Oleh: Yogen Sogen
Pada 7 Juni, umat Katolik di seluruh dunia—termasuk di NTT—merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, sebuah perayaan yang dalam banyak paroki juga menjadi momentum penerimaan Komuni Pertama bagi anak-anak.
Hari yang seharusnya menjadi puncak pengalaman iman itu justru sering dibayangi oleh sesuatu yang jauh lebih duniawi: pesta besar yang menelan biaya tak masuk akal.
Hosti itu beratnya hanya nol koma sekian gram. Tetapi pesta yang mengelilinginya bisa menelan biaya hingga dua puluh juta rupiah—bahkan lebih—tergantung seberapa banyak mata masyarakat yang menonton.
Di situlah ironi yang melekat dalam perayaan Komuni Pertama di NTT.
Komuni Pertama adalah sakramen: sebuah peristiwa iman yang seharusnya dirayakan dengan sunyi dan khusyuk dalam hidup seorang anak.
Namun di NTT—dan kita harus jujur soal ini—ia sudah lama bukan lagi urusan antara anak dan Tuhan. Ia telah berubah menjadi urusan kampung. Ajang adu gengsi.
Ukuran apakah sebuah keluarga layak disebut “keluarga baik” ditentukan oleh seberapa kenyang tamu pulang dari tenda pesta.
Babi harus ada. Kalau bisa dua. Arak atau sopi mengalir deras mengisi lambung para tamu. Tenda disewa. Undangan disebar ke seluruh RT, ke kampung-kampung, ke saudara jauh yang setahun tak bertegur sapa, bahkan ke tetangga yang sedang pusing memikirkan biaya sekolah anaknya sendiri.
Semua datang. Semua makan. Semua pulang. Dan besoknya, yang tersisa hanyalah piring kotor, botol kosong, dan angka di buku utang yang bertambah.
Tekanan Ekonomi dan Ketakutan Terlihat Susah
Kita hidup di tahun yang tidak ringan. Bukan hanya di NTT, tetapi tekanannya terasa paling tajam di sini—di provinsi yang hampir selalu berada di dasar indeks kesejahteraan nasional.
Perang dagang Amerika–Tiongkok, situasi geopolitik yang mencekam, semuanya merembet ke harga sembako, bahan bangunan, dan apa pun yang kita beli dengan rupiah yang nilainya terus tergerus.
Petani di Timor, Sumba, atau Flores tidak menerima memo tentang gejolak global itu. Mereka hanya tahu bahwa tahun ini lebih susah dari tahun lalu—dan tahun lalu pun sudah susah.
Di atas tanah yang retak inilah kita merayakan pesta. Bukan karena kita tidak tahu susah, tetapi justru karena kita tahu. Dan karena itulah kita takut terlihat susah.
Pesta bukan lagi ungkapan syukur; ia telah menjadi mekanisme pertahanan diri dari penilaian sosial.
Tidak berpesta besar berarti tidak mampu. Tidak mampu berarti memalukan. Dan rasa malu, dalam struktur sosial kita, adalah beban yang jauh lebih berat daripada utang berapa pun.
Maka orang meminjam. Maka orang memaksakan diri. Karena tekanan ego dan gengsi itu nyata, dan tak seorang pun ingin menjadi bahan pergunjingan.
Mari kita bertanya dengan jujur: siapa yang membangun tekanan itu?
Bukan orang luar. Kita sendiri. Dari mulut ke mulut, dari perbandingan satu pesta ke pesta berikutnya, dari komentar tentang keluarga yang pestanya “seadanya”, dari cara kita menyusun tangga sosial tanpa pernah sadar bahwa kita sedang melakukannya.
Tradisi mengalir, dan kita mengikutinya karena arus itu terasa seperti kebenaran.
Padahal kebenaran itu ada di tempat lain: di wajah seorang anak yang berdiri di depan altar, yang belum mengerti semua ini, yang hanya tahu bahwa hari ini sesuatu yang besar dan sakral terjadi pada dirinya.
Anak itu tidak membutuhkan seekor babi atau tenda megah.
Ia membutuhkan orang tua yang hadir dengan hati tenang dan gembira—bukan hati yang separuhnya sibuk memikirkan angsuran bulan depan.
Gereja memiliki otoritas moral untuk berbicara lebih keras tentang ini. Bukan dengan khotbah yang menghakimi, tetapi dengan keberanian menormalkan kesederhanaan—dari mimbar, dari katekese, dari cara komunitas paroki sendiri merayakan.
Ketika Gereja sungguh-sungguh mengatakan bahwa pesta kecil pun diberkati, perlahan-lahan standar sosial itu bisa bergeser.
Sebab sakramen tidak membutuhkan saksi yang banyak. Ia membutuhkan kesungguhan yang dalam. Anak yang dipenuhi harapan dalam terang iman, memperoleh pendidikan layak, dan kelak berbakti pada tanah air dan bangsa.
Biarkan Syukur Lahir dari Sukacita, Bukan Ketakutan
Setiap momentum syukur memang layak dirayakan. Tetapi biarkan perayaan itu lahir dari sukacita yang bebas, bukan dari rasa takut dihamiki dalam percakapan warga kampung.
Biarkan mejanya sederhana, doanya panjang, dan percakapan dengan anak itu tidak hilang di tengah kesibukan melayani tamu.
Itulah yang akan ia bawa sampai tua: bukan ingatan tentang seberapa ramai pestanya, tetapi apakah ia merasa sungguh-sungguh dirayakan sebagai manusia—bukan sebagai alasan sebuah hajatan.
Hosti itu ringan. Seharusnya hari itu pun demikian. Bukan beban yang kelak menjauhkan kasih sayang orang tua dan anak.
Karena di banyak kasus, setelah pesta usai, orang tua berangkat merantau demi membayar cicilan pesta.
Tulisan ini tidak menghakimi. Tetapi mari kita renungkan, di tengah situasi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja.
Yogen Sogen adalah analis sosial politik, asal Flores Timur.
Editor: Ryan Dagur


