Oleh: Ryan Dagur
Tak lama setelah kami mempublikasikan informasi tentang kepala ayam busuk dan telur pecah yang ditemukan di kantor kami, pesan-pesan dan pernyataan solidaritas mulai berdatangan.
Pesan-pesan itu datang dari pembaca lama yang mengikuti kami sejak tahun-tahun awal, dari jurnalis di kota lain, dari aktivis, mahasiswa, warga di berbagai penjuru Flores dan NTT.
Pesan juga datang dari orang-orang yang bahkan tidak kami kenal sebelumnya, tetapi memilih untuk menyapa dan menyampaikan satu kata yang ternyata bermakna lebih dari yang mereka sadari: bertahan.
Dukungan juga meluas dari berbagai organisasi jurnalis dan media. Beberapa di antaranya adalah Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK), platform Teras.id, yang mencakup 30 media lokal di seluruh Indonesia, hingga dari Committee to Protect Journalists (CPJ), organisasi internasional pembela kebebasan pers yang berbasis di New York.
Kami sungguh berterima kasih — atas setiap pesan, setiap komentar, setiap tanda solidaritas yang dikirimkan kepada kami. Kepedulian itu bukan hal kecil. Ia mengingatkan kami mengapa kerja ini layak untuk diteruskan.
Ini Bukan yang Pertama
Kami perlu meletakkan kejadian terakhir ini dalam konteks yang lebih panjang, karena ia bukan sesuatu yang berdiri sendiri.
Pada Maret 2023, kami menerbitkan laporan tentang pembangunan jalan menuju kawasan Golo Mori — proyek yang disiapkan untuk menyambut ASEAN Summit di Labuan Bajo — yang mengabaikan hak ganti rugi warga.
Segera setelah laporan terbit, beberapa jurnalis kami dihubungi oleh orang-orang yang mengaku sebagai aparat keamanan, yang mempersoalkan isi laporan dan mendesak agar konten itu ditarik.
Bersamaan dengan itu, akun Telegram dan WhatsApp salah satu jurnalis kami diretas. Akun-akun itu baru pulih setelah ASEAN Summit usai. Kami tidak menurunkan laporan itu.
Lalu, pada 2 Oktober 2024, Pemimpin Redaksi kami, Herry Kabut, mendatangi Poco Leok, Kabupaten Manggarai, untuk meliput aksi warga yang menolak perluasan proyek geotermal.
Ia tiba saat situasi sudah relatif tenang. Namun aparat tetap menarik dan mengangkutnya paksa ke dalam mobil polisi bersama sejumlah warga yang ditangkap.
Sebelum dikunci di dalam mobil itu, ia dicekik, dipukul, dan ditendang. Ponsel dan laptopnya dirampas dan isinya diperiksa. Ia baru dibebaskan hampir empat jam kemudian.
Kami melaporkan kasus itu ke Polda NTT pada 11 Oktober 2024. Dewan Pers mendesak agar pelaku mendapat sanksi berat. Namun, proses pidana dihentikan, dengan alasan tidak cukup bukti. Hanya satu kemudian anggota polisi yang menjalani sidang etik dan dinyatakan melakukan pelanggaran. Kami tidak berhenti meliput Poco Leok.
Kemudian, sejak Mei 2026, serangkaian kejadian baru dimulai. Pesan intimidatif dari seseorang yang mengatasnamakan institusi kepolisian — disertai data pribadi sang editor dan tuntutan agar tiga konten tentang film dokumenter Pesta Babi dihapus, dengan ancaman: “proses akan ditingkatkan ke tahap selanjutnya.”
Dan pada pagi 5 Juni, satu kresek berisi tiga kepala ayam yang sudah membusuk, diikat rapi, di depan pintu kantor kami di Labuan Bajo. Di kafe sebelah kantor, lima telur ayam kampung pecah di lantai. Kami, lagi-lagi tidak menghapus satu konten pun.
Tidak Ada Alasan untuk Berhenti
Dalam setiap kejadian itu, kami kembali pada pertanyaan yang sama: apakah liputan kami benar? Apakah ia penting bagi publik? Jawaban kami “Ya.”
Karena itu, kami meyakini tidak punya alasan untuk berhenti. Keputusan semacam ini muncul bukan karena kami tidak merasakan beratnya tekanan itu.
Herry merasakan sakit secara fisik — dicekik, dipukul, ditendang. Kami harus merawat dan membantu pemulihan psikologisnya.
Jurnalis-jurnalis kami merasakan rasa tidak aman ketika data pribadi beredar di tangan orang tak dikenal. Kami semua merasakan kegelisahan ketika pagi hari dimulai dengan bau busuk di depan pintu.
Namun, kami juga tahu apa yang dipertaruhkan jika kami diam dan memilih berhenti.
Ketika Herry meliput Poco Leok, ia sedang berada di sisi warga yang tanahnya terancam oleh proyek yang ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional, mengabaikan aspirasi mereka sebagai pemilik tanah.
Ketika kami melaporkan soal jalan Golo Mori di Labuan Bajo, kami berupaya memberi ruang berbicara bagi warga yang rumahnya dibongkar tanpa ganti rugi, sementara jalan itu dipakai menyambut pemimpin-pemimpin negara dari seluruh Asia Tenggara.
Ketika kami membuka ruang diskusi tentang Pesta Babi, kami sedang menjaga ruang percakapan publik yang dijamin oleh konstitusi.
Jika ada yang keberatan dengan liputan kami, ada jalur resmi yang berlaku: hak jawab, koreksi, mekanisme penyelesaian sengketa pers melalui Dewan Pers.
Kami selalu terbuka untuk itu. Namun, kami tidak akan tunduk pada kepala ayam, ancaman via WhatsApp, atau aparat yang mencekik jurnalis di dalam mobil polisi.
Mengapa Kami Bertahan?
Ada yang bertanya — dengan tulus — bagaimana kami bisa terus melakukan ini? Jawaban yang jujur adalah: tidak mudah.
Floresa adalah media kecil. Tidak ada korporasi besar di belakang kami. Kami tidak mengandalkan iklan dari pihak-pihak yang sewaktu-waktu bisa menarik dukungannya sebagai bentuk hukuman editorial.
Dua belas tahun kami berdiri di atas dua hal: kepercayaan publik, dan dukungan nyata dari pembaca yang percaya bahwa jurnalisme yang serius layak dipertahankan.
Itulah yang membuat setiap pesan dukungan yang masuk punya makna penting bagi kami. Bukan sekadar kata-kata. Ia adalah bagian dari fondasi yang memungkinkan kami tetap ada.
Kami bertahan karena ada warga Poco Leok yang berharap ada yang menceritakan nasib mereka. Karena ada keluarga di Labuan Bajo yang diabaikan dalam proyek jalan yang diresmikan presiden, dan hampir tidak ada yang menulis tentang mereka.
Karena ada orang-orang di berbagai sudut Flores yang kasusnya akan terlupakan jika tidak ada yang meliputnya secara serius dan berkelanjutan. Karena ada para perempuan korban kekerasan seksual yang berjuang sendiri demi mendapat keadilan.
Selama ada alasan seperti itu, kami akan terus bekerja.
Menjaga Kebebasan Pers Adalah Kerja Bersama
Kami juga ingin mengatakan sesuatu yang lebih dari sekadar pernyataan sikap kami.
Pola yang bisa dilihat dari rangkaian kejadian yang menimpa kami — dari intimidasi aparat menjelang ASEAN Summit, kekerasan fisik terhadap pemimpin redaksi kami di Poco Leok, hingga kepala ayam busuk di depan pintu — bukan hanya persoalan keamanan satu redaksi.
Ia adalah gambaran tentang betapa mudahnya kebebasan pers diganggu ketika publik menganggap itu bukan urusannya.
Setiap kali tekanan semacam ini berhasil membuat media berhenti — atau memilih topik yang lebih aman, atau menulis dengan nada yang lebih lunak — yang pertama kali merugi bukan jurnalis atau medianya.
Yang merugi adalah warga yang suaranya kemudian tidak lagi punya saluran. Yang merugi adalah publik yang kehilangan akses pada informasi yang mestinya menjadi haknya.
Iklim di mana media bisa bekerja dengan bebas tidak tumbuh sendiri. Ia dibangun dan dirawat oleh masyarakat — yang membaca dengan sungguh-sungguh, yang menyebarkan laporan yang penting bukan karena viral tetapi karena substansinya, yang mendukung media independen secara nyata termasuk secara finansial, dan yang tidak membiarkan upaya pembungkaman berlalu dalam keheningan.
Ini bukan imbauan untuk membela Floresa secara khusus. Ini adalah pengingat bahwa kebebasan pers adalah milik publik. Dan, ancaman seperti ini bisa terjadi kapan saja, pada media apa saja, di berbagai tempat.
Karena itu, menjaga kebebasan pers adalah tanggung jawab kita bersama — bukan hanya ketika sebuah redaksi diserang, tetapi setiap hari, dalam pilihan-pilihan kecil tentang apa yang kita baca, apa yang kita percaya, dan media seperti apa yang layak kita dukung agar tetap hidup.
Kepada semua yang menyapa kami, sekali lagi, terima kasih. Untuk setiap pesan yang masuk sejak catatan kepala ayam dan telur itu kami terbitkan. Untuk kata-kata yang mungkin Anda kirim tanpa tahu betapa berartinya bagi kami di tengah situasi yang tidak mudah ini.
Terima kasih juga untuk mereka yang membagikan laporan kami, yang mendiskusikannya, yang memilih untuk tidak berdiam diri. Kepedulian itu nyata. Dan kami tidak menganggapnya remeh.
Kami tidak sendirian. Dan karena itu, kami tidak akan berhenti.
Ryan Dagur adalah Pemimpin Umum Floresa
Editor: Anno Susabun


