Pengalaman sebagai Muslim di Flores mengajari saya bahwa solidaritas tidak memerlukan paspor agama. Nangahale menguji pelajaran itu: beranikah kita menggugat kuasa institusi keagamaan tanpa menjadikan perbedaan iman sebagai alasan untuk diam?
Bunuh diri karena kemiskinan bukan sekadar tragedi pribadi. Ia adalah tanda tanya sosial yang menagih jawaban: siapa yang bertanggung jawab ketika hidup rakyat menjadi begitu berat hingga kematian tampak sebagai jalan terakhir?
Kebebasan bukanlah hadiah cuma-cuma, tapi hak yang harus terus diperjuangkan. Camus menyoroti bagaimana penindasan penguasa dan rezim totaliter membungkam nurani, pers, dan masyarakat.
Tak hanya mengkritik pembesar, novel ini menghidupkan “dulce et utile,” istilah untuk menggambarkan karya sastra yang tidak saja menghibur tetapi juga memberi manfaat bagi pembacanya
Esai Adriani Miming menunjukkan bahwa kelelahan kerja dan tekanan ekonomi ikut menguras ruang bagi cinta. Tulisan ini menyambut argumen tersebut, lalu melengkapinya dengan beban adat di Flores dan kebebasan memilih jalan hidup: menikah maupun melajang bukan perlombaan.
Warga mengandalkan air kali, membeli air sumur bor dan menampung hujan. Rencana jaringan air bersih terkendala lahan dan anggaran; peluang pendanaan pada 2028 pun belum pasti.
Alat sadap yang seharusnya melindungi negara berbalik mengintai kepala negara. Persoalannya bukan hanya siapa menyadap siapa, tapi siapa mengawasi merekayang memegang kunci.
Jangan menyebutnya toleransi jika sebagian warga harus kehilangan hak agar sebagian lainnya dapat merayakan iman. Di jalan raya, kesalehan bukan alasan untuk mendominasi.