi dari pertumbuhan ini. 

Labuan Bajo melaju, tetapi tidak semua orang bisa berlari pada kecepatan yang sama. 

Pertanyaannya kemudian menjadi mendesak: ketika kota ini terus bergerak ke depan, siapa yang benar-benar ikut terangkat dan siapa yang harus membayar harganya?

Ketika Pembangunan Datang Tiba-Tiba

Sejak Labuan Bajo ditetapkan sebagai destinasi pariwisata super premium pada 2019, pembangunan berlangsung seperti air bah. Bandara diperluas, akses transportasi dibenahi, kawasan pesisir ditata ulang. 

Dari luar, semua ini tampak sebagai tanda kemajuan. Namun, bagi banyak warga, ritme perubahan itu terasa tiba-tiba dan tidak mereka minta, namun langsung mengubah kehidupan mereka sehari-hari.

Kelompok yang paling merasakan dampaknya adalah para nelayan. Laut yang selama ini menjadi ruang hidup mereka semakin menyempit. Tempat menambatkan perahu berubah menjadi kawasan marina dan area hotel, memaksa mereka berlayar lebih jauh dengan biaya dan waktu yang lebih besar. 

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kampung Ujung – nadi ekonomi para pedagang ikan lokal – telah direlokasi sejak 2017, setelah lahannya dialihfungsikan untuk pembangunan Pelabuhan Marina dan Hotel Meruorah oleh konsorsium BUMN.

Fenomena ini memiliki nama dalam kajian pembangunan pariwisata: tourism-induced displacement – kondisi di mana masyarakat lokal kehilangan akses atas ruang yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka. 

UNESCO telah lama mengingatkan bahwa pembangunan yang tidak berorientasi pada masyarakat dapat memicu ketimpangan sekaligus menggerus budaya lokal. 

Di Labuan Bajo, peringatan itu tidak lagi terasa abstrak.

Tanah yang Bukan Lagi Milik Mereka

Saat warga sudah terdesak dari ruang hidupnya, kebijakan justru datang memperparah keadaan.

Pada 2022, Bupati Manggarai Barat menetapkan kenaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang membuat harga tanah melambung drastis. Di kawasan Puncak Waringin dan Reklamasi Kampung Ujung, NJOP melonjak dari Rp705.000 menjadi Rp7.455.000 per meter persegi. 

Di Pantai Wae Cicu, angkanya berkisar antara Rp5.900.000 hingga Rp6.490.000. Kawasan lain dipatok antara Rp1 juta hingga Rp4 juta per meter persegi.

Bagi sebagian orang, perubahan ini membawa keuntungan besar. Namun, bagi banyak keluarga – terutama mereka yang hidupnya bergantung pada tanah warisan – lonjakan NJOP bukan berita gembira. 

Mereka menjual lahan bukan karena mau, melainkan karena tidak punya pilihan: tidak mampu membayar pajak, terdesak kebutuhan ekonomi, atau merasa tidak memiliki daya tawar. Tanah yang dulu menjadi ruang tumbuh keluarga berubah menjadi resor atau hotel yang bahkan tidak pernah bisa mereka masuki.

Ada ironi yang sulit diabaikan di sini. Masyarakat yang selama bertahun-tahun menjaga tanah itu justru menjadi kelompok pertama yang terdorong keluar oleh perkembangan yang katanya untuk kemajuan bersama.

Padahal, jauh sebelum Labuan Bajo dikenal dunia, masyarakat lokal sudah memiliki cara mereka sendiri untuk menjaga lingkungan: tradisi mengambil ikan seperlunya, aturan adat tentang laut dan hutan, budaya menghormati alam. 

Kearifan ekologis itu telah terbukti bertahan lintas generasi. Kini, nilai-nilai itu pelan-pelan digeser oleh logika ekonomi yang tidak semua orang mampu ikuti.

Ini bukan sekadar soal kepemilikan tanah. Ini soal identitas. Bagi masyarakat adat di NTT — sebagaimana yang saya pahami dari tumbuh besar di sini – tanah bukan aset yang bisa dijual-beli. Ia adalah ruang hidup yang menyimpan memori, relasi sosial, dan nilai budaya yang tidak ternilai. 

Ketika tanah berubah fungsi dengan cepat, identitas sosial ikut tergerus.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Saya tidak ingin berhenti pada keluhan. Lebih dari itu, saya percaya bahwa kondisi ini bisa diubah – dan kaum muda adalah kunci perubahan itu.

Di lapangan, sudah banyak anak muda Labuan Bajo yang bergerak: membuka homestay, mengorganisir tur alam dan budaya, mengembangkan kerajinan lokal. 

Mereka membawa perspektif yang berbeda – bahwa pariwisata bukan sekadar menjual keindahan alam, melainkan juga menjaga warisan, cerita, dan identitas tempat ini.

Namun, tidak semua anak muda memiliki kesempatan yang sama. Banyak yang terkendala modal, kemampuan digital, atau jaringan pemasaran. Sementara perusahaan besar memiliki sumber daya dan akses promosi yang jauh lebih kuat, usaha kecil lokal sering tersisih sebelum sempat berkembang.

Ketimpangan ini tidak akan bisa dicegah makin melebar tanpa dukungan yang tepat dan keberpihakan yang nyata.

Di sinilah seharusnya pemerintah hadir – bukan sebagai pihak yang mengarahkan dari atas, melainkan sebagai mitra yang menempatkan masyarakat lokal sebagai subjek yang memiliki hak. 

Merekalah yang paling lama merawat wilayah ini. Mereka layak berdiri di pusat, bukan di pinggir, dari setiap keputusan yang menyangkut masa depan tanah mereka.

Langkah-langkah konkret yang mendesak antara lain: pendampingan UMKM agar mampu bersaing di tengah arus investasi besar; penyediaan akses modal skala kecil yang mudah dijangkau warga; pelatihan digital untuk memperluas jangkauan usaha; penguatan peran perempuan dalam ekonomi keluarga; serta perlindungan nyata terhadap hak atas tanah dan ruang adat. 

Hal yang tidak kalah penting adalah pelibatan warga secara bermakna dalam setiap proses perencanaan dan pengambilan keputusan – bukan sekadar konsultasi formalitas.

Pariwisata untuk Siapa?

Keberhasilan pariwisata selama ini diukur dari jumlah wisatawan yang datang dan kemegahan infrastruktur yang berdiri. 

Namun, bagi masyarakat lokal, ukuran keberhasilan itu jauh lebih sederhana sekaligus jauh lebih dalam: apakah kehidupan mereka benar-benar membaik? Apakah mereka masih merasa memiliki tempat ini?

Jika masyarakat mulai merasa asing di tanah sendiri – jika ruang budaya mereka menyusut demi eksklusivitas wisatawan – maka pendekatan yang digunakan perlu dikritisi ulang. 

Pariwisata yang berkelanjutan harus menempatkan masyarakat bukan sebagai pihak yang menerima dampak, melainkan sebagai pemilik narasi yang menentukan arah.

Model ekowisata dan community-based tourism menawarkan jalan tengah yang layak diperjuangkan. Ketika masyarakat lokal yang mengelola, menentukan, dan merasakan langsung manfaatnya, hubungan antara budaya, alam, dan pariwisata bisa menjadi lebih seimbang dan lebih jujur.

Sebagai anak NTT, saya percaya bahwa masa depan Labuan Bajo tidak ditentukan oleh seberapa megah bangunan yang berdiri. Ia ditentukan oleh seberapa banyak masyarakat lokal yang masih bisa berdiri tegak di atas tanah mereka sendiri – dengan harga diri yang utuh.

Jika suatu hari pertanyaan itu kembali diajukan – ketika Labuan Bajo melesat, siapa yang tertinggal? –  saya berharap jawabannya bukan lagi tentang nelayan yang kehilangan laut, atau keluarga yang menjual tanah warisan karena tak sanggup membayar pajak.

Labuan Bajo harus menjadi ruang tumbuh bersama. Tempat di mana modernitas tidak menghapus akar budaya. Tempat di mana kemegahannya tidak hanya terlihat pada lautnya yang biru, tetapi juga pada masyarakatnya yang masih teguh berdiri di atas tanah mereka sendiri.

Agnes Yuniatri Ganggut adalah mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang.

Esai ini meraih Juara II dalam lomba “Suara Kaum Muda untuk NTT” yang diselenggarakan Floresa berkolaborasi dengan WeSpeakUP.org. Lomba yang berlangsung pada November 2025-Januari 2026 ini bertujuan mendorong keterlibatan kaum muda dalam menyampaikan suara kritis terhadap masalah-masalah masalah sosial di NTT.

Editor Floresa mengkurasi esai ini sebelum dipublikasi, tanpa mengubah substansinya.

Artikel Terbaru

Terus ‘Bertaruh Nyawa’ Menyeberangi Kali, Warga Pedalaman Sikka Minta Pemerintah Bangun Jembatan Permanen  

Kepala desa mengaku berkali-kali mengusulkan jembatan itu, namun pemerintah selalu beralasan kekurangan anggaran

Saat Kekuasaan Jadi Alat Penaklukan Korban Kekerasan Seksual

Melawan kekerasan seksual bukan hanya tentang menuntut pelaku, tapi setiap aktor yang memilih diam, yang memilih melindungi pelaku dan menyalahkan korban agar sistem tidak terganggu

Penjelasan Dinas PUPR tentang Proyek Air Minum Dinilai Tak Memadai, Warga Reok Barat Kembali Surati Bupati Manggarai  

“Kami bersepakat untuk menempuh upaya-upaya lain yang bermartabat serta konstitusional agar hak dasar kami atas air bersih dapat terpenuhi,” kata warga

Andrie Yunus, Intelektual Organik yang Mesti Dibela

Luka pada tubuh Andrie adalah luka kolektif - luka terhadap demokrasi, terhadap kebebasan sipil, terhadap setiap warga negara yang percaya bahwa bersuara adalah hak, bukan kejahatan.

KoLiterAksi

Ajukan Permohonan Uji Materiil UU Pendidikan Tinggi ke MK, Mahasiswa di Surabaya dan Yogyakarta Ungkap Dualisme dalam Sistem Pendidikan Tinggi

Para pemohon menilai pemisahan pengelolaan pendidikan tinggi keagamaan dan pendidikan tinggi nasional menimbulkan berbagai keterbatasan struktural

Mahasiswa Unika St. Paulus Ruteng Gelar Seminar dan Pameran untuk Dorong Kedaulatan Pangan Lokal

Pemateri berharap anak muda setia pada pangan lokal dan memiliki kesadaran kritis untuk memperjuangkan kedaulatan pangan

Perkuat Solidaritas dan Sikap Kritis, Organisasi Mahasiswa Manggarai Barat di Kupang Kukuhkan Pengurus Baru

“Mahasiswa diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peka terhadap realitas sosial dan berani menyuarakan keadilan,” kata ketua organisasi

Ukir Prestasi, Pelajar SMPN 3 Wulanggitang Juara Turnamen Voli Putri di Flores Timur

Turnamen ini pertama kali digelar oleh Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Flores Timur

Esai Mahasiswa Lainnya

Dari Hegemoni Beras ke Keberdayaan Jagung: Dekolonisasi Pangan Ala Timor

Dengan menyadari bahwa sistem pangan tradisional masyarakat Timor belum terputus sepenuhnya, masih ada harapan besar bahwa dekolonisasi pangan dapat terwujud

Mengapa Remaja NTT Rentan terhadap HIV/AIDS?

Krisis HIV di NTT adalah krisis remaja yang selama ini luput dari perhatian serius

Labuan Bajo dalam Bayang-Bayang Premiumisasi

Kontradiksi antara kemilau premiumisasi dan marginalisasi warga adalah alarm yang tidak bisa terus diabaikan

Pekerja Anak di NTT: Kemiskinan Struktural, Budaya dan Abainya Negara

Fenomena pekerja anak di NTT adalah cerminan dari kemiskinan yang diwariskan, pendidikan yang tidak merata, budaya yang terdistorsi oleh tekanan ekonomi dan negara yang belum sepenuhnya hadir bagi yang paling rentan