Floresa.co – Beberapa hari lalu kami mempublikasi satu catatan kecil tentang bagaimana kami menulis kasus pemerkosaan terhadap anak di Kabupaten Flores Timur oleh pelaku yang sudah dilantik jadi tentara.
Dalam tulisan itu kami memberi catatan soal pentingnya perhatian publik pada setiap kasus kekerasan seksual, yang bisa berdampak pada upaya institusi negara untuk serius menanganinya.
Harapan itu setidak-tidaknya terjawab ketika pada hari ini, 12 Maret, institusi kepolisian mengumumkan bahwa tersangka dan buron Aloysius Dalo Odjan (ADO) itu akhirnya diserahkan ke Polres Flores Timur untuk menjalani proses hukum.
Statusnya sebagai prajurit pun dicabut. Itu berarti ia hanya sebulan lebih jadi tentara usai dilantik pada 4 Februari.
Perkembangan terbaru ini tentu sulit dibayangkan andai kasus ini tak mendapat atensi luas. Intensitas pembicaraan tentangnya setidaknya bisa merobohkan tembok ketidakpedulian institusi terhadap korban yang berusia 16 tahun dan keluarganya.
Tentu, prosesnya tak hanya sampai di sini. Mengawal tindak lanjutnya oleh Polres Flores Timur masih menjadi pekerjaan bersama.
Jika kasus ini tidak mengemuka ke publik, kisahnya mungkin akan lain; korban dan keluarganya bisa jadi putus asa, sementara ADO tetap dengan nyaman memakai seragam prajurit.
Dalam menulis kasus kekerasan seksual, juga kasus-kasus lain yang terkait dengan kelompok rentan, kami menegaskan sikap untuk berpihak pada korban.
Keberpihakan itu diterjemahkan dalam cara mengkonstruksi setiap laporan, mulai dari soal framing, angle, narasumber, juga pada diksi yang kami pakai.
Karena itu, kami tidak sepakat dengan pandangan bahwa media (mesti) netral. Itu adalah ilusi karena setiap media, diakui atau tidak, punya keberpihakan atau setidaknya preferensi nilai. Yang membedakannya adalah berpihak kepada apa dan siapa.
Tentu saja, ada catatan penting bahwa berpihak tidak berarti mengabaikan prinsip-prinsip penting dalam jurnalistik. Fakta tetap diperlakukan sebagai sesuatu yang sakral, sembari memastikan ketaatan pada patokan dasar kode etik.
Kami terus menjaga agar ruang redaksi tetap berpegang teguh pada pilihan untuk berpihak sesuai dengan nilai-nilai yang kami yakini yang memberi kami jalan untuk selalu melayani kepentingan publik.
Ini memang pilihan yang tidak mudah, karena perasaan was-was dan takut sering muncul ketika menulis isu yang sensitif, menyinggung orang atau lembaga yang punya kuasa atau mereka yang punya kedekatan personal dengan kami.
Kami setia dengan jalan ini karena yakin bahwa kawan-kawan pembaca juga menginginkannya. Bahwa media mesti kembali ke relnya, untuk kembali memahami peran jurnalisme sesungguhnya.
Selama peliputan kasus ini, ada beberapa pembaca yang mengirim dukungan dana. Salah satu di antaranya memberi pesan bahwa donasinya untuk mendukung operasional peliputan kasus kekerasan seksual ataupun kasus lainnya.
Setiap dukungan yang kami terima memang dimanfaatkan untuk operasional peliputan dan masih banyak kasus yang sedang dan akan kami tulis, di samping kasus pemerkosaan ini.
Kami pun berharap kawan-kawan lain tergerak untuk ikut mendukung kami. Caranya bisa dicek di tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami
Dengan mendukung kerja-kerja kami, Anda tentu telah ikut membantu mereka yang menjadi subjek liputan kami, termasuk para korban yang tentu hanya ingin agar bisa menjalani hidup dengan normal-normal saja.
Dan, ketika masalah tiba-tiba datang menerpa, seperti kekerasan seksual, mereka merasa dikuatkan karena ada yang peduli dan mau bersolidaritas.
Ryan Dagur adalah editor Floresa




