Artikel-artikel yang ditulis oleh

Otto Gusti Madung

6 Artikel

Rocky Gerung, Filsafat, dan Kekuasaan

Oleh: Otto Gusti Madung Pada 2 Oktober 2026, Rocky Gerung yang dikenal sebagai intelektual publik dan aktivis masyarakat sipil dilantik oleh Presiden Prabowo sebagai anggota Dewan...

Militer versus Polisi dan Kemunduran Demokrasi

Ketika puluhan prajurit dikerahkan bukan untuk menjaga negara dari ancaman luar, melainkan menjaga satu pejabat dari lembaga penegak hukum lainnya, itu pertanda batas antara pertahanan dan kekuasaan sudah kabur.

Religiusitas Simbolik dan Dimensi Kenabian Agama

Melihat kontras antara reaksi umat Katolik di Flores atas penunjukkan Uskup Budi Kleden sebagai anggota dikasteri di Vatikan dengan respons atas pernyataannya yang mengkritik militerisasi, artikel ini mengajukan pertanyaan: apakah kita hanya bangga memiliki uskup yang dihormati di Roma, ataukah kita juga siap berdiri bersama uskup ketika ia menyuarakan kebenaran yang mungkin tidak popular?

Tentara Mengajar Menyetrika dan Regresi Demokrasi

Normalisasi militer dalam ruang-ruang sipil berpotensi membentuk budaya politik yang lebih menghargai kepatuhan daripada argumentasi, mengutamakan stabilitas daripada kebebasan, dan memilih komando daripada deliberasi

Ketakutan, Ruang Publik, dan Krisis Demokrasi

Ketika sebuah forum diskusi damai dianggap lebih berbahaya daripada kekuasaan yang tak terkontrol, demokrasi tidak sedang diserang dari luar — ia sedang membusuk dari dalam, tulis Otto Gusti Madung dari IFTK Ledalero.

Artikel Terbaru

Rocky Gerung, Filsafat, dan Kekuasaan

Oleh: Otto Gusti Madung Pada 2 Oktober 2026, Rocky Gerung yang dikenal sebagai intelektual publik dan aktivis masyarakat sipil dilantik oleh Presiden Prabowo sebagai anggota Dewan Penasihat Presiden. Peristiwa ini telah memicu kontroversi dan perdebatan di ruang publik. Selama ini publik mengenal Rocky sebagai figur yang kritis terhadap kekuasaan....

Menjaga Floresa dan Media Alternatif Lainnya Terus Bertahan

Di tengah kuasa yang ingin menentukan cerita dan modal yang dapat membeli perhatian, media alternatif berusaha memastikan mereka yang disingkirkan tetap punya tempat untuk bersuara. Jika Floresa dan media sejenis padam, bukan hanya redaksi yang hilang—warga kehilangan ruang untuk bersuara, kekuasaan kehilangan pengawas, dan ketidakadilan semakin leluasa bekerja.

Masalah Pariwisata Kian Menumpuk, Apa Gunanya Banyak Lembaga di Labuan Bajo?

Setengah juta wisatawan datang, tetapi penerimaan daerah masih terbatas, kecelakaan kapal berulang, penipuan mencoreng reputasi, dan warga kehilangan akses ke ruang hidupnya. Labuan Bajo tidak kekurangan lembaga. Yang langka adalah kendali, keberpihakan, dan pertanggungjawaban.

Sebelum Fajar, Warga Elar di Manggarai Timur Berburu Air dari Sumur Dangkal

Dari memikul jeriken sejak subuh hingga menyewa motor Rp10 ribu per jeriken, warga Desa Sisir bertahun-tahun berjuang memperoleh air. Pemerintah daerah menjanjikan pembangunan fasilitas air minum tahun ini.