Jika kehormatan terus-menerus dibayar dengan darah, bukankah yang sedang kita wariskan kepada anak cucu bukan kemuliaan, melainkan lingkaran kekerasan yang tak pernah usai?
Lagu “Awas Dong Dengar” tidak sedang menghakimi siapa pun. Ia hanya menunjukkan kecenderungan yang sering kita abaikan: kita lebih takut dinilai orang lain daripada kehilangan kualitas hubungan kita sendiri