Tragedi Ayah dan Anak Tewas dalam Rumah di Manggarai Timur, Pemerintah Janji Perhatikan Pemulihan Psikologis Keluarga

Korban adalah perawat yang sedang menghadapi tekanan keluarga berat; anaknya yang berusia tujuh tahun sudah lama tidak bersekolah sejak dibawa sang ayah kembali ke kampung

Floresa.co – Seorang pria dan anak kandungnya yang berusia tujuh tahun tewas di dalam rumah di Golo Pering, Desa Golo Lero, Kecamatan Lamba Leda Timur, Kabupaten Manggarai Timur.

YGR (34), seorang perawat, dan anaknya BZD (7) ditemukan pada 11 Juni oleh keluarga yang pulang dari Borong, ibukota kabupaten, sekitar pukul 16.00 Wita.

Polisi menyebut YGR meninggal karena bunuh diri, setelah sebelumnya diduga menghabisi nyawa anaknya karena mengalami tekanan berat akibat persoalan keluarga.

Kasat Reskrim Polres Manggarai Timur, Iptu Ahmad Zacky Shodri, berkata, tragedi itu terungkap ketika ibu dan adik YGR mendapati pintu rumah terkunci dari dalam dan panggilan mereka tidak mendapat respons.

Mereka mengintip melalui jendela dan melihat BZD terbaring diam di atas tempat tidur.

Seorang tetangga diminta membantu membongkar jendela. Setelah berhasil masuk, mereka menemukan keduanya sudah tewas dan segera menghubungi polisi dan tenaga medis.

Tekanan Keluarga dan Anak yang Tak Lagi Sekolah

Zacky menyebut YGR sedang menghadapi gugatan perceraian dari istrinya dan keduanya sudah tidak tinggal serumah.

Karena persoalan itu, YGR membawa BZD kembali ke kampung halaman orang tuanya di Golo Pering.

Sejak saat itu, BZD tidak lagi bersekolah — padahal sebelumnya tercatat sebagai siswa di SD Ranaloba Borong.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Manggarai Timur, Pranata Kristiani Agas atau Ani Agas, menyebut kasus ini sebagai alarm keras tentang pentingnya penanganan tekanan psikologis dalam keluarga sebelum mencapai titik krisis.

“Hilangnya nyawa seorang anak bukan hanya kegagalan individu, tetapi juga cerminan perlunya pengawasan lingkungan sosial yang lebih peka. Setiap anak memiliki hak konstitusional untuk tumbuh dengan aman,” katanya.

Pihaknya menyatakan akan fokus pada pemulihan psikologis keluarga yang ditinggalkan, terutama sang ibu, dan memastikan lingkungan sekitar tidak mengalami trauma berkepanjangan.

“Kami tunggu situasi sudah kondusif, baru kami turun menemui keluarga korban,” kata Ani.

Ani juga menekankan pentingnya deteksi dini dan pelaporan segera ketika seseorang menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis berat.

“Semakin cepat kasus kekerasan atau tekanan psikologis dilaporkan dan ditangani, semakin kecil risiko korban mengambil jalan yang fatal,” katanya.

Editor: Anno Susabun

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami tekanan psikologis berat, segera hubungi layanan kesehatan jiwa terdekat atau Hotline Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan di 119 ext. 8.

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA