Bagaimana Kami Menulis Kasus Pemerkosaan di Flores Timur oleh Tersangka yang Sudah Jadi Anggota TNI?

Kami berharap perhatian media pada kasus kekerasan seksual bisa membuat lebih banyak korban berani bersuara

Floresa.coPada pertengahan Februari, seseorang mengirim pesan via salah satu akun media sosial kami.

Isinya berupa permintaan agar kami bisa menulis kasus kekerasan seksual di Kabupaten Flores Timur yang ia sebut mandek di kepolisian.

Pengirim pesan itu, yang adalah kerabat korban, berharap kami bisa memberi perhatian, dengan memberitakannya.

Ia juga memberi tahu bahwa pelaku baru saja dilantik menjadi anggota TNI Angkatan Darat, meskipun sudah menjadi tersangka sebelum ikut seleksi dan kemudian jadi buron.

Kami segera membalas pesan itu, memastikan bahwa kami akan menindaklanjutinya. Kami meminta mengirim nomor ponsel dan berjanji salah satu jurnalis kami akan segera kontak.

Janji itu kami tepati dengan secara khusus memberi mandat kepada salah satu jurnalis menggarap liputan tersebut. 

Jurnalis kami menghubungi ibu korban, menggali cerita dari beberapa pihak untuk mendapat gambaran utuh dan memverifikasi sejumlah informasi yang masih kabur.

Setelahnya ia menghubungi Polres Flores Timur untuk mencari tahu seperti apa pola penanganan yang telah mereka lakukan. 

Berbekal informasi dari keluarga korban dan polisi bahwa sudah ada koordinasi dengan polisi militer soal penanganan kasus ini, kami juga mendatangi kantor Denpom IX/1 Kupang.

Jurnalis kami juga berdiskusi dan meminta pandangan aktivis perempuan, termasuk soal tendensi upaya keluarga pelaku mendorong penyelesaian di luar proses hukum.

Kisah rinci kasus ini bisa kawan-kawan baca pada liputan ini ‘Putri Saya Diperkosa. Pelaku Sudah Tersangka, Namun Ia Kemudian Jadi TNI. Saya Tuntut Keadilan.’ Kami mempublikasinya pada 2 Maret.

Kami antusias saat menerima pesan kerabat korban itu karena kami memilih memberi perhatian khusus pada kasus-kasus kekerasan seksual.

Kami menganggap kekerasan seksual sebagai masalah serius, namun belum banyak korban yang berani bicara, perhatian media juga terbatas, sementara penanganannya sering lamban, berbelit-belit. 

Padahal, dampaknya sangat serius dan jangka panjang pada para korban dan keluarga mereka.

Kawan-kawan bisa ikuti laporan-laporan kami sebelumnya tentang kasus-kasus ini. Salah satu liputan kami yang menyedot perhatian luas adalah investigasi tentang kasus kekerasan seksual di salah satu kampus di Flores, dengan korban  mahasiswa oleh pelaku tokoh agama. 

Liputannya itu kami publikasi pada akhir November tahun lalu dan pelaku kemudian diumumkan dipecat sehari setelahnya.

Karena itulah, kami tidak punya banyak pertimbangan sebelum berkata ‘Ya’ untuk menggarap setiap liputan kasus kekerasan seksual.

Saat pengirim pesan itu mengetahui bahwa kami berulang kali berkomunikasi dengan keluarganya, ia mengirimi kami pertanyaan: berapa biaya yang mereka siapkan untuk pengerjaan liputan itu? 

Kami menjawabnya: mereka tak perlu memikirkan hal itu karena sudah menjadi tugas media untuk meliputnya, sekaligus sebagai bentuk solidaritas kami terhadap korban dan keluarganya.

Kami memberitahunya akan terus mengawal perkembangan kasus ini dan meminta kesediaan mereka untuk selalu memberi kami informasi.

Sebagai media independen, kami memang butuh dukungan untuk terus bertahan. Namun, kami memilih agar dukungan itu tidak kami peroleh dari mereka yang sedang menghadapi masalah, apalagi kekerasan seksual. 

Mereka tidak harus membayar agar media bisa menulis kasus mereka.

Kami selalu meyakini bahwa dukungan bisa datang dari mana saja, dari kawan-kawan yang percaya bahwa jurnalisme memang sudah seharusnya melayani kepentingan publik, terutama mereka yang rentan. 

Karena itu, menjadi tanggung jawab bersama pula untuk memastikan media yang setia pada jalan demikian bisa terus hidup.

Kami berharap perhatian media pada kasus kekerasan seksual bisa membuat lebih banyak korban berani bersuara, sekaligus memberi pesan pada pelaku bahwa setiap tindakan mereka tidak lagi bisa didiamkan.

Kawan-kawan bisa ikut menemani kami untuk misi ini, dengan ikut membantu tim kami, yang caranya bisa dicek di sini: https://floresa.co/dukung-kami

Dengan secara sukarela ikut mendukung kerja-kerja kami, Anda juga telah ikut membantu para korban, juga keluarga mereka, yang berharap agar peristiwa kelam yang menimpa mereka mendapat perhatian dari orang-orang yang peduli, yang mau bersolidaritas untuk kemanusiaan.

Kami senang karena liputan itu rupanya telah mendorong salah satu lembaga advokasi untuk mendampingi korban menuntut keadilan.

Jurnalis kami telah membantu menghubungkan lembaga itu dengan keluarga korban.

Ryan Dagur adalah editor Floresa

Editor: Anno Susabun

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA