‘Broken Strings’ dan Keberanian Perempuan Melawan Kekerasan Seksual

Kekerasan kerap menyamar sebagai cinta; memoar Aurelie Moeremans membongkar jerat itu dan menunjukkan mengapa suara korban tak boleh lagi dibungkam.

Judul buku: Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah; Penulis: Aurelie Moeremans; Jumlah halaman: 220; Tahun terbit: 2025


Broken Strings karya Aurelie Moeremans bukan sekadar catatan tentang pengalaman pahit seorang perempuan. Buku ini memperlihatkan bagaimana perhatian, rayuan, dan janji perlindungan dapat berubah menjadi alat untuk menguasai seseorang. Di tengah masih seringnya kekerasan terhadap perempuan diperlakukan sebagai urusan pribadi, kisah Aurelie penting dibaca sebagai ajakan untuk mengenali relasi yang tidak sehat dan berani memutusnya.

Aurelie Alida Marie Moeremans lahir di Brussel, Belgia, dan tumbuh dalam latar keluarga Indonesia-Belgia. Setelah pindah ke Indonesia, ia menapaki dunia hiburan sejak usia belasan tahun melalui modeling, iklan, sinetron, film, dan musik. Publik mengenalnya antara lain lewat Story of Kale: When Someone’s in Love dan Story of Dinda: Second Chance of Happiness. Jejak sebagai aktris itu membuat keputusan menulis Broken Strings terasa penting: sosok yang selama ini hadir melalui peran-peran fiksi kini mengambil alih suaranya sendiri untuk menuturkan bagian hidup yang lama tersembunyi.

Aurelie memasuki dunia hiburan ketika masih remaja. Pada masa itu ia berkenalan dengan Bobby, seorang pria yang jauh lebih dewasa. Hubungan mereka mula-mula tampak sebagai kisah cinta biasa: ada perhatian, hadiah, dan kesediaan menemani. Namun, perlahan perhatian itu berubah menjadi kendali. Bobby memengaruhi keputusan Aurelie, menjauhkannya dari keluarga, menguasai keuangannya, serta menggunakan ancaman dan rasa bersalah agar Aurelie tetap bertahan.

Kekuatan buku ini terletak pada keberaniannya memperlihatkan bahwa kekerasan tidak selalu bermula dari pukulan. Ia dapat hadir melalui kata-kata manis, manipulasi, pembatasan pergaulan, penguasaan ekonomi, dan tuntutan kepatuhan. Karena berlangsung bertahap, korban sering tidak segera menyadari bahwa kebebasannya sedang dirampas. Judul Broken Strings menjadi metafora yang tepat: senar-senar kendali itu harus diputus agar seseorang dapat kembali menentukan hidupnya sendiri.

Meski mengangkat pengalaman pribadi, buku ini tidak berhenti pada pengakuan. Aurelie menunjukkan proses panjang untuk mengenali kekerasan, melawan ketakutan, mencari dukungan, dan memulihkan martabat. Perubahan dirinya dari sosok yang terus mengiyakan menjadi perempuan yang berani berbicara merupakan bagian paling kuat. Keberanian itu tidak digambarkan sebagai tindakan sesaat, melainkan sebagai proses yang membutuhkan waktu, dukungan, dan keyakinan bahwa korban tidak bersalah atas kekerasan yang dialaminya.

Sebagai memoar, Broken Strings bekerja melalui ingatan yang disusun dari sudut pandang orang yang mengalaminya. Aurelie tidak berpura-pura menjadi pengamat yang netral. Ia menulis dengan jarak seorang dewasa yang menengok kembali masa remajanya, sehingga pembaca dapat melihat perbedaan antara apa yang dahulu dianggap cinta dan apa yang kini dikenali sebagai manipulasi. Jarak waktu itu memberi buku ini daya reflektif: pengalaman pribadi tidak hanya diceritakan, tetapi juga ditafsirkan ulang.

Pilihan bahasa yang langsung membuat memoar ini mudah diikuti. Aurelie tidak menumpuk istilah psikologis atau menjadikan luka sebagai tontonan. Ia lebih banyak menunjukkan pola: pelaku membangun kepercayaan, menguji batas, membuat korban bergantung, lalu mengasingkannya dari orang-orang yang dapat menolong. Pola tersebut membantu pembaca mengenali bahwa ketimpangan usia dan kuasa dapat membuat sebuah hubungan tampak sukarela dari luar, padahal ruang memilih korbannya terus menyempit.

Bagi pembaca di Flores dan NTT, pesan buku ini terasa dekat. Sepanjang 2025, Pemerintah Provinsi NTT mencatat 738 kasus kekerasan terhadap perempuan dalam berbagai bentuk. Angka tersebut mengingatkan bahwa rumah dan relasi dekat belum selalu menjadi ruang aman. Karena banyak korban masih takut, malu, atau kesulitan mengakses layanan, keberanian untuk berbicara perlu disambut dengan pendampingan, bukan penghakiman.

Broken Strings juga menantang kebiasaan yang memaknai kepatuhan perempuan secara mutlak. Ikatan keluarga, adat, atau agama tidak boleh dipakai untuk membenarkan kontrol dan kekerasan. Di lingkungan yang hubungan kekerabatannya kuat, keluarga besar, tetangga, sekolah, komunitas iman, dan pemerintah desa justru dapat menjadi jaringan awal untuk mengenali tanda bahaya dan menghubungkan korban dengan layanan yang aman.

Buku ini tetap memiliki keterbatasan. Karena bertumpu pada pengalaman personal, pembaca tidak memperoleh penjelasan luas mengenai sistem hukum atau layanan pemulihan. Namun, justru suara personal itulah yang membuat persoalan kekerasan tidak terasa sebagai angka yang jauh. Pembaca diajak melihat bagaimana kendali bekerja dalam keseharian dan bagaimana pemulihan dimulai ketika korban dipercaya.

Relevansi buku ini juga terletak pada pendidikan sejak dini. Remaja perlu dibekali pemahaman bahwa perhatian bukan alasan untuk menyerahkan seluruh kendali kepada pasangan. Orang tua dan pendidik perlu membangun ruang bicara yang aman, sehingga anak tidak takut menceritakan relasi yang membuatnya tertekan. Pencegahan berawal dari kemampuan mendengar, menghormati batas pribadi, dan tidak menormalisasi kecemburuan atau pengawasan berlebihan sebagai bukti cinta.

Hal lain yang patut dihargai ialah cara Aurelie mengubah ketenaran menjadi ruang kesaksian. Broken Strings mula-mula ditulis dalam bahasa Inggris, kemudian hadir pula dalam bahasa Indonesia dan dibagikan secara luas. Pilihan ini memperluas jangkauan ceritanya, terutama bagi pembaca muda yang mungkin belum memiliki kosakata untuk menamai pengalaman manipulasi. Buku ini lalu berfungsi bukan hanya sebagai rekaman hidup, tetapi juga pintu masuk menuju percakapan publik.

Pada akhirnya, membaca Broken Strings berarti belajar bahwa cinta tidak boleh menghapus kebebasan, martabat, dan hak untuk berkata tidak. Buku ini layak dibaca oleh remaja, orang tua, pendidik, dan pendamping komunitas di NTT. Pesannya sederhana tetapi mendesak: dengarkan korban, kenali tanda-tanda kekerasan, dan jangan biarkan siapa pun menghadapi jerat itu sendirian. Ketika satu perempuan berani bersuara, masyarakat harus memastikan suaranya tidak kembali dibungkam.

Paulus Ola Putra Hansen dalam mahasiswa Program Studi Filsafat di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

Editor: Ryan Dagur

Terima kasih telah membaca artikel kami. Jika tertarik mendukung kerja-kerja jurnalisme kami, Anda bisa memberi kami kontribusi, dengan klik di sini. Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL LITERASI LAINNYA

TERKINI

LITERASI YANG BANYAK DIBACA