Floresa.co – Waktu terasa berjalan lebih pelan dan lambat pada 4 Januari. Seolah-olah ingin menetap lebih lama.
Saya merasakan betul bagaimana kebersamaan menjadi begitu berharga. Percakapan mengalir dengan penuh makna.
Hari itu, ruangan di kampus Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’ Yogyakarta yang sering menjadi tempat kegiatan akademik sejenak berubah menjadi ruang budaya, ruang iman dan ruang perjumpaan.
Di kampus dengan tagline ‘Sarjana Rakyat’ itulah, Ikatan Keluarga Manggarai Raya Yogyakarta (IKAMAYA) merayakan Natal dan Tahun Baru bersama. Sekitar 460 warga IKAMAYA membaur tanpa sekat generasi, pangkat dan status sosial.
Sebagai mahasiswa asal Manggarai yang menempuh studi di STPMD ‘APMD’, sekaligus menjadi bagian dari panitia, saya sungguh bahagia serta bersyukur.
Bahagia karena telah menjadi bagian dari mereka yang secara sukarela menyediakan tenaga, waktu dan pikirannya untuk membayar tuntas rindu banyak orang akan perjumpaan.
Bersyukur karena di tengah rutinitas sebagai mahasiswa semester akhir, saya diberi kesempatan untuk jeda sejenak sekaligus merasa ‘pulang.’
Pulang di sini bukan dalam pengertian geografis, melainkan secara emosional, kultural dan spiritual (Sahdan, 2026).
Diawali dengan Perayaan Ekaristi Inkulturasi
Acara dibuka dengan Misa dalam semangat inkulturasi, membuat perayaan iman itu sekaligus menjadi ruang perjumpaan antara iman Kristiani dengan budaya masyarakat Manggarai.
Sebelum Misa, ada penjemputan para imam dengan torok, diiringi ronda.
Torok adalah ungkapan doa secara adat, sementara ronda adalah bagian dari ritual penyambutan sekaligus menyiapkan diri secara batin sebelum sebuah peristiwa penting dimulai.
Seorang teman yang menyampaikan torok saat itu menuturkannya dengan nada pelan dan penuh hormat, seolah mengajak semua yang hadir masuk perlahan ke dalam suasana perayaan.
Misa dipimpin Pater Barnabas Kara, OCD sebagai selebran utama. Dua imam lainnya- Pater Ponsianus Ladung, CMF dan Pater Edilirinimus Agun, SVD- sebagai konselebran.
Lagu-lagu yang dibawakan koor dalam Misa ini sebagian besar menggunakan Bahasa Manggarai, menghidupkan kembali ingatan kami soal ‘bahasa ibu’ yang kian jarang terdengar di tanah rantau.
Bagi saya, Misa inkulturasi semacam ini menjadi penegasan bahwa iman tidak terpisah atau membuat orang beragama tercerabut dari bahasa dan simbol budayanya sendiri, tetapi menjejak kuat pada tanah, ingatan, dan cara hidup.
Iman justru menemukan daya hidupnya ketika berakar pada identitas lokal. Di titik ini, relasi antara Gereja dan budaya menemukan maknanya. Gereja tidak berdiri di luar, apalagi di atas budaya, melainkan berjalan bersama dengannya.
Karena itulah, kekristenan di Flores, termasuk di Manggarai, hanya akan hidup jika berani berdialog jujur dengan kebudayaan lokal sebagai ‘medium iman,’ bukan menempatkannya semata sebagai ornamen liturgi.
Usai Perayaan Ekaristi, suasana menjadi lebih cair dan hangat. Sejumlah atraksi seni seperti musikalisasi puisi, tarian, nyanyian daerah Manggarai dan drama singkat dipentaskan oleh kaum muda.
Kebersamaan semakin lengkap ketika hidangan khas Manggarai disajikan. Lomak (lawar), daeng (ubi kayu) serta makanan-makanan lainnya yang akrab dengan kehidupan orang Manggarai menjadi santapan bersama.
Makanan-makanan itu selain untuk mengisi perut, juga mengingatkan tentang rumah, tentang hidup yang tidak berjarak dengan alam dan tentang kebersamaan dengan keluarga serta sanak saudara di kampung halaman.
Melalui kegiatan ini, sebagaimana disampaikan Pater Ponsi Ladung, CMF kami semua yang hadir “menjumpai kembali suasana, bahasa, budaya, bahkan makanan khas Manggarai di tanah Yogyakarta.”
“Rindu pulang itu tidak selalu harus ditebus dengan tiket perjalanan. Melalui Natal dan Tahun Baru bersama IKAMAYA, rindu itu terbayar,” katanya.
Tema dan Makna Kepanitiaan
Peneguhan rasa pulang itu tercermin pula dalam tema yang dipilih dalam kegiatan tersebut: “Le Ca Ite, Cama Mai Te Naka Cai Mori Agu Kapu Ntaung Weru.” Secara harafiah, artinya adalah “karena kita satu, datanglah untuk ikut bersukacita atas Natal dan Tahun Baru.”
Simon Dusen, ketua panitia acara berkata, tema tersebut merupakan penjabaran dari Tema Natal Nasional 2025, “Allah hadir menyelamatkan keluarga.”
Dalam konteks IKAMAYA, organisasi itu adalah juga sebuah keluarga—tempat orang tua, mahasiswa, pelajar, dan orang muda Manggarai Raya yang tinggal di Yogyakarta bersatu.
Simon menegaskan, panitia Natal dan Tahun Baru IKAMAYA bukan sekadar pelaksana teknis, melainkan “orang-orang yang dipilih” untuk mengkoordinasikan warga IKAMAYA agar dapat mengambil bagian sesuai caranya masing-masing.
Sementara itu, Pater Ponsi menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya kepada para panitia.
Menurutnya, para panitia adalah simbol Gereja yang hidup: bukan bangunan, melainkan orang-orang yang rela menanggalkan ego dan memberi diri demi persekutuan.
“Kerja keras panitia merupakan wujud Allah yang terlibat, sebagaimana tercermin dalam kisah Natal,” katanya.
Jejak Perjalanan IKAMAYA
IKAMAYA telah bertahan bertahun-tahun sebagai wadah bersama keluarga Manggarai di Yogyakarta.
Hendrik Geo yang kini menjadi ketuanya berkata, cikal bakalnya adalah pada komunitas mahasiswa Manggarai.
Ketika ia pertama kali tiba di Yogyakarta pada 14 Januari 1980, katanya, komunitas mahasiswa Manggarai di Yogyakarta sudah ada. Mereka terhimpun dalam satu wadah bernama Ikatan Mahasiswa Manggarai Yogyakarta.
Pada tahun 2000-an, seiring dengan pemekaran wilayah Manggarai menjadi tiga kabupaten (Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat), terjadi perubahan penting.
Kala itu, perayaan Natal bersama di Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada 2014, Ikatan Mahasiswa Manggarai Yogyakarta kemudian berganti nama menjadi IKAMAYA. Kepemimpinan tetap berada di tangan mahasiswa.
Hendrik melanjutkan, perubahan struktural signifikan terjadi pada tahun 2022 saat pertemuan di Wisma Cendana. Saat itu disepakati bahwa orang tua masuk dalam struktur kepengurusan sebagai ketua umum, sementara mahasiswa menjadi ketua pelaksana harian.
Ia menegaskan bahwa warga IKAMAYA mencakup semua lapisan—dari anak-anak hingga orang tua. Komunitas Manggarai lain di Yogyakarta, lanjut dia, diharapkan berada di bawah naungan IKAMAYA sebagai induk atau rumah bersama.

Pater Ponsi menyebut “IKAMAYA adalah keluarga.” Bukan karena berasal dari rahim yang sama, melainkan karena disatukan oleh keserupaan nasib sebagai sesama orang rantau dari Tanah Congkasae—Manggarai.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Harian IKAMAYA Seltus Fridolin Karson memandang IKAMAYA sebagai komunitas budaya.
Ia berharap IKAMAYA menjadi ruang yang nyaman untuk berekspresi dan representasi nyata bagaimana semangat menjaga tradisi tetap hidup di kalangan generasi muda.
Dolin juga menekankan pentingnya partisipasi aktif seluruh anggota.
Menurutnya, kesadaran akan rasa memiliki terhadap IKAMAYA harus terus diperkuat agar organisasi ini bertumbuh secara sehat.
Senada dengan itu, Hendrik Geo berharap seluruh warga IKAMAYA, terutama mahasiswa agar aktif terlibat dalam seluruh kegiatan yang diagendakan pengurus, tidak hanya terlibat dalam kegiatan olahraga, seni dan budaya.
Simon Dusen pun menaruh harapan serupa. Ia ingin kepengurusan IKAMAYA ke depan mampu menghadirkan keseimbangan antara kegiatan seremonial dan kegiatan akademik.
Editor: Ryan Dagur





