Camat itu mengeluarkan surat yang membatasi warga menyatakan sikap, langkah yang dicap warga sebagai bentuk kesewenang-wenangan dan taktik meloloskan proyek.
Bagi Mayora, kejujuran adalah hal paling mahal — termasuk mengakui diri memiliki orientasi seksual berbeda di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya siap memahami identitasnya.
Pesan itu datang tiba-tiba ke ponsel salah satu jurnalis Floresa—mengatasnamakan institusi keamanan, menyertakan data pribadi, dan menuntut agar sejumlah konten dihapus. Ancaman itu ditutup dengan kalimat “proses akan ditingkatkan ke tahap selanjutnya” jika permintaan tak ditaati.
Rumah mereka dirobohkan, kakek mereka dipenjara, dan sekolah terhenti. Bagi anak-anak Nangahale, konflik agraria hadir dalam puing rumah, larangan memetik kelapa, serta perjalanan rutin ke rutan. Nama anak-anak dalam laporan ini disamarkan untuk melindungi mereka.
Warga Nangahale berdoa bagi keluarga mereka yang dipidana oleh korporasi Gereja Katolik dalam konflik agraria yang menguji batas kesetiaan mereka dengan Tuhan dan luka mereka terhadap institusi Gereja.
Warga terdampak gempa Flores di Manggarai Barat mempertanyakan verifikasi kerusakan rumah yang menentukan bentuk dan nilai bantuan. Sebagian tak mengetahui adanya masa sanggah, sementara pemerintah menyatakan data akhir tak dapat ditinjau kembali.