Judul Cerpen: Kapten Hanya Ingin ke Dili; Karya: Felix K. Nesi. Jumlah halaman: 3 (dalam buku “Kapten Hanya Ingin ke Dili: Kumpulan Cerita”); Penerbit: Marjin Kiri; Tahun Terbit: 2023.
_______________
Ain Iba, seorang perempuan Timor, menolak melihat tanah kelahirannya terus menjadi alat bagi bangsa asing: “Hidup kita akan lebih baik tanpa Belanda,” katanya dalam salah satu penggalan dialog cepen “Kapten Hanya Ingin ke Dili” karya Felix K. Nesi. “Seperti truk, kita hanya alat bagi mereka. Kita bekerja siang dan malam, tetapi keuntungan mereka yang berkali lipat.”
Amarah itu kemudian meledak di meja makan.
Ceritanya bermula saat Firmus, sopir keluarganya dicegat di jalan oleh beberapa tentara Australia di bawah pimpinan Kapten William Leggatt yang tengah mundur ke Dili saat Timor diserang Jepang.
Firmus sebetulnya tengah dalam perjalanan ratusan kilometer ke arah Kupang. Truknya membawa sopi dan cendana untuk pejabat Belanda. Ia diutus suami Ain Iba, Am Kolo- seorang kepala keluarga, pengusaha cendana, sekaligus mantan anggota KNIL, Tentara Kerajaan Hindia Belanda.
Namun, Firmus dan tiga kondekturnya ditodong senjata dan dipaksa membawa para tentara itu ke Dili. Di tengah jalan, ia mengajak mereka ke rumah Am Kolo di Kefamenanu untuk istirahat. Mereka disambut ramah, berpesta, dijamu sopi dan daging babi.
Jamuan itu berujung tragedi: ketika para tamu mabuk, Ain Iba meminta Firmus memanggil Sanlain, Meni dan Neno. Setelahnya, ia mengambil kelewang dan menghabisi mereka. “Anjing-anjing ini membuang kayu-kayu cendana dan memaksa saya untuk bersimpati pada perang mereka,” katanya.
Pada akhirnya, Felix menutup kisah dengan kalimat penuh satire: “Kapten tak akan pernah tiba ke Dili.”
Dalam artikel ini, saya menganalisis cerpen Felix dengan perspektif dekolonisasi, khususnya melalui kerangka Frantz Fanon, filsuf yang karya-karyanya berpengaruh dalam bidang studi pascakolonial.
Fanon menekankan bahwa kolonialisme tidak hanya membangun dominasi politik dan ekonomi, tetapi juga hegemoni budaya, penciptaan identitas dan figurasi kepahlawanan. Dari titik itu, cerpen Felix dapat dibaca sebagai upaya membongkar narasi hegemonik tentang siapa yang pantas disebut pahlawan.
Konteks Historis
Kapten Hanya Ingin ke Dili berangkat dari fragmen kecil sejarah berdarah di Timor pada masa Perang Dunia II, khususnya periode Pertempuran Timor 1942–1943. Pada masa itu, Timor secara politik terbagi dua: bagian barat dikuasai Belanda (pusat di Kupang) dan bagian timur dikuasai Portugis (pusat di Dili).
Ketika Jepang menyerang Pearl Harbor pada Desember 1941, Australia dan Belanda segera mengirimkan pasukan untuk mempertahankan Timor dari potensi invasi Jepang. Pasukan Australia Sparrow Force mendarat di Kupang pada 12 Desember 1941 dengan sekitar 1.400 prajurit.
Namun, ketika Jepang benar-benar menyerang, kedudukan Sekutu goyah. Pada akhir 1942 hingga awal 1943, sebagian besar pasukan Australia dievakuasi, meninggalkan rakyat Timor yang kemudian menghadapi kerasnya pembalasan Jepang. Invasi Jepang membunuh 151 tentara Australia, 300-an tentara Belanda, 75 tentara Portugal dan 4.000 tentara Jepang.
Dampak perang ini sangat parah bagi penduduk lokal. Jika kerugian di pihak Sekutu dan Jepang hanya ribuan, korban di kalangan sipil Timor diperkirakan mencapai 45.000–70.000 jiwa, meskipun catatan lain menyebut 100.000 jiwa. Ain Iba, Am Kolo, dan semua pengikutnya ikut ditangkap pemerintah Jepang pada April 1943.
James Dunn, mantan konsul Australia di Dili, menyebut “Timor Timur adalah salah satu bencana besar dalam Perang Dunia II dalam hal jumlah korban jiwa.”
Konteks inilah yang menjadi panggung cerita Felix. Ia tidak sekadar menghadirkan kisah perang, tetapi juga menyingkap bagaimana rakyat lokal berada dalam posisi terjepit: dijadikan alat oleh Belanda, diperas oleh Jepang dan dipaksa berkorban demi kepentingan Australia.
Tokoh Am Kolo menarik karena ia mantan tentara KNIL yang masih bergantung pada Belanda. Baginya, “jika Belanda kalah perang, habislah masa depan kita.” Kekalahan Belanda berarti ancaman bagi usaha, keluarga dan masa depan. Namun, ia diam-diam mendukung istrinya. Dalam istilah Homi K. Bhabha, ia berada pada posisi mimicry — meniru struktur kolonial tapi tidak sepenuhnya setia, sehingga pada akhirnya justru subversif.
Sementara Firmus, sang sopir, adalah representasi ambiguitas lokal: ikut menopang sistem kolonial tapi juga terseret ke dalam perlawanan. Meskipun mengamini kata-kata Am Kolo bahwa bisnisnya bergantung ke Belanda, ia setuju pada posisi Ain Iba. Relasi kuasa kolonial, dengan demikian, bukan sekadar oposisi hitam-putih, tetapi penuh keretakan dan keragu-raguan.
Namun, melalui potongan sejarah berdarah Timor ini, Felix membalik mitos tentang kepahlawanan perang. Ia menghadirkan satire: keramahan berubah menjadi jebakan, kekuatan militer runtuh di tangan perempuan, dan “tamu agung” justru menjadi korban jamuan. Yang megah dan heroik dibongkar hingga tampak rapuh dan penuh kepalsuan.
Membunuh Mitos Tentang Pahlawan
Sejak kecil, kita tumbuh dengan cerita kepahlawanan yang dibumbui mitos: tokoh heroik yang gagah berani, pantang menyerah, seakan suci dari cela. Lawannya digambarkan bengis total, tak manusiawi.
Dalam pola ini, nilai luhur dan kekuatan hanya diasosiasikan pada sosok tertentu, sementara rakyat kebanyakan ditempatkan sebagai lemah, tertinggal, bahkan tak tahu apa-apa.
Felix justru membalik mitos ini. Ia menghadirkan cerita di mana rakyat kecil, yang biasanya ditempatkan sebagai korban, tampil sebagai pengambil keputusan paling radikal. Mitos kepahlawanan kolonial — bahwa tentara Sekutu datang sebagai penyelamat saat invasi Jepang— runtuh di tangan seorang perempuan Timor.
Felix menyingkap logika mitos soal perempuan yang dianggap “tidak tahu apa-apa tentang perang.” Ia menunjukkan perlawanan itu lewat kata-kata Ain Iba: “Kalian bangsa asing, datang dan berperang di tanah orang.” Dan logika itu runtuh dalam satu malam — ketika Ain Iba mengambil kelewang.
Dalam teori Frantz Fanon, dekolonisasi tidak hanya hadir sebagai momen politik formal, melainkan juga kekerasan nyata yang muncul sebagai respons terhadap kekerasan kolonial. Ain Iba merepresentasikan hal ini. Ia menolak tunduk pada narasi heroik kolonial dan memilih jalan kekerasan sebagai bentuk klaim atas kedaulatannya sendiri.
Tindakannya juga menyingkap dimensi epistemik dekolonisasi: upaya membongkar logika perang yang dibawa bangsa asing. Ain Iba mempertanyakan secara langsung: mengapa orang Timor harus menanggung beban perang yang bukan milik mereka?
Felix juga menulis motif serupa dalam cerpen lain, “Mene”, tentang gadis pengiris tuak yang mampu membunuh “dewa berkulit putih”. Di tengah masyarakat yang menganggap orang kulit putih tak bisa mati, perlawanan perempuan lokal menjadi titik balik.
Mene dan Ain Iba bisa dibaca sebagai anti-hero — tokoh yang tak sempurna, bahkan brutal, tetapi justru itulah yang membuat mereka meruntuhkan mitos kepahlawanan kolonial. Mereka hadir untuk menantang narasi dominan tentang siapa sebenarnya “pahlawan”.
Membongkar Luka di Balik Narasi Eksotisme Timur
Cerpen ini juga membuka refleksi tentang konsep “timur” dalam imajinasi Indonesia: pantai perawan, budaya yang unik, senyum orang lokal yang ramah. Narasi eksotis ini menjadi semacam obat penenang. Padahal, di baliknya tersembunyi luka panjang: perang, represi, dan kehilangan yang dibiarkan tanpa penyembuhan. Namun, nyaris tak ada narasi tentang perlawanan di timur dalam catatan sejarah, pada buku-buku pelajaran sekolah.
Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Asumsi ketika novelnya Orang-Orang Oetimu memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta, Felix pernah berujar: “Dalam pelajaran sejarah itu, saya cuma kenal Pangeran Diponegoro dan pahlawan-pahlawan lain. Terus kami di mana? Macam tidak bisa buat apa-apa, mungkin karena Indonesia yang terlalu luas.”
Melalui Kapten Hanya Ingin ke Dili, ia mencoba menjawab pertanyaan itu dengan cara khasnya: realisme magis. Ia menciptakan absurditas-melalui tangan seorang perempuan.
Dengan cara itu ia menegaskan kenyataan yang lebih kelam: luka kolektif masyarakat di timur Indonesia, seperti Timor, tidak pernah sungguh-sungguh dibicarakan, apalagi diakui. Absurd justru menjadi cara untuk mengungkap realitas yang selama ini ditutup rapat. Bagi Felix, luka tidak bisa ditutup dengan citra manis; luka harus diakui, dibicarakan, dihadapi.
Gagasan ini selaras dengan analisis Antonio Barbedo de Magalhães dalam artikelnya East Timor: A People Shattered By Lies and Silence. Ia menyebut pendudukan Timor Timur sebagai salah satu genosida terbesar abad ke-20, dengan korban hingga 40% populasi. Lebih jauh, ia menyingkap adanya konspirasi internasional—Amerika Serikat, Australia, Inggris, Jepang, bahkan Vatikan—yang menopang pendudukan Indonesia demi kepentingan strategis dan ekonomi. Tragedi itu makin pekat karena ditutupi oleh media internasional dan lembaga kemanusiaan. Kebisuan global ikut melanggengkan kekerasan.
Felix, dengan caranya sendiri, melakukan apa yang gagal dilakukan negara dan dunia internasional: memberi suara pada yang bisu, memberi wajah pada yang hilang, memberi cerita pada yang sengaja dilupakan. Ceritanya kasar, pahit, bahkan penuh darah. Tetapi, seperti kata Barbedo, cerita itu memang harus diceritakan.
Ia menolak kosmetik eksotisme timur yang sering kita rayakan, mengingatkan bahwa ada sesuatu yang bobrok: bukan hanya luka yang tidak sembuh, melainkan luka yang bahkan tidak pernah dianggap ada. Ia ingin menghadirkan bagaimana timur juga hadir dalam sejarah, namun digilas tanpa pernah tercatat.
Felix mengajak kita menyingkap yang kecil di balik yang agung: hati yang patah di balik politik stabilitas, nyawa yang hilang di balik mitos penyelamatan dan tubuh konkret manusia di balik konsep-konsep abstrak tentang bangsa.
Editor: Ryan Dagur