Ketika rumah dirobohkan, warga dipidana, dan tanah masih disengketakan, pertanyaan jurnalistik bukan penghinaan terhadap Gereja. Ia adalah kewajiban memeriksa kuasa—termasuk kuasa yang berbicara atas nama iman.
Menurunkan artikel yang prosesnya melanggar kesepakatan bukanlah tunduk pada tekanan. Itu adalah tanggung jawab etik. Jika ada bukti tentang “deal” lain, uji, konfirmasi, lalu tulislah—karena itulah kerja jurnalis.
Di tengah kuasa yang ingin menentukan cerita dan modal yang dapat membeli perhatian, media alternatif berusaha memastikan mereka yang disingkirkan tetap punya tempat untuk bersuara. Jika Floresa dan media sejenis padam, bukan hanya redaksi yang hilang—warga kehilangan ruang untuk bersuara, kekuasaan kehilangan pengawas, dan ketidakadilan semakin leluasa bekerja.
ARMA 2026 bukan hanya pengakuan atas kerja redaksi, tetapi juga pengingat bahwa suara warga Tonggurambang harus terus dibawa ke ruang publik. Dari pengalaman mereka, kami belajar bahwa mengabaikan isu ruang hidup warga adalah kegagalan besar jurnalisme.
Di pinggir Jalan Trans Flores, warga yang rumahnya diratakan perusahaan milik Gereja menyalakan pelita dan berdoa Rosario. Dari rumah-rumah bambu tanpa listrik, mereka menagih kasih yang terus dikhotbahkan, tetapi absen ketika tanah mereka diperebutkan, martabat mereka diinjak, dan hidup mereka diseret ke meja hijau.
Lewat “Tragedi Tanah Kita”, pelajar SMAN 2 Komodo menghidupkan kembali kecemasan warga terhadap tambang dan proyek geotermal: siapa menikmati pembangunan, dan siapa menanggung kehilangan tanah, air, serta budaya?
Ketika rumah dirobohkan, warga dipidana, dan tanah masih disengketakan, pertanyaan jurnalistik bukan penghinaan terhadap Gereja. Ia adalah kewajiban memeriksa kuasa—termasuk kuasa yang berbicara atas nama iman.
Imam tersebut menyerukan warga yang berkonflik dengan korporasi milik Keuskupan agar “kembali”, sembari menyerang pendamping warga dan mengaitkan sengketa agraria dengan kesetiaan umat kepada Gereja Katolik.