Oleh: Dominiko Djaga
Bekerja di media independen yang dekat dengan masyarakat berarti bersiap menghadapi ketidaknyamanan, keberatan, hingga tekanan yang muncul dalam berbagai rupa. Rangkaian kejadian yang kami alami beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa tekanan itu kini mengambil bentuk yang lebih terarah dan lebih berbahaya.
Semuanya bermula dari serangkaian ruang diskusi yang kami fasilitasi melalui pemutaran film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita di beberapa titik di Flores.
Film itu memantik percakapan tentang konflik agraria, pembangunan, dan relasi kuasa—isu-isu yang bukan hanya relevan, tetapi merupakan denyut hidup masyarakat Flores hari ini.
Diskusi semacam itu bukan hal baru. Ia tumbuh dari pengalaman warga yang setiap hari berhadapan dengan perubahan sosial, ekonomi, dan politik.
Sebagai media yang lahir dan bertumbuh di tengah komunitas, kami percaya bahwa menginisiasi ruang diskusi adalah bagian dari kerja jurnalistik. Media bukan hanya penyampai informasi, tetapi penjaga ruang percakapan publik—ruang di mana warga bisa mendengar, bertanya, dan berbeda pendapat.
Pada pemutaran ketiga di Labuan Bajo, sutradara film, Dandhy Laksono, hadir langsung. Setelah itu, semuanya berjalan biasa. Liputan terbit, dokumentasi dibagikan, dan kerja redaksi berlanjut.
Lalu, sejak 12 Mei, sesuatu berubah.
Upaya masuk ke akun media sosial salah satu jurnalis kami—meski sudah dilindungi mekanisme keamanan—menjadi tanda pertama. Sehari kemudian, pesan intimidatif via WhatsApp masuk. Pengirimnya mengatasnamakan institusi negara dan mencantumkan data pribadi, termasuk alamat rumah.
Pada hari yang sama, seorang pria tak dikenal datang ke ruang kerja kami. Ia bertanya terlalu banyak: siapa yang tinggal di sana, aktivitas apa yang berlangsung, bagaimana akses kendaraan ke lokasi. Ia mengambil foto-foto, lalu pergi tergesa ketika beberapa anggota redaksi tiba.
Pada titik itu, kami tahu: ini bukan gangguan biasa. Ini adalah tekanan yang dirancang.
Tulisan ini bukan untuk membesarkan ancaman. Sebaliknya, ini adalah upaya mencatat, memahami, dan menegaskan satu hal: ketika tekanan datang, media tidak boleh kehilangan kejernihan, apalagi keberpihakan pada kepentingan publik.
Rasa takut sempat muncul. Tetapi keputusan kami tegas: kami tidak akan menurunkan konten apa pun karena intimidasi.
Indepensi yang Terus Diuji
Bagi media seperti Floresa, independensi bukan slogan. Ia diuji setiap hari—dalam pilihan isu, dalam suara yang diberi ruang, dalam keberanian untuk tetap berdiri ketika liputan atau diskusi yang kami bangun dianggap mengganggu kepentingan tertentu.
Prinsip keberpihakan pada kepentingan publik adalah fondasi yang membuat media tetap hidup. Namun prinsip yang sama juga membuat media rentan.
Tantangannya bukan hanya menjaga ruang redaksi bebas dari intervensi, tetapi bertahan ketika posisi editorial berhadapan langsung dengan kekuasaan—politik, ekonomi, maupun institusi yang selama ini jarang dipertanyakan.
Kesadaran itulah yang melandasi pemutaran Pesta Babi. Cerita tentang perampasan ruang hidup, kriminalisasi warga, tekanan terhadap masyarakat adat, atau pengalaman perempuan sebagai kelompok paling rentan dalam konflik sumber daya, bukanlah cerita jauh dari Flores.
Kami melihatnya dalam konflik di Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, ketika ruang hidup warga berhadapan dengan investasi dan konsesi. Kami mendengarnya dari penggusuran warga di Nangahale, Kabupaten Sikka, dalam konflik antara masyarakat adat dan korporasi milik Gereja Katolik.
Kami menyaksikannya dalam keresahan warga di berbagai titik proyek panas bumi—dari ancaman kehilangan ruang hidup hingga perdebatan dampak lingkungan.
Cerita-cerita itu hadir dalam kerja jurnalistik Floresa: dalam liputan, dalam perjumpaan dengan warga, dalam kesaksian yang kami dengar langsung, dan dalam keputusan editorial yang kami ambil.
Karena itu, ketika tekanan datang hanya karena kami membuka ruang diskusi atau menyebarkan informasi yang relevan bagi publik, persoalannya tidak lagi sekadar tentang keamanan redaksi. Pada titik itu, menyerah pada intimidasi berarti memberi kemenangan pada upaya membungkam ruang publik.
Lebih dari itu, ia berarti menggadaikan prinsip dasar jurnalisme: berpihak pada fakta, menjaga kepentingan publik, dan memastikan bahwa kebenaran tetap menemukan jalannya.
Tanggung Jawab Bersama
Ancaman terhadap media tidak pernah hanya menjadi persoalan internal redaksi. Ketika ruang diskusi ditekan, ketika liputan dianggap mengganggu, atau ketika media diintimidasi karena memilih berpihak pada kepentingan publik, yang dipertaruhkan adalah kesehatan ruang publik.
Kerja jurnalistik memang dimulai dari ruang redaksi, tetapi ia tidak bisa hidup hanya dengan keberanian jurnalis. Iklim jurnalisme yang sehat ditopang oleh publik yang kritis—yang mau membaca secara utuh, bertanya, menguji informasi, mengoreksi jika ada kekeliruan, dan menyadari bahwa akses terhadap informasi yang jujur dan independen tidak pernah datang dengan sendirinya.
Media bisa bertahan menghadapi tekanan, tetapi daya tahannya selalu lebih kuat ketika masyarakat memahami bahwa kebebasan pers bukan semata hak jurnalis, melainkan bagian dari hak publik untuk mengetahui, memahami, dan terlibat dalam menentukan arah hidup bersama.
Karena itu, apa yang kami alami bukan hanya cerita tentang Floresa. Ini adalah pengingat bahwa menjaga ruang demokrasi, merawat percakapan publik, dan memastikan suara-suara dari pinggiran tetap terdengar, bukan pekerjaan satu media, satu komunitas, atau segelintir orang saja. Ini adalah kerja bersama.
Selama masih ada publik yang kritis, yang peduli, dan yang menolak ketakutan dijadikan alat untuk membungkam kebenaran, ruang itu akan selalu punya kemungkinan untuk tetap hidup.
Dominiko Djaga adalah jurnalis Floresa
Editor: Anno Susabun


