Artikel-artikel yang ditulis oleh

Arif Harmi Hidayatullah

4 Artikel

Dalam Bayang-Bayang Pembangunan: Membaca Flores Hari Ini Lewat “Krisis Kebebasan” Albert Camus

Kebebasan bukanlah hadiah cuma-cuma, tapi hak yang harus terus diperjuangkan. Camus menyoroti bagaimana penindasan penguasa dan rezim totaliter membungkam nurani, pers, dan masyarakat. 

Mempertanyakan Indonesia yang ‘Sakit-sakitan’ Lewat Dialog Kritis Dua Anak Muda dalam ‘Menunggu Matahari Melbourne’ 

Tak hanya mengkritik pembesar, novel ini menghidupkan “dulce et utile,” istilah untuk menggambarkan karya sastra yang tidak saja menghibur tetapi juga memberi manfaat bagi pembacanya

Perempuan Poco Leok Latih Buat Pembalut Ramah Lingkungan, Cara untuk Berdaya di Tengah Tekanan Proyek Geotermal

Pembalut ramah lingkungan menyehatkan organ reproduksi sekaligus membantu menjaga keseimbangan alam

Artikel Terbaru

Empat Alasan Uskup Agung Ende Tolak Pembangunan Markas Militer Besar-besaran di Flores

Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, membeberkan empat alasan mengapa militerisasi Flores tidak dapat dibenarkan — dari absennya justifikasi yang jelas hingga ancaman terhadap tanah dan demokrasi. "Apa alasannya? Saya tidak melihat alasan yang cukup untuk menghadirkan kekuatan militer sebesar itu," tegasnya.

Camat di Manggarai: Kehadiran Perusahaan Tambang Berkah di Tengah Efisiensi Prabowo 

“Kalau kita rindu pemerintah menjawab semua kebutuhan, sabar dulu. Tapi [perusahaan] ini yang sudah membantu kita, mengintervensi kebutuhan warga,” kata camat tersebut.

Hak Jawab Puri Sari Hotel di Labuan Bajo: Bantah Eksploitasi Pelajar PKL, Sejumlah Poin Berbeda dengan Temuan Floresa

Manajemen menyebut sistem penalti sebagai pembinaan disiplin dan menyatakan siswa PKL tetap mendapat libur mingguan. Sejumlah klaim ini bertentangan dengan kesaksian langsung siswa PKL yang diperoleh Floresa dalam liputan

Kelompok Ragam Gender dan Seksualitas adalah Fakta Sosial, Alasan Kami Menulis tentang Mereka

Liputan kami tidak menciptakan realitas itu, hanya memberi ruang agar realitas yang sudah ada bisa mendapat tempat dalam percakapan publik.