Warga Rote yang Dijerat UU ITE: Pantai dan Ombak Milik Generasi Mendatang, Bukan Segelintir Orang Berduit

Menyatakan tidak antiinvestasi, Erasmus Frans Mandato menyayangkan satu unggahan protes via Facebook dijawab dengan kriminalisasi

Floresa.co – Erasmus Frans Mandato masih kanak-kanak kala kakeknya berulang kali memberitahunya bahwa “ombak bisa berubah menjadi emas.” Erasmus kecil berpikir ombak sungguh-sungguh dapat berganti wujud.

Ia baru mengetahui maknanya saat mulai belajar berselancar (surfing) di Nemberala, pantai sebelah barat Pulau Rote yang mempertemukan gelombang Laut Sawu dan Samudra Hindia.

“Selancar mengajarkan saya akan beratnya perjuangan, resiliensi sekaligus rasa sayang terhadap alam,” kata lelaki 47 tahun itu.

Erasmus sedang menanti pelimpahan berkas dari jaksa ke Pengadilan Negeri Rote Ndao setelah gugatan praperadilannya ditolak pada 29 September. Praperadilan itu mempersoalkan dugaan cacat prosedur hukum Polres Rote Ndao sejak menetapkannya sebagai tersangka pada 30 Agustus.

Ia dijerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU ITE atas protes yang diunggah lewat Facebook pada Januari.

Dalam unggahan bertajuk “Akal & Akhlak Sehat Vs Akal-akalan” itu, Erasmus memprotes penutupan akses publik ke Pantai Bo’a. Protes terutama ditujukan ke pemerintah daerah dan PT Bo’a Development, korporasi yang membangun hotel di pantai tersebut.

Sejumlah aktivis lingkungan mengkritik langkah polisi yang terus-terusan menggunakan UU ITE bermasalah guna menjerat pembela lingkungan.

Selain itu menurut putusan terbaru Mahkamah Konstitusi pada 28 Agustus, keberadaan Erasmus sebagai pembela lingkungan mestinya tak boleh dipidana.

“Apa yang saya perjuangkan ini bukan untuk saya, melainkan untuk generasi mendatang,” kata Erasmus.

Berikut petikan wawancara Erasmus pada 5 Oktober dengan Anastasia Ika soal pengalaman kedekatannya dengan laut dan responsnya terhadap kasus yang kini menimpanya.

Apa yang Anda ingat soal pesisir Pulau Rote ketika masih kanak-kanak?

Saya lahir pada 1978 di Nemberala. Masa kanak-kanak saya sarat dengan suara deburan ombak, teriakan anak-anak yang bermain di pantai serta embusan dua angin monsun yang mengajarkan saya akan peralihan musim.

Saya mengerti bulan-bulan ini saatnya musim monsun barat. Angin bertiup lebih lembut. Laut teduh. Kapal yang berlayar antarpulau di NTT akan jarang menghadapi gelombang tinggi.

Inilah musim yang baik untuk berselancar.

Suatu kali kakek saya bercerita tentang seorang laki-laki asal Australia. Entah ia menumpang kapal atau pesawat terbang dari negaranya. Kakek tidak mengisahkan bagian itu.

Yang pasti seseorang dari Australia itu tiba di Kupang, Pulau Timor. Dari situ ia naik kapal kayu menuju Ba’a. (Kini Ba’a berstatus ibu kota Rote Ndao, kabupaten yang terbentuk pada 2002).

Dulu belum ada kendaraan bermotor di Ba’a, apalagi tempat-tempat yang lebih terpelosok di Pulau Rote. Pilihannya menunggang kuda atau berjalan kaki. Orang Australia itu memutuskan menunggang kuda, menyusuri pesisir Rote.

Ia akhirnya sampai di Nemberala. Selagi kudanya beristirahat, bermenit-menit ia menatap ombak yang bergulung dari Samudra Hindia sebelum tiba pada kesimpulan: gelombangnya konsisten, baik untuk berselancar.

Seorang dari Australia itu menandai orang pertama yang surfing di Nemberala.

“Inilah yang disebut ombak bisa berubah menjadi emas,” kata tak hanya kakek saya, juga sesepuh lain yang mengisahkan kisah serupa ke teman-teman sepantaran saya.

Saya tidak bertanya artinya. Kelak, ketika mulai belajar berselancar, saya baru memahami makna ujar-ujar itu.

Rupanya “ombak bisa berubah jadi emas” itu mengisyaratkan beratnya perjuangan sekaligus keteguhan hati yang, pada penghujung hari, akan berbuah baik.

Kapan Anda mulai berselancar? Adakah yang mengajari atau otodidak? Dari pelbagai pilihan olahraga lain, kenapa memilih selancar?

Untuk ukuran anak muda Nemberala, saya terbilang terlambat belajar berselancar. Saya menghabiskan masa bersekolah di Kupang. Baru betul-betul kembali ke Rote ketika berumur sekitar 25 tahun. Saat itulah saya mulai berselancar.

Tak ada yang secara resmi mengajari. Otodidak saja. Saya belajar menggunakan papan selancar kecil yang ditinggalkan turis.

Sebagian besar anak muda Nemberala senang bermain sepak bola, selain berenang tentu saja. Tetapi surfing punya tempat tersendiri di hati kami.

Kami punya ombak yang tak pernah habis di pekarangan. Gulungan ombak itu seolah memanggil kami, mengajak bermain dan berolahraga. Dengan senang hati kami menyahutnya.

Erasmus Frans Mandato sedang berselancar di Nemberala, pantai sebelah barat Pulau Rote. (Dokumentasi pribadi)

Bagaimana Anda memperkenalkan “surfing” ke anak-anak muda Nemberala, dan akhirnya ke tempat yang lebih luas?

Kami kerap memperkenalkan surfing ke anak-anak “Senin dan Kamis.” (Istilah ini kerap dipakai untuk anak-anak yang hanya sehari atau dua hari dalam sepekan mau pergi bersekolah).

Saya bilang ke mereka, “Kita ke tengah laut. Bermain sama ombak dan bercerita tentang apa saja. Tetapi nanti, sepulang dari laut, kalian kembali bersekolah, ya?”

Secara khusus saya mendorong mereka menekuni pelajaran bahasa Inggris di sekolah. Saya katakan ke anak-anak itu: “Kalau kalian fasih berbahasa Inggris, kelak tidak sungkan berkomunikasi dengan orang-orang luar dan buka usaha kecil di pantai.”

Demikianlah. Maka saya mengajak mereka surfing, membiarkan mereka menyatu dengan ombak serta pulang berbekal janji: esok akan tekun bersekolah dan belajar bahasa Inggris.

Melihat minat dan talenta anak-anak muda Nemberala akan surfing, saya dan beberapa teman lalu mendirikan Nemberala Bo’a Surfing Community pada 2008. Tiga tahun kemudian kami mendirikan Rote Island Surfing Club.

Saya menjadi Ketua Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) Provinsi Nusa Tenggara Timur. Momen itu saya gunakan untuk memperbanyak pelatihan bagi atlet muda lokal sekaligus menggalang dukungan bagi penyelenggaraan event surfing internasional yang bermanfaat bagi warga pesisir Pulau Rote.

Bersama teman-teman, saya juga mendorong keterlibatan NTT dalam eksibisi surfing yang merupakan bagian dari Pekan Olahraga Nasional 2020 di Papua.

Apakah latar belakang itu pula yang mendorong Anda maju sebagai calon legislatif sebelum terpilih untuk dua periode?

Saya menjadi anggota DPRD Rote Ndao selama dua periode, pada 2014-2018 dan 2019-2024. Keluarga besar saya tidak punya latar belakang politisi. Ayah dan ibu saya berdagang di pasar setempat.

Saat itu saya maju karena dorongan dari masyarakat. Mereka meminta saya nyaleg karena mulai merasakan kesenjangan dan ketidakadilan, baik terhadap komunitas maupun ekosistem pesisir di Pulau Rote.

Waktu itu saya berpikir cukup lama sebelum memutuskan maju. Saya memutuskan nyaleg ketika batin saya sampai pada jawaban: “Warga percaya pada saya. Maka saya harus menjaga kepercayaan itu.”

Saya tak punya angan fantastis selama menjabat anggota DPRD. Hanya berusaha mendorong intervensi anggaran untuk memotivasi peselancar lokal, mengaktifkan pelatihan wisata selam dan menciptakan olahraga yang memberdayakan.

Sejauh yang Anda ingat, sejak kapan turis asing meramaikan pesisir Rote karena olahraga lautnya? Pantai mana saja yang menjadi tujuan mereka? Bagaimana kedatangan turis asing itu berkontribusi pada penghidupan warga setempat?

Tamu dari luar negeri mulai berdatangan pada akhir 1980-an. Mereka menginap di rumah warga. Ada yang beratap rumbia, didominasi struktur batu maupun seng.

Selain Nemberala, turis juga mengunjungi Pantai Bo’a. Di Pantai Bo’a, turis mendapat penglihatan lebih lapang akan para peselancar yang tengah mengejar gulungan ombak Samudra Hindia. Pantai Bo’a itu ibarat venue-nya.

Jajaran homestay mulai dibuka di Pantai Bo’a pada 1994. Pembukaan itu seiring pertambahan kunjungan wisatawan asing. Investor asing mulai masuk ke Pantai Bo’a. Mereka lalu bekerja sama dengan warga yang memiliki tanah di sekitar pantai lewat skema kontrak lahan.

Selain menghindarkan dari praktik penguasaan sumber daya alam yang melampaui batas, cara itu memberikan banyak manfaat bagi warga setempat.

Pertama, kepemilikan lahan mereka tidak hilang. Kedua, warga dapat belajar soal tata kelola. Ketiga, pengetahuan lokal tetap terjaga. Keempat, terjadi persilangan budaya yang memungkinkan orang tua terdorong menyekolahkan anak ke sekolah khusus wisata. Kelima, mendorong anak-anak muda tak berpikir akan mentok jadi pekerja, melainkan turut menciptakan peluang kerja bagi warga setempat.

Apakah praktik kerja sama itu masih berlangsung hingga hari ini di Pantai Bo’a?

Tidak.

Nemberala kini ibarat berjalan dalam mode autopilot. Tidak ada intervensi pemerintah daerah guna membatasi investasi asing. Mereka beramai-ramai membeli lahan dengan harga murah, bukannya mengontrak seperti praktik terdahulu. Masyarakat kehilangan aset.

Pembelian besar-besaran lahan akhirnya menimbulkan disparitas dan perubahan nilai hidup. Kesenjangan itu coba kami jawab dengan mengedukasi warga soal pentingnya mempertahankan aset demi generasi mendatang. Namun, jalannya juga tidak mudah.

Satu-persatu warga menjual lahan lantaran melihat tetangga kanan dan kiri bisa membeli ini-itu sesudah melepas tanah ke investor asing.

Warga pesisir akhirnya hanya dijadikan objek. Praktik semacam ini lamat-lamat mereduksi kekuatan usaha kecil menengah yang bertahun-tahun dibangun bersama di pesisir Pulau Rote.

Saya sama sekali tak punya lahan di sekitar Pantai Bo’a. Saya juga bukan orang yang antiinvestasi. Namun, ketika investasi itu tidak bermanfaat untuk warga setempat dan malah menimbulkan ketidakadilan, saya tidak bisa diam saja.

Itulah yang salah satunya hendak saya kritik lewat unggahan Facebook pada Januari.

Satu unggahan dan karenanya Anda dijerat UU ITE. Apakah Anda pernah membayangkan akan seperti ini?

Saya dilaporkan oleh Samsul Bahri, yang dalam berita kepolisian dinyatakan sebagai bagian dari manajemen PT Bo’a Development.

Pelaporan tersebut tidak pernah saya bayangkan, tetapi pada saat yang sama menunjukkan bagaimana pemerintah dan aparat penegak hukum turut melindungi kapitalis. Hanya satu kritik, dan itu dijawab dengan kriminalisasi.

Saya termasuk orang yang apatis dalam era pascareformasi. Demokrasi hanya jadi pesta coblos dalam bilik suara. Yang terjadi kemudian ialah oligarki dengan mudahnya menjebloskan warga pencari keadilan.

Saya mendorong aparat penegak hukum dapat terang benderang mengusut kasus saya. Kita semua sejajar di mata hukum. Ia bukan milik “orang berkantong.”

Apa nilai-nilai perjuangan yang Anda pegang hingga hari ini?

Perjuangan, sekecil apapun bentuknya, bukan untuk saya.

Protes yang saya unggah adalah untuk generasi mendatang yang hak-haknya telah mereka ambil. Mereka privatisasi pantai, yang secara otomatis memprivatisasi ombak.

Pantai dan ombak bukan milik segelintir orang berduit. Pantai dan ombak merupakan bagian dari hak-hak generasi mendatang akan lingkungan yang baik dan sehat.

Jangan lagi ambil hak generasi mendatang. Mereka berhak bertumbuh bersama pantai dan ombak yang selamanya milik publik.

Editor: Ryan Dagur

Dukung kami untuk terus melayani kepentingan publik, sambil tetap mempertahankan independensi. Klik di sini untuk salurkan dukungan!
Atau pindai kode QR di samping

BACA JUGA

spot_img