Manggarai Punya Kopi Terbaik Nasional, Kenapa Kita Belum Kaya? 

Peluang apa yang bisa diraih kaum muda Manggarai di tengah depresiasi rupiah?

Oleh: Etgal Putra Anggal

Pada 4 Juni 2026, nilai tukar rupiah menyentuh Rp18.000 per dollar AS. Selama beberapa pekan terakhir, rupiah terus melemah.

Sejak awal tahun, Bank Indonesia telah menguras hampir 10 miliar dollar cadangan devisa dari $156,5 miliar pada Desember 2025 menjadi $146,2 miliar per April 2026 hanya untuk menahan pelemahan yang terus berlanjut.

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS, bahkan memperingatkan rupiah bisa menembus Rp20.000 per dollar AS bila tidak ada intervensi yang sungguh efektif.

Situasi ini jelas menekan banyak sektor. Industri manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor terkena langsung: biaya naik, margin menyusut. Konsumen pun merasakan harga barang terus merangkak.

Namun, ada satu kelompok yang justru bisa diuntungkan oleh hitungan ini: petani kopi yang mampu menjual ke pasar ekspor.

Kopi diperdagangkan dalam dollar AS. Setiap kilogram yang diekspor kini dikonversi ke rupiah yang nilainya jauh lebih lemah dibanding tahun lalu.

Artinya, penerimaan dalam rupiah dapat naik bukan semata karena harga kopi meningkat, tetapi juga karena kurs bergerak ke arah yang menguntungkan eksportir.

Ini bukan spekulasi. Beginilah cara kerja ekspor komoditas sejak lama. Dan hari ini, mekanisme itu sedang memihak petani lokal yang siap memanfaatkannya.

Harga Kopi Dunia di Level yang Jarang Terjadi

Depresiasi rupiah datang pada saat harga kopi global berada di level yang jarang terjadi.

Pada Oktober 2025, kontrak berjangka Arabika menyentuh $4,30 per pon. Itu berarti lonjakan lebih dari 50 persen hanya dalam beberapa bulan.

Di tingkat lokal, dampaknya terasa cepat. Mengutip artikel CNBC, harga spot Arabika di Medan mencapai Rp222.000 per kilogram pada Februari 2025, hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Di wilayah timur, tepatnya di Sulawesi, pada awal 2026, Arabika dijual Rp160.000 per kilogram, naik sekitar 30 persen hanya dalam tiga bulan.

Lembaga perdagangan kopi Volcafe memperkirakan defisit Arabika global mencapai 8,5 juta karung, tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Penyebabnya bukan satu. Brasil dan Vietnam, dua produsen terbesar dunia, sama-sama menghadapi gangguan cuaca yang menekan produksi.

Di sisi lain, tarif impor 50 persen yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap kopi Brasil memaksa pembeli besar mencari sumber alternatif di luar Amerika Latin.

Per Mei 2026, harga Arabika memang sudah terkoreksi dari puncaknya, di kisaran $2,7 hingga $3,2 per pon, seiring ekspektasi panen Brasil yang lebih besar pada musim 2026–2027.

Meski begitu, dengan rupiah yang terus melemah terhadap dollar, nilai konversi bagi eksportir lokal tetap jauh di atas kondisi normal beberapa tahun lalu.

Tentu, kondisi ini tidak otomatis menguntungkan semua orang. Yang bisa menikmatinya hanyalah mereka yang sudah punya produk siap jual, akses ke pasar ekspor, dan sistem pengolahan yang memadai.

Kopi Manggarai: Punya Nama, Tapi Produksinya Masih Kecil

Lalu, bagaimana dengan Manggarai? Di sinilah situasinya terasa ironis sekaligus menarik.

Dalam kontes kopi yang diselenggarakan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember tahun 2015, kopi dari Manggarai Timur menang sebagai kopi dengan cita rasa terbaik se-Indonesia.

Pengakuan itu kemudian dikuatkan lewat Sertifikasi Indikasi Geografis Kopi Arabika Flores Manggarai. Sertifikasi ini bukan sekadar label, melainkan perlindungan hukum yang membedakan Kopi Manggarai dari kopi generik lain di pasar global.

Kopi dari Colol, Manggarai Timur, bahkan sudah diminati perusahaan berkelas dunia. Namun, merujuk laporan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTT tahun 2024, masalahnya ada pada produksi yang masih berada di bawah angka 100 ton per tahun.

Permintaan ada. Harga ada. Pengakuan internasional ada. Yang belum ada ialah volume produksi yang cukup dan sistem pengolahan yang serius.

Celah itulah yang seharusnya diisi oleh kaum muda Manggarai.

Pengangguran dan Sarjana yang Menunggu

Badan Pusat Statistik  mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di NTT pada Agustus 2025 sebesar 3,31 persen, naik dibanding tahun sebelumnya.

Angka itu mungkin tampak rendah. Namun NTT adalah provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi keenam secara nasional.

Artinya, banyak orang memang bekerja, tetapi di sektor yang tidak memberi pendapatan layak.

Di Kabupaten Manggarai sendiri, TPT tercatat 1,17 persen pada 2024. Angka ini turun dari 3,50 persen dibanding tahun 2022.

Angka itu kecil. Tetapi di baliknya ada pola lama yang terus berulang: ribuan lulusan perguruan tinggi pulang ke kampung, menunggu formasi ASN yang daya serapnya tidak mencapai lima persen dari total pencari kerja, atau bertahan di pekerjaan informal yang nyaris tidak memberi kemajuan finansial.

Manggarai Sudah Punya Role Model

Kalau masih dibutuhkan bukti bahwa jalur ini bisa dibangun dari dalam Manggarai sendiri, ada satu nama yang layak disebut: Irenius Gratia Sandur.

Iren bukan pengusaha yang datang dari luar dengan modal besar. Ia orang Waso, Ruteng. Ia tumbuh di lingkungan yang sama dengan ribuan pemuda Manggarai lainnya.

Bisnisnya, De Lawa Coffee, dimulai dari kebun yang tidak besar dan modal seadanya.

Namun sejak awal, arah yang ia pilih sudah berbeda dari kebanyakan petani lokal. Ia tidak menjual kopi mentah ke tengkulak, tetapi membangun produk dengan identitas yang jelas.

Hari ini De Lawa Coffee mengelola jaringan 24 petani mitra yang tersebar di dua wilayah dampingan, yaitu Waso dan Mbohang.

Satu hal yang membedakan De Lawa dari mayoritas produsen kopi lokal di NTT adalah sertifikasi CSQA. De Lawa Coffee sudah tersertifikasi pada April 2023 sebagai prosesor kopi berkualitas tinggi oleh CSQA, badan sertifikasi asal Italia.

CSQA diakui di pasar Eropa. Itu berarti De Lawa Coffee sudah memegang tiket masuk ke jaringan distribusi premium internasional.

Tidak banyak produsen kopi di luar Jawa dan Sumatera yang bisa menunjukkan sertifikasi setara dengan itu.

Hasilnya terlihat pada 2025. Disponsori PT Bank SMBC Indonesia Tbk melalui program Daya, De Lawa Coffee menjadi salah satu dari tiga UMKM kopi Indonesia yang tampil di Amsterdam Coffee Festival 2025. Dua UMKM lainnya adalah Kata & Rasa dan Kopi Lasi, masing-masing dari Jawa dan Sumatera.

Festival itu menghadirkan 250 eksibitor dari berbagai belahan dunia dan dihadiri lebih dari 15.000 pengunjung selama tiga hari.

Iren menunjukkan satu hal penting: ia tidak menunggu difasilitasi lebih dulu untuk bergerak. Ia membangun produk lebih dulu, memenuhi standar teknis lebih dulu, memperluas jaringan petani lebih dulu. Setelah semua itu terbentuk, pintu fasilitas seperti program SMBC pun terbuka.

Artinya, sertifikasi CSQA dan undangan ke Amsterdam bukan titik awal, tapi hasil dari pekerjaan bertahun-tahun sebelumnya yang tidak terlihat oleh masyarakat umum.

Karena itulah kisah De Lawa Coffee relevan dijadikan contoh. Ini bukan cerita sukses instan, melainkan hasil kerja yang sabar, teknis, dan bertahun-tahun.

Yang Harus Berubah di Tingkat Kebun dan Kebijakan Pemerintah

Transformasi dari petani yang menjual bahan mentah menjadi pengusaha yang menjual produk jadi memerlukan perubahan konkret di dua level.

Di tingkat kebun, ada tiga hal yang perlu dikerjakan.

Pertama, penguasaan teknik pasca panen seperti metode fermentasi honey process dan anaerobic natural adalah yang membedakan kopi biasa dari kopi specialty yang harganya dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi di pasar internasional.

Kedua, membangun identitas produk yang berbasis asal usul spesifik, karena pasar specialty kopi global membayar lebih mahal untuk kopi yang bisa mereka lacak asal kebunnya.

Sertifikasi indikasi geografis yang sudah dimiliki Manggarai adalah modal yang sangat jarang dimiliki daerah lain.

Ketiga, membangun jalur direct trade atau perdagangan langsung ke pembeli, seperti roaster di Singapura, Korea, Jerman tanpa melalui rantai perantara yang memangkas sebagian besar keuntungan petani.

Sementara itu, di tingkat kebijakan daerah, juga ada tiga hal yang tak bisa terus ditunda.

Pertama, pemerintah daerah perlu membangun inkubator agribisnis yang benar-benar bekerja, bukan sekadar program seremonial dengan anggaran yang habis dalam pelatihan satu hari.

Kedua, harus ada akses nyata ke alat pengolahan pascapanen seperti mesin pengering, alat fermentasi, dan perangkat uji mutu, dengan skema yang terjangkau bagi kelompok tani muda.

Ketiga, yang mungkin paling mendesak adalah skema permodalan yang tidak mensyaratkan agunan konvensional dari anak muda yang baru memulai. Bank dan lembaga keuangan perlu difasilitasi untuk menilai rencana bisnis dan komoditas sebagai dasar kredit, bukan sertifikat tanah saja.

Data BPS NTT melaporkan bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan adalah sektor dengan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja terbesar di NTT, dengan jumlah 89.000 orang lebih pada Februari 2025 saja.

Ini bukan kebetulan, dan pemerintah daerah seharusnya membaca data ini sebagai sinyal yang jelas tentang di mana investasi sumber daya manusia paling dibutuhkan.

Ini Soal Pilihan

Harga Arabika meski sudah turun dari puncak tetap berada di level yang menguntungkan eksportir lokal ketika dikalkulasikan dengan kurs saat ini.

Indonesia adalah produsen kopi terbesar keempat di dunia dengan produksi sekitar 789.000 ton per tahun. Dan kopi terbaik di Indonesia, menurut penilaian AEKI sendiri, salah satunya tumbuh di Manggarai.

Kondisi ini tidak akan bertahan selamanya dalam posisi yang sama. Kurs bergerak. Harga kopi naik turun. Persaingan dari daerah lain tidak pernah berhenti.

Kaum muda Manggarai, terutama mereka yang sudah punya bekal pendidikan, menghadapi pilihan yang sangat konkret hari ini.

Mereka bisa terus menunggu peluang kerja formal yang daya serapnya terbatas, atau masuk ke sektor yang justru sedang berada dalam momentum paling menguntungkan dalam beberapa tahun terakhir.

Keputusan itu tetap ada di tangan masing-masing. Tetapi datanya sudah terlalu jelas untuk diabaikan.

Etgal Putra Anggal adalah Pengusaha & Pekerja Kreatif, peserta Labuan Bajo Impact Investment Day 2024, Trade Expo Indonesia (TEI) 2024, dan BNI Exporter Forum Canada & Netherland 2024.

Editor: Ryan Dagur

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi.

Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami.

Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING