Pertengahan Tahun Ini 69 Pekerja Migran Asal NTT Meninggal di Luar Negeri, Mayoritas Berstatus Non-prosedural

Pada 31 Mei, Polda NTT dan BP3MI menggagalkan keberangkatan tujuh calon pekerja migran non-prosedural asal Kabupaten TTS ke Malaysia

Floresa.co – Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTT mengumumkan telah memulangkan 69 pekerja migran asal Provinsi NTT yang meninggal di luar negeri sejak Januari hingga awal Juni 2026. 

Hal tersebut terungkap dalam dokumen yang dirilis BP3MI yang bertajuk “Rekapitulasi Penanganan Pemulangan Jenazah PMI dan Status Penempatan” periode 1 Januari hingga 3 Juni 2026.

Kepala BP3MI NTT, Suratmi Hamida mengatakan sebanyak 67 orang merupakan pekerja migran non-prosedural, hanya dua orang yang tercatat berangkat melalui jalur resmi.

Dari data itu, kata dia, Kabupaten Ende mencatat jumlah kematian tertinggi dengan 11 kasus, disusul Kabupaten Malaka 10 kasus, dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) delapan kasus.

Kabupaten Kupang dan Sikka masing-masing mencatat tujuh kasus kematian, Belu dan Flores Timur masing-masing lima kasus, Nagekeo empat kasus, Lembata tiga kasus, dan Kota Kupang dua kasus. 

Sementara kabupaten lain masing-masing satu kasus.

“Data tersebut menunjukkan bahwa kematian pekerja migran asal NTT masih didominasi oleh mereka yang berangkat secara non-prosedural,” kata Suratmi kepada Floresa pada 6 Juni. 

Di tengah situasi tersebut, praktik migrasi non-prosedural terus terjadi.

Pada 31 Mei, Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPA dan PPO) Polda NTT bersama BP3MI NTT menggagalkan keberangkatan tujuh warga Kabupaten TTS di Bandara El Tari Kupang.

Di antara para calon pekerja tersebut, enam orang berasal dari Desa Binenok, Kecamatan Kot’olin, sementara seorang lainnya berasal dari Desa Bestobe, Kecamatan Tobu. Salah seorang di antaranya masih berusia 17 tahun 8 bulan.

Mereka berencana terbang menggunakan pesawat Lion Air dengan rute Kupang–Surabaya–Pontianak.

Direktur Reserse PPA dan PPO Polda NTT, Kombes Pol. Nova Irone Surentu berkata, petugas memperoleh informasi awal mengenai dugaan keberangkatan calon pekerja migran ke luar negeri tanpa melalui jalur resmi.

Saat diwawancarai petugas, kata dia, para calon pekerja migran tersebut awalnya mengaku hendak bekerja di Kalimantan Barat.

“Namun, pemeriksaan lebih lanjut menemukan sejumlah petunjuk yang mengarah pada tujuan akhir perjalanan mereka ke Malaysia,” katanya.

Tim Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang Polda NTT saat menggagalkan keberangkat tujuh calon pekerja migran non-prosedural asal Kabupaten TTS ke Malaysia pada 31 Mei 2026. (Dokumentasi Humas Polda NTT)

Suratmi menjelaskan, pihaknya bersama dengan polisi menemukan bukti pengiriman uang dalam mata uang Ringgit Malaysia. 

Selain itu, kata dia, dokumen lainnya seperti kartu tanda penduduk, telepon genggam, tiket penerbangan serta catatan alamat perusahaan perkebunan di wilayah Sandai, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat juga ikut diamankan. 

Ia berkata, para calon pekerja migran itu mengaku dihubungi seseorang yang berada di Malaysia dan dijanjikan pekerjaan di perusahaan kelapa sawit.

Salah satu pihak yang menghubungi mereka diduga merupakan suami dari salah seorang calon pekerja migran tersebut. 

“Rencananya, dari Pontianak, mereka diduga akan melanjutkan perjalanan menuju Malaysia,” kata Suratmi.

Kini, mereka sedang menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Polda NTT, sekaligus pendalaman terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam proses perekrutan dan pemberangkatan mereka.

Berkaca dari kasus ini, kata Suratmi, BP3MI NTT berkomitmen untuk terus “melakukan koordinasi dengan aparat penegak hukum dan pihak terkait untuk mencegah keberangkatan calon pekerja migran non-prosedural melalui bandara maupun pelabuhan di NTT.”

Editor: Herry Kabut

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA