Bidik Omzet Jumbo, NTT Mart Masih Sepi Pembeli

Dengan ambisi menjadi etalase besar produk lokal NTT, target transaksi NTT Mart hingga ratusan miliar rupiah per bulan yang dicanangkan pemerintah provinsi berjarak jauh dari kenyataan di lapangan

Floresa.co – Tak satu pun pengunjung terlihat di NTT Mart Manggarai Barat saat Floresa singgah pada 17 April.

Seorang penjaga tampak memeriksa sejumlah produk di dalam gerai yang berlokasi di Pasar Baru, Labuan Bajo, Jalan Trans Flores itu.

“Hari ini belum ada pengunjung,” kata Desta Maun, penjaga gerai. “Kemarin juga tidak ada pengunjung.”

NTT Mart, sesuai rencana Pemerintah Provinsi NTT, menjual berbagai produk olahan lokal, mulai dari makanan dan minuman, kain tenun, kerajinan tangan, hingga produk khas daerah lainnya.

Menurut Desta, produk-produk tersebut dibeli dari pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Manggarai Barat.

“Yang paling banyak dibeli itu kopi. Kalau tenun tidak ada yang beli,” katanya.

Selain produk lokal, gerai ini juga menjual kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan gula.

Keputusan menjual barang-barang tersebut, kata Desta, mengikuti arahan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Manggarai Barat, sekaligus untuk memenuhi permintaan konsumen.

Desta Maun, penjara gerai NTT Mart Manggarai Barat saat ditemui Floresa pada 17 April 2026. (Dokumentasi Floresa)

Sepi di Sejumlah Daerah

Kondisi serupa ditemukan di NTT Mart Manggarai Timur. Saat Floresa mengunjungi gerai yang berada di Golo Lada, Kecamatan Borong, pada 23 April, dua penjaga tampak duduk santai di ruang depan pintu masuk.

Berjarak sekitar 100 meter dari Rumah Jabatan Bupati Manggarai Timur, gerai ini menjual kebutuhan pokok seperti beras, makanan ringan, kopi, serta kain tenun Congkar—tenun khas salah satu sub-etnik Manggarai di wilayah tengah kabupaten tersebut.

Penanggung jawab NTT Mart Manggarai Timur, Lilis Rahmawati, mengatakan jumlah pembeli tidak menentu.

“Kadang ada pagi hari, kadang siang, kadang sore. Ada juga yang pesan lewat telepon,” kata Lilis.

Suasana yang hampir sama terlihat di NTT Mart Kota Kupang di Jalan Palapa No. 1, Kecamatan Oebobo.

Tak banyak pengunjung datang. Rak-rak berisi produk makanan olahan, kain tenun, dan kerajinan tangan tersusun rapi, namun aktivitas jual beli belum tampak signifikan.

Sejumlah pegawai terlihat berjaga sambil merapikan barang dagangan.

Toni, Yoga, dan Astri—tiga penjaga gerai—menjelaskan bahwa unit usaha tersebut dikelola pemerintah. Ketiganya merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi NTT.

“Kami yang menjaga, tapi penanggung jawabnya Kepala Disperindag,” kata Yoga kepada Floresa pada 25 April.

Beragam produk olahan makanan lokal tersaji di gerai NTT Mart di Kota Kupang. Tampak pula gerai yang sepi pengunjung. (Dokumentasi Floresa)

Omzet Masih Rendah

NTT Mart merupakan wadah ekonomi kreatif yang diinisiasi Pemerintah Provinsi NTT untuk memasarkan produk-produk lokal. Saat ini, terdapat 20 gerai NTT Mart yang tersebar di seluruh kabupaten di NTT.

Program ini merupakan salah satu janji kampanye Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur, Johni Asadoma pada Pilkada 2024.

Keduanya mengusung program “Satu Desa Satu Produk” dan “Satu Sekolah Satu Produk”, yang pemasarannya dilakukan melalui NTT Mart.

Di tiap kabupaten, NTT Mart dikelola oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

Saat meresmikan gerai NTT Mart Manggarai Barat pada Desember 2025, Gubernur Laka Lena menyampaikan target transaksi Rp150 miliar hingga Rp200 miliar per bulan.

Ia juga mengimbau ASN di NTT untuk membeli produk UMKM melalui NTT Mart.

Namun, hingga kini target tersebut masih jauh dari realisasi.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Manggarai Barat, Gabriel Bagung, mengatakan total omzet NTT Mart Manggarai Barat sejak peluncuran pada 21 Desember 2025 hingga akhir Maret 2026 baru mencapai Rp10,8 juta.

“Omzetnya memang masih sangat sedikit,” ujar Gabriel pada 17 April. Meski demikian, ia menolak anggapan bahwa produk NTT Mart tidak laku.

“Ini kan baru tiga bulan. Masih berproses. Kami masih evaluasi dan melakukan pembenahan,” katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Manggarai Barat, Gabriel Bagung saat diwawancarai Floresa pada 17 April 2026.(Dokumentasi Floresa)

Di Manggarai Timur, tren penjualan justru menurun sejak gerai itu diresmikan pada 22 Desember 2025.

Lilis Rahmawati menyebut omzet pada Januari 2026 mencapai Rp9 juta, lalu turun menjadi Rp6,5 juta pada Februari dan Rp6,2 juta pada Maret.

“Yang paling sering belanja itu pegawai negeri,” katanya. Biasanya, pembelian dilakukan untuk kebutuhan acara kantor atau sebagai oleh-oleh tamu.

“Kalau ada tamu dari provinsi atau Jakarta, mereka beli di sini. Selendang, topi, atau oleh-oleh,” ujarnya.

Selain ASN, tenaga kesehatan yang hendak pindah atau selesai bertugas juga kerap membeli produk di gerai tersebut.

Produk yang paling laku di NTT Mart Manggarai Timur adalah kopi Colol, disusul keripik pisang dan kain tenun Congkar.

Penanggung jawab NTT Mart Manggarai Timur, Lilis Rahmawati saat diwawancarai Floresa diruang kerjanya pada 23 April 2026. (Dokumentasi Floresa)

Penurunan omzet juga terjadi di NTT Mart Flores Timur.

Gerai yang berada di Taman Kota Feliks Fernandez itu diresmikan pada 5 Februari 2026.

Kasir gerai, Krismon Demon Masan, menyebut penjualan pada bulan pertama mencapai Rp12,4 juta, namun turun drastis pada Maret menjadi Rp3,7 juta.

“Penjualan tetap berjalan, tapi tidak seramai Februari,” kata Krismon pada 18 April.

Pada periode 5–10 April, penjualan meningkat seiring perayaan Semana Santa di Larantuka, dengan omzet mencapai Rp4,4 juta selama enam hari.

“Pembeli didominasi para peziarah yang membeli produk khas Flores Timur sebagai oleh-oleh,” ujarnya.

Produk yang paling diminati di gerai ini antara lain jagung titi dan emping jagung titi, kopi dari Desa Hokeng Jaya, kopi jahe, jahe merah, madu hutan, serta selendang tenun khas Flores Timur seperti nowing dan kwatek.

Produk-produk tersebut berasal dari 21 pelaku IKM dan UMKM di Flores Timur.

Perlu Sosialisasi Intensif

Untuk mendorong penjualan, selain menjaga kualitas produk, pengelola menilai sosialisasi dan promosi perlu digencarkan.

Pengalaman NTT Mart Kota Kupang menunjukkan bahwa peningkatan sosialisasi berdampak pada naiknya omzet.

Menurut Astri, penjaga NTT Mart Kota Kupang, mereka membukukan penjualan senilai Rp108 juta pada periode Januari hingga April 2026. Gerai tersebut diresmikan Gubernur NTT pada 12 Agustus 2025.

Astri mengakui bahwa pada awal operasional, tingkat kunjungan masih rendah akibat kurangnya sosialisasi.

“Tahun lalu masih sepi karena baru mulai. Tahun ini sudah mulai banyak yang datang karena sudah banyak orang yang tahu,” katanya.

Faktor lokasi juga menjadi perhatian. Gabriel Bagung mengakui kendala utama NTT Mart Manggarai Barat adalah lokasi yang kurang strategis dan sulit dijangkau pengunjung.

“Kami akan membenahi tempatnya,” ujarnya.

Selain lokasi, persaingan dengan toko oleh-oleh yang telah lebih dulu eksis di Labuan Bajo, kata dia, juga menjadi tantangan tersendiri.

Produk Lewat Kurasi

Yoga dari NTT Mart Kota Kupang menjelaskan bahwa pengadaan barang di NTT Mart menggunakan sistem pembelian langsung (beli putus) dari pelaku IKM, bukan sistem titip jual (konsinyasi).

“Sebelum dibeli, produk harus melalui proses kurasi dan verifikasi,” katanya.

Proses ini bertujuan memastikan produk memenuhi standar pemerintah, termasuk keamanan pangan dan legalitas usaha.

“Harus ada izin PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), sertifikat halal, dan standar legalitas lainnya,” ujar Yoga.

Produk yang dipasarkan difokuskan pada tiga kategori utama, yakni olahan pangan, kriya (kerajinan tangan), dan fesyen berbasis kain tradisional seperti tenunan.

Senada dengan itu, Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Manggarai Barat, Katarina Filomina Jun, mengatakan standar PIRT merupakan syarat minimal untuk menjamin kualitas produk.

“Terutama untuk makanan, karena risikonya tinggi,” katanya. Selain itu, produk yang dijual harus baru diproduksi dan tidak mudah kadaluarsa.

Doroteus Hartono di Manggarai Barat, Teofilus Afres di Manggarai Timur, Arsenius Agung Boli Ama di Flores Timur, dan Elkelvin Wuran di Kupang berkolaborasi mengerjaka laporan ini.

Editor: Petrus Dabu

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA