Di Pinggir Jalan Trans Flores, Rumah Wunut Jadi Etalase UMKM, Sediakan Penginapan Gratis

Rumah ini yang juga dilengkapi kedai menjaga semangat “dalam segala hal adalah kasih”

Floresa.co – Dua pemuda tampak sibuk di balik rombong jualan kopi di tepi Jalan Trans Flores, Borong, Kabupaten Manggarai Timur.

Di hadapan mereka, berjajar toples dan kemasan berisi biji kopi Arabika, Robusta, Juria–sebagian sudah disangrai (roasted beans), sebagian masih mentah (green beans). 

Rein Putra dan Yorgi Jemahu adalah pelajar SMA Negeri 1 Borong yang sedang magang menjadi barista sejak Mei. Program magang yang berlangsung hingga Juli itu adalah bagian dari kurikulum sekolah mereka.

“Saya baru belajar beberapa menu di sini seperti Moringa latte dan Long black. Di sekolah kami hanya belajar dasar-dasar barista,” kata Yorgi kepada Floresa pada 31 Mei malam.

Sembari menyeduh kopi, Rein menambahkan dengan antusias: “Saya senang di sini. Bisa belajar menu baru. Di sekolah hanya bikin Cappuccino dan Americano.

Di samping rombong kopi, sejumlah pengunjung duduk santai, berbincang dalam suasana yang tenang. 

Yorgi Jemahu (kiri) dan Rein Putra, siswa SMA Negeri 1 Borong yang sedang menjalani program magang di Rumah Wunut. Tampak mereka sedang meracik kopi untuk pengunjung Timur pada 31 Mei 2026. (Dokumentasi Floresa)

Lahir dari Keresahan

Tempat ini bernama Rumah Wunut, berlokasi di Kampung Golo, Desa Bea Ngencung, Kecamatan Borong, dan resmi beroperasi sejak Desember 2024.

Pendirinya adalah Lembaga Swadaya Masyarakat Insan Lantang Muda atau LSM ILMU dan dikelola pasangan suami-istri, Doni Parera dan Lisa Da Costa.

Doni, Ketua LSM ILMU, mengaku memberi nama “rumah wunut”  karena ingin menjadikannya rumah bersama bagi orang Manggarai Raya — Manggarai Barat, Manggarai dan Manggarai Timur.

Wunut, berarti ijuk, sekaligus menjadi atap rumah itu, kata dia, menerjemahkan spirit sebagai tempat yang tidak membeda-bedakan.

Semangat yang menggerakkan tempat ini dinyatakan dengan jelas: In Omnibus Caritas — “dalam segala hal, kasih,” kata Doni.

Tak sekadar slogan, semangat itu terwujud dalam cara Rumah Wunut menerima siapa saja yang datang: pelaku UMKM yang butuh etalase, pelintas yang butuh tempat beristirahat, anak muda yang ingin belajar keterampilan baru, hingga komunitas yang mencari ruang berdiskusi.

“Rumah Wunut juga berfungsi sebagai tourist information center yang memberikan informasi wisata kepada pengunjung yang datang ke Manggarai Timur,” katanya.

Hanya Kopi Colol

Satu hal yang membedakan Rumah Wunut dari kedai kopi lainnya: mereka hanya menjual Kopi Colol, meskipun banyak tawaran kopi lain yang lebih murah dan pasokannya lebih stabil.

Kopi Colol merujuk pada Arabika, Robusta, dan Juria yang berasal dari petani di empat desa di Lembah Colol — Ulu Wae, Rende Nao, Wejang Mali, dan Colol — di Kecamatan Lamba Leda Timur. 

Colol diyakini sebagai kampung yang menjadi cikal bakal penyebaran kopi di seluruh wilayah Manggarai. Pada 1937, kopi dari lembah ini memenangkan sayembara nasional “Pertandingan Keboen Kopi” oleh otoritas Belanda — sebuah pengakuan yang membuat nama Colol tak mudah terlupakan.

Beberapa tahun terakhir, nama Colol telah melejit hingga ke Eropa dan Amerika Serikat. Hal itu berkat perjuangan Asosiasi Petani Kopi Manggarai yang memperkenalkan dan menjual Kopi Colol ke luar negeri. 

Pada 2015, kopi Arabika dan Robusta Colol juga dinobatkan sebagai kopi terbaik dalam kontes oleh Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia bersama Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember, Jawa Timur.

“Banyak orang tahu Kopi Colol enak, tetapi tidak tahu harus beli di mana. Tidak mungkin semua orang harus ke Colol,” kata Lisa.

“Kami fokus mengenalkan, menjual, dan mempromosikan cita rasanya agar bisa dirasakan banyak orang.”

Americano Sunrise, salah satu menu minuman yang tersedia di Rumah Wunut.(Dokumentasi Floresa)

Lokasi Rumah Wunut yang berada tepat di jalur Trans Flores menjadikannya titik strategis — para pelintas bisa menikmati kopi khas Manggarai Timur itu tanpa harus masuk jauh ke pedalaman.

Salah satu kopi favorit adalah Juria Colol — varian yang konon hanya dipanen dua tahun sekali dan hanya tumbuh di tiga lokasi di Indonesia, salah satunya di Colol. 

Rumah Wunut membeli langsung dari petani dengan harga yang ditawarkan petani sendiri.

“Dengan menerima harga yang mereka tawarkan, kami yakin itu harga terbaik dari petani,” kata Doni.

Etalase UMKM

Pada awal beroperasi, kata Lisa, Rumah Wunut menampung produk dari sekitar 42 pelaku UMKM dari sejumlah wilayah di Manggarai Timur, terutama dari Kecamatan Rana Mese, Borong dan Lamba Leda Selatan.

Produk yang dijual beragam: green bean dan roasted bean, sorgum, aneka produk kelor, keripik pisang, keripik talas, sari jahe, sari temulawak, sari kunyit, hingga perlengkapan busana adat. 

Sebagian dijual dengan sistem konsinyasi, sebagian dengan beli putus. 

“Kalau laris, mereka sering titip produk yang sama. Kalau sistem beli putus, kita sendiri yang siapkan modal. Beli dan langsung jual di sini,” kata Lisa.

Namun, angka itu kini menyusut menjadi sekitar 14 pelaku UMKM. 

Penurunan terjadi setelah Pemerintah Provinsi NTT membuka NTT Mart di Manggarai Timur pada 22 Desember 2025 — yang juga menjual produk UMKM lokal.

Sebelum ada NTT Mart, kata Lisa, banyak ASN yang membeli oleh-oleh khas Manggarai Timur di Rumah Wunut.

“Setelah ada NTT Mart, mereka lebih sering beli di sana. Kami jadi lebih sepi,” jelasnya, tanpa nada mengeluh.

Kendati demikian, Rumah Wunut tetap bertahan. Kedai kopi dan pusat oleh-oleh terus berjalan. 

Pintu yang Selalu Terbuka

Yang membuat Rumah Wunut benar-benar berbeda dari kedai kopi biasa adalah satu hal: tempat ini menyediakan penginapan gratis bagi siapa saja yang membutuhkan.

Doni menyebut deretan orang yang pernah singgah: mahasiswa yang hendak menyeberang ke Kupang, guru dari pedalaman yang datang mengurus administrasi, keluarga pasien rumah sakit, sopir truk dari luar pulau, sopir wisata, penjual sayur dari kampung.

“Kami menerima siapa saja yang butuh tumpangan tanpa membedakan siapa pun,” katanya.

Dari sekian cerita yang ada, satu yang paling membekas bagi Doni dan Lisa adalah seorang ibu muda yang datang dalam kondisi gangguan jiwa yang cukup parah — tidak mampu merawat dirinya sendiri. Ia berasal dari Kecamatan Satar Mese dan tinggal di Rumah Wunut selama sekitar empat bulan.

Belakangan, Doni dan Lisa mengetahui bahwa perempuan itu sebelumnya adalah kader gizi, ketua RT, dan penggerak anak muda di kampungnya.

“Ketika kami tahu latar belakangnya, kami berpikir bahwa dia tidak saja boleh menginap, tapi harus disembuhkan,” kata Doni.

Selama dua bulan pertama, mereka membersihkan kamar dan merawat perempuan itu setiap hari, sambil mendampingi proses pengobatan bersama petugas Puskesmas Borong.

“Perempuan itu akhirnya pulih dan kini tinggal bersama sebuah biara di Labuan Bajo,” katanya.

Bagi Kiki, seorang pengunjung yang sedang dalam perjalanan menuju Bajawa, Rumah Wunut adalah tempat yang ia temukan dari cerita rekan kerjanya di Labuan Bajo. 

Ia singgah selama satu jam sebelum melanjutkan perjalanan.

“Tempatnya nyaman. Bisa istirahat, minum kopi, dan suasananya juga tenang,” katanya kepada Floresa.

Ruang Belajar dan Diskusi

Rumah Wunut juga membuka pelatihan barista bagi anak muda dan siswa sekolah melalui kerja sama program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam Kurikulum Merdeka. 

Pelatihan ini didampingi Andre Tulle, guru SMA Negeri 1 Borong yang juga mengelola Kafe Kopito di Pesi, Desa Sita.

Selain barista, tersedia pula pelatihan pembuatan bubuk kelor, biskuit kelor untuk penanganan stunting, dan pembuatan tempe. 

Bagi Doni, tujuan pelatihan bukan sekadar mencetak tenaga kerja.

“Kami lebih mendorong mereka membuka usaha sendiri,” katanya.

Tempat ini juga menjadi ruang diskusi dan pemutaran film. Pada 15 Mei, Rumah Wunut memutar dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita — yang mengisahkan masyarakat adat di Papua Selatan berhadapan dengan ekspansi proyek pangan dan energi skala industri. 

Sehari sebelum pemutaran, aparat mendatangi lokasi dan meminta kegiatan dibatalkan dengan alasan film itu memuat materi yang dianggap sensitif.

Pemutaran tetap berlangsung. Malam itu, jurnalis, aktivis, guru, pelajar, dan komunitas anak muda duduk bersama di Rumah Wunut hingga larut.

Suasana nonton bareng film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita di Rumah Wunut pada 15 Mei 2026. (Dokumentasi Floresa)

Bagi Doni, kegiatan seperti itu menunjukkan bahwa Rumah Wunut menjadi ruang belajar, berdiskusi dan bertukar gagasan bagi masyarakat.

Saat ini, tantangan terbesar Rumah Wunut adalah biaya operasional yang sering kali belum tertutupi dari hasil penjualan kopi dan oleh-oleh. Kendati demikian, Doni tak bicara soal rencana menutup tempat ini.

Ia justru berencana menambah fasilitas tempat tidur gratis dan membuka cabang di wilayah lain di Flores dengan konsep yang sama.

Di tepi jalan Trans Flores, di pinggiran Borong, Rumah Wunut tetap bertahan, menjual kopi langsung dari petani, menjadi ruang belajar, dan tetap memilih tidak mengunci pintu bagi mereka yang butuh tumpangan.

Editor: Ryan Dagur

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA