Floresa.co – “Waktu adalah senjatamu. Bila kamu kehilangan itu, kamu akan kalah dalam pertempuran,” tulis Khaled Hosseini dalam The Kite Runner.
Novel yang terbit pada 2003 itu menceritakan persahabatan Amir dan Hassan, dua anak laki-laki yang senang bermain layang-layang di selajur gang kecil di Afghanistan.
Keduanya bertumbuh di tengah gejolak politik nasional–termasuk invasi Uni Soviet dan kebangkitan Taliban–yang berujung pada konflik berdarah serta pengungsian etnis.
Serangkaian pergeseran sejarah itu turut memorakporandakan kehidupan individu, mencerai-beraikan komunitas sekaligus meninggalkan trauma berkepanjangan bagi banyak orang, tak terkecuali Amir dan Hassan.
“Dalam serentang waktu yang kelam,” kata Hassan kepada Amir dalam suatu percakapan ketika mereka dewasa, “satu hal yang kita lakukan mungkin sekali menyembuhkan luka seseorang.”
“Soal heroisme, biarlah orang lain yang klaim. Aku tidak tertarik,” tambahnya.
Kerja Lebih Intens
Waktu seakan berdetak lebih cepat di tengah-tengah perjuangan membela demokrasi belakangan ini di sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam sepekan pertama gelombang demonstrasi yang bermula pada akhir Agustus, sejumlah pekerja organisasi masyarakat sipil mesti menyiasati waktu di tengah serangkaian unjuk rasa dalam sehari.
Komunitas dampingan mereka dapat mengikuti dua demonstrasi yang berselisih hanya beberapa jam di titik berkumpul yang terpaut 8-9 kilometer.
Sejumlah sif lalu diberlakukan dalam gelombang unjuk rasa; bentuk pemastian presensi pekerja organisasi masyarakat sipil, tak hanya bagi komunitas dampingan, melainkan juga memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk menyuarakan hak-hak dalam demokrasi.
Pada separuh bulan terakhir, kerja-kerja mereka menjadi lebih intens merespons serangkaian penangkapan, penahanan dan penghilangan paksa para pejuang prodemokrasi.
Hingga 12 September, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Pidana Kekerasan (KontraS) menerima total 44 laporan orang hilang terkait rangkaian demonstrasi semenjak akhir Agustus.
Dari jumlah tersebut, 33 orang diklasifikasikan sebagai korban penghilangan paksa oleh negara.
Tiga di antaranya di Jakarta–Bima Permana Putra, M. Farhan Hamid dan Reno Syahputrodewo–yang masih dinyatakan hilang hingga 14 September.
Penghilangan paksa mengacu pada definisi yang termaktub dalam setidaknya dua konvensi internasional, yakni Perlindungan Semua Orang dari Penghilangan Paksa atau International Convention for the Protection of All Persons from Enforced Disappearance (ICPPED) dan Statuta Roma yang belum diratifikasi pemerintah.
Bergema Lintas Generasi
Lawatan ke Polda Metro Jaya dan Polres di sekitar Jakarta tak lagi sebatas bagian dari pekerjaan.
Kunjungan itu mengejawantah solidaritas bagi mereka yang ditahan, termasuk empat aktivis prodemokrasi-Delpedro Marhaen, Muzaffar Salim, Syahdan Hussein dan Khariq Anhar.
Delpedro yang merupakan Direktur Eksekutif Lokataru ditetapkan sebagai tersangka pada 2 September usai dituduh menyebar hasutan yang menimbulkan kerusuhan dengan melibatkan anak.
Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya menyatakan penangkapan berikut penahanan terhadap keempatnya “penuh kejanggalan dan cacat hukum.”
Secara garis besar, konstruksi pasal yang dikenakan terhadap keempat aktivis itu “menjelaskan soal penghasutan.”
Namun “bukti yang dipermasalahkan hanya unggahan berupa ajakan melaporkan aduan terkait kekerasan aparat.”
Sementara akademisi sekaligus pakar hukum tata negara, Bivitri Susanti menyayangkan kritik terhadap pemerintah justru dibalas dengan penangkapan sejumlah aktivis.
Ia menegaskan kerja-kerja keempat aktivis itu tak ada kaitannya dengan tuduhan terorisme, makar maupun penghasutan.
“Ini adalah bentuk pembungkaman suara kritis,” katanya.
Seraya mengingatkan setiap orang berhak memiliki pikiran yang merdeka, Bivitri “mengajak semua yang masih punya kompas moral untuk melawan narasi yang sedang ditimpakan pada kita.”
Dimas dan Bivitri turut menjenguk para aktivis yang ditahan di Polda. Di sana mereka bertemu sesama pekerja organisasi masyarakat sipil, periset dan keluarga mereka yang ditahan.
Mereka saling berpelukan; tua dan muda; pekerja dan mahasiswa; aktivis dan jurnalis.
Kehadiran mereka di Polda menggambarkan rasa kemanusiaan yang bergema lintas generasi.
Ia terkadang berupa pelukan tanpa suara atau kata-kata yang menguatkan.

Harus Dilakukan Supaya Tidak Kalah
Selagi organisasi mayarakat sipil mendampingi warga yang hilang, dihilang paksa dan ditahan, muncul kabar perombakan kabinet (reshuffle) dari Istana Negara. Lima menteri diganti.
Meski sempat diprediksi sejumlah organisasi masyarakat sipil, tetapi diskusi tentangnya teralihkan selama terjadi gelombang demonstrasi.
Reshuffle membuat organisasi masyarakat sipil kian mengebut bekerja. Di atas meja-meja pertemuan–yang bisa di mana saja, termasuk warung makan–laptop menyala bersisian dengan berlembar-lembar kertas.
Para periset menyusun kertas posisi selagi koalisi mengikuti rapat dengar pendapat dengan DPR.
Pernyataan sikap kembali dirumuskan, setelah sebelumnya dirancang di tengah gelombang demonstrasi.
Komunikasi kian aktif dengan para jurnalis demian memastikan mereka menyerap semua informasi dengan jelas sebelum berita disebarluaskan ke publik.
“Ibarat jantungan mengerjakan ini semua dalam sehari,” kata seorang peneliti, “tapi harus dilakukan supaya kita tidak kalah.”
Ia baru pulang selepas jam 12 malam hingga tiga hari pascaperombakan Kabinet Merah Putih. Beberapa rencana perjalanan bekerja ke luar Pulau Jawa akhirnya diserahkan ke seorang rekan.
Meski seakan sedang berpacu dengan waktu menghadapi rentetan kejadian di Jakarta, “warga di tempat lain yang juga diabaikan negara tak boleh ditinggalkan.”
“Mereka (warga yang diabaikan negara) menunggu kami,” katanya soal meminta seorang rekan berangkat ke luar Pulau Jawa, “maka siapapun dari kami harus hadir bersama mereka.”
Selalu Ada Waktu
Di selatan Jakarta, seorang pejuang hak asasi manusia bercerita pengalaman serupa.
Belakangan ini ia tidur nyaris hanya dua sampai tiga jam sehari karena kerja-kerja pendampingan yang semakin intens.
Ia sempat menunjukkan gambar desain tato yang akan ia lekatkan pada lengan kirinya. Sekilas mirip untaian daun-daun kecil.
“Ini phoenix,” katanya. Dalam mitologi Yunani dan Romawi, phoenix menyimbolkan resiliensi dan kekuatan baru selepas suatu kehancuran.
Suatu kata tertulis di sisi kiri gambar itu: “rise,” yang berarti bangkit dalam Bahasa Indonesia/
Di sela-sela hujan yang tak kunjung berhenti, ia mengakui belakangan ini banyak kehilangan waktu untuk diri sendiri.
Namun, baginya itu bukan suatu masalah. “Satu yang pasti, kita tak boleh kehilangan waktu untuk warga yang ditindas.”
“Warga adalah prioritas, selalu ada waktu saya untuk sesama warga.”
Kalimatnya mengingatkan akan Hassan yang berlari kecil di gang sempit Afghanistan. Ia selalu lekas berlari mencari layang-layang Amir yang tersangkut entah di mana.
Sesekali ia menoleh ke belakang, berkata ke arah Amir yang cemas layang-layangnya tak akan ditemukan: “For you, a thousand times over.”
Semua nama narasumber yang pengalamannya diceritakan kembali dalam tulisan ini disamarkan atas alasan keamanan dirinya dan warga yang didampingi di tengah-tengah penangkapan, penahanan dan penghilangan paksa para pejuang prodemokrasi
Editor: Ryan Dagur





