Membaca Bahasa Visual dan Simbol dalam “Pesta Babi” 

Alam Papua hadir bukan sekadar sebagai latar yang indah, melainkan sebagai arena pertarungan antara wacana ekspansif negara dan resistensi warga 

Oleh: Gonza Thundang

Rumah Baca Aksara, Manggarai, menjadi salah satu ruang pertama pemutaran Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Ingatan saya tentang momen pada 19 April malam itu masih tertinggal jelas sampai sekarang. 

Proyektor mulai menyala. Orang-orang duduk tenang seperti menunggu sebuah ritus dimulai. Keheningan itu kemudian dibuka oleh nyanyian dan iring-iringan batang kayu yang bergerak pelan di layar, lalu perlahan menghadirkan simbol yang terus tinggal sepanjang film: salib merah.

Posisi saya malam itu berada tepat di samping layar proyektor. Dari tempat itu saya melihat dua hal sekaligus: gambar yang bergerak di layar dan perubahan wajah para penonton. 

Di antara dua fokus, saya masih bisa merasakan dengan jelas atmosfer ruangan yang kian memanas — seakan kami yang menonton turut merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat adat Papua yang terdampak dari program strategis nasional. 

Dalam beberapa adegan yang terus beranjak maju, gambar  berwarna organik hijau alam Papua perlahan berubah menjadi  kuning tanah pekat akibat hutan yang dirusak dan gerombolan alat berat yang beranjak masuk di antara warna organik yang monokromatik. 

Saya melihat ini sebagai pintu masuk awal sebuah pengrusakan yang akan berskala sangat masif sampai 1,5 juta hektar hutan adat. Sound effect yang digunakan juga turut menghadirkan rasa mengerikan yang terus meluap di setiap pergantian menit.

Awalnya penonton menyaksikan dengan rasa ingin tahu, tetapi pelan-pelan ekspresi itu berubah. Beberapa mulai berbisik pendek, beberapa lain hanya diam dengan tatapan berat. 

Dengung kecil dari percakapan penonton bercampur dengan suara dalam film. Hingga pada pada beberapa bagian tertentu film, komentar-komentar samar penonton memulai rentetan percakapan yang terus berlangsung sembari layar terus berputar..

Pada titik tertentu saya tidak lagi merasa sedang menonton film, melainkan seperti ikut berdiri di dalam pengalaman luka yang sama.

Ketika Alam Berhadapan dengan Mesin

Pesta Babi menghadirkan pengalaman visual yang tidak berhenti pada persoalan konflik tanah atau kolonialisme modern semata. Film ini mengajak penonton membaca tanda-tanda yang bersembunyi di balik gambar – membiarkan gambar bercerita sendiri, sementara simbol-simbol hadir sebagai jembatan yang menghubungkan  cerita Papua dengan dimensi personal penonton.

Sejak awal pemutaran, alam Papua hadir bukan sekadar sebagai latar yang indah, melainkan sebagai arena pertarungan antara wacana ekspansif negara dan resistensi warga. 

Hutan, lumpur, sungai, dan kebun bukan hanya ruang hidup — melainkan  ruang ingatan, ruang adat, dan tubuh sejarah masyarakat yang sejak lama hidup bersama tanahnya.

Salah satu hal yang paling menarik bagi saya adalah kehadiran sagu — bukan sekadar tumbuhan pangan, melainkan bagian integral dari penghayatan hidup orang Papua. Sagu dipandang seperti orang tua yang memberi hidup, merawat, dan menjaga keberlangsungan generasi. 

Tidak hanya memiliki nilai ekonomi, sagu menyimpan makna kultural dan spiritual yang kuat: hadir dalam ritus, dalam ingatan kolektif, dalam cara masyarakat membangun hubungan dengan alam. 

Karena itu kerusakan hutan sagu bukan hanya berarti hilangnya sumber makanan. Ia adalah ancaman terhadap identitas, pengetahuan leluhur, dan keberlanjutan hidup masyarakat Papua. Menjaga sagu berarti menjaga tubuh mereka sendiri.  Relasi ini sebagai bentuk relasi paling intim dalam kacamata visual — bukan pelengkap, melainkan  dasar dari hidup masyarakat Papua. 

Karena itu, ketika alat berat mulai masuk ke dalam frame dan suara mesin perlahan menggantikan bunyi alam, yang terasa hilang bukan hanya lanskap, tetapi juga identitas sebuah ruang hidup. Ada rasa tercerabut yang dibangun perlahan melalui visual-visual film ini.

Benturan antara alam dan mesin menjadi salah satu tampilan sinematik yang paling terasa. Mesin hadir dengan perintah, keras, dan asing di tengah ruang yang sebelumnya tampak organik dan hidup. Kamera memperlihatkan kontras antara tubuh manusia dan besi-besi industri dengan tajam. sehingga kerusakan yang ditimbulkan masif dan para. 

Dari benturan itu, film ini memperlihatkan bahwa kolonialisme hari ini tidak lagi datang dengan wajah lama penjajahan, tetapi melalui pembangunan yang bergerak perlahan, masuk diam-diam, lalu meninggalkan luka panjang di atas tanah masyarakat adat.

Di tengah situasi itu, tubuh manusia menjadi bahasa visual lain yang terus berbicara. Wajah-wajah masyarakat adat direkam dekat, dengan tatapan panjang dan sunyi. Kerutan wajah, mata yang memandang jauh, dan jeda-jeda percakapan menghadirkan kesan bahwa masyarakat adat sedang berdiri di antara kehilangan dan usaha mempertahankan hidup. 

Tubuh dalam film ini terasa seperti arsip paling jujur tentang sejarah yang sedang berlangsung — karena tidak semua luka membutuhkan kata-kata. Ada kesedihan yang justru terasa lebih kuat ketika ia tidak diucapkan.

Suasana nobar dan diskusi “Pesta Babi” di Rumah Baca Aksara, Ruteng pada 19 April 2026. (Dokumentasi Gonsa Thundang)

Metafora “Pesta Babi”

Judul Pesta Babi terasa seperti metafora yang dipilih dengan sadar oleh kedua sutradara film ini — Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono. 

Dalam banyak budaya di Indonesia Timur, termasuk Papua, babi bukan sekedar hewan ternak, tetapi simbol kehormatan, relasi sosial, dan perayaan hidup bersama. Dalam film ini, babi digambarkan sebagai hewan suci sebagai perekat rasa persaudaraan, dan perantara doa antara masyarakat dan semesta.

Dalam kebudayaan Manggarai di Flores, babi hadir di berbagai ritus adat mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian — bukan sekadar hidangan pesta, tapi  secara simbolik sebagai bentuk persembahan,  ungkapan syukur, dan tanda penghargaan kepada keluarga, leluhur, dan komunitas. 

Karena itu, babi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari struktur budaya dan kehidupan sosial yang sudah berlangsung  lama.

Namun ketika kata “pesta” dipertemukan dengan kolonialisme, muncul ironi yang terasa pahit. Film ini seperti melempar pertanyaan pelan: siapa sebenarnya yang berpesta di atas tanah Papua? Masyarakat adat yang hidup bersama tradisinya, atau kekuasaan modern yang datang membawa eksploitasi?

Film ini terasa puitis sekaligus muram. Kritik sosial dibangun bukan melalui teriakan, tetapi lewat susunan gambar yang perlahan menekan kesadaran penonton.  

Hutan menjadi simbol ingatan yang terancam hilang. Sagu hadir sebagai simbol kehidupan yang sejak lama merawat manusia Papua. Salib merah hadir seperti penanda keyakinan terhadap Tuhan, semesta, dan keberanian untuk bertahan.

Dua Bahasa Kemakmuran yang Saling Bertabrakan

Gagasan tentang kemakmuran dalam film ini tampil sebagai sesuatu yang tidak tunggal. 

Dari sudut pandang negara dan logika pembangunan modern, kemakmuran divisualkan lewat jalan, alat berat, proyek industri, dan aktivitas ekonomi berskala besar.  Visual-visual itu hadir sebagai lambang kemajuan yang sangat menjanjikan kesejahteraan dan masa depan yang lebih baik. 

Namun, film ini tidak berhenti pada citra pembangunan semata. Ia memperlihatkan kemakmuran bagi masyarakat adat memiliki makna yang jauh lebih dalam: tanah yang tetap terjaga, relasi sosial yang tidak terputus, ritual adat yang terus hidup, serta hubungan manusia dengan alam yang tetap seimbang. 

Negara melihat tanah sebagai potensi yang harus diolah — hutan yang belum dimanfaatkan dan perlu dibuka demi investasi dan pertumbuhan. Jalan dibaca sebagai akses, mesin dibaca sebagai produktivitas, industri dibaca sebagai masa depan.

Namun, kamera kemudian membawa penonton melihat cara lain memahami hidup. Bagi masyarakat adat, kemakmuran hadir dalam hubungan yang utuh antara manusia, tanah, hutan, sungai, sagu, dan adat. Hutan yang tenang, aktivitas komunal di kampung, dan ritus adat menjadi gambaran kesejahteraan versi mereka.

Tanah bukan sekadar aset ekonomi, melainkan tubuh kehidupan dan identitas. Hutan bukan hanya sumber kayu, tetapi sumber pengetahuan, makanan, dan ingatan leluhur.

Negara melihat tanah sebagai potensi yang harus diolah, sementara masyarakat adat melihat tanah sebagai ibu yang menjaga kehidupan.

Di titik inilah ironi film terasa paling tajam. Apa yang disebut kemajuan oleh pemerintah, oleh sebagian masyarakat adat justru dirasakan sebagai ancaman. Jalan yang membuka akses ekonomi pada saat yang sama membuka jalan bagi eksploitasi. 

Proyek dan industri yang dijanjikan membawa kesejahteraan perlahan menghadirkan kecemasan akan hilangnya ruang hidup, rusaknya alam, serta memudarnya nilai-nilai adat yang selama ini menjaga hubungan manusia dengan tanahnya. 

Film ini memperlihatkan bahwa pembangunan tidak selalu hadir sebagai jawaban, tetapi kadang juga menjadi awal dari kehilangan yang panjang dan sulit dipulihkan. 

Melalui kontras itu, film seakan memperlihatkan bagaimana alam perlahan kehilangan ruangnya di tengah ambisi modernitas yang terus bergerak tanpa banyak memberi kesempatan bagi masyarakat adat untuk menentukan nasib tanah dan hidup mereka sendiri. 

Dari benturan itu muncul pertanyaan besar yang tetap tinggal bahkan setelah film selesai: apakah kemakmuran selalu harus dibayar dengan hilangnya ruang hidup masyarakat adat?

Setelah Layar Padam

Pada akhirnya, Pesta Babi memperlihatkan bahwa visual dalam film bukan sekadar alat untuk merekam kenyataan, tetapi bahasa simbol yang menyimpan makna tentang tanah, kekuasaan, dan kehidupan manusia. 

Setiap gambar dihadirkan bukan hanya untuk dilihat, melainkan untuk dibaca sebagai tanda atas perubahan sosial yang sedang berlangsung. 

Di situlah film bekerja sebagai ruang refleksi: mengajak penonton memahami bahwa perebutan tanah bukan hanya persoalan ekonomi dan politik, tetapi juga menyangkut identitas, cara hidup, dan masa depan sebuah komunitas.

Tentang bagaimana kolonialisme modern bekerja secara halus— bukan lagi melalui senjata, tetapi melalui pembangunan yang perlahan menggerus ruang hidup.

Dan setelah layar padam, yang tertinggal bukan hanya gambar-gambar di kepala, melainkan pertanyaan yang terus bergerak di dalam batin: siapa sebenarnya yang menikmati pembangunan itu, dan siapa yang harus kehilangan rumah demi sesuatu yang disebut kemajuan?

Gonsa Thundang adalah anggota kolektif Rumah Baca Aksara Ruteng

Editor: Dominiko Djaga

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING