Artikel-artikel yang ditulis oleh

Ryan Dagur

25 Artikel

Mengapa Kami Meliput Perempuan di Pub Le Dupar?

Pekerjaan seseorang tidak pernah menentukan apakah ia layak diperlakukan sebagai manusia. Eksploitasi tetaplah eksploitasi—apa pun seragam yang dikenakan korbannya.

Kami Meliput Perjalanan Kasus Yohanes Flori. Rupanya Kami Satu-satunya

Catatan redaksi tentang satu kasus yang hampir tak terdengar - dan tentang mengapa kami memilih mengawalnya sejak penangkapan hingga vonis bebas

Menafsir Pesan Surat Gembala Prapaskah-Paskah Uskup Labuan Bajo

Ketika Uskup Maksimus Regus menyatakan bahwa "pariwisata boleh berkembang, tetapi ciptaan tidak boleh rusak," ia kiranya sedang meletakkan syarat moral yang tidak bisa ditawar: pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan integritas ekologis yang menjadi fondasi kehidupan bersama

Setelah Buron Kasus Pemerkosaan Anak itu Akhirnya Ditindak

Dalam menulis kasus kekerasan seksual, juga kasus-kasus lain yang terkait kelompok rentan, kami menegaskan sikap untuk berpihak pada korban

Bagaimana Kami Menulis Kasus Pemerkosaan di Flores Timur oleh Tersangka yang Sudah Jadi Anggota TNI?

Kami berharap perhatian media pada kasus kekerasan seksual bisa membuat lebih banyak korban berani bersuara

Artikel Terbaru

Mengapa Kami Meliput Perempuan di Pub Le Dupar?

Pekerjaan seseorang tidak pernah menentukan apakah ia layak diperlakukan sebagai manusia. Eksploitasi tetaplah eksploitasi—apa pun seragam yang dikenakan korbannya.

Suster Rita, SSpS: Perempuan Pekerja Pub Juga Manusia, Mereka Punya Hak

Stigma terhadap pekerja perempuan kerap menutupi persoalan yang lebih besar: pelanggaran hak, kekerasan, dan dugaan praktik perdagangan orang di balik bisnis hiburan malam.

Rekan Sekamar Meninggal, Pekerja Pub Le Dupar Dipaksa Layani Tamu, Berbohong kepada Polisi

Barang bukti medis diperintahkan dibuang. Pada malam yang sama, mereka harus tetap tersenyum melayani tamu

“Seperti Sapi Perah,” Kisah Pekerja Pub Le Dupar, Labuan Bajo

Sejak hari pertama, langsung ada utang. Diawasi tanpa henti. Dua mantan pekerja mengungkap sistem yang membuat mereka nyaris tak punya jalan keluar — privasi lenyap, gerak dibatasi, rasa takut menghantui setiap hari.