Dari memikul jeriken sejak subuh hingga menyewa motor Rp10 ribu per jeriken, warga Desa Sisir bertahun-tahun berjuang memperoleh air. Pemerintah daerah menjanjikan pembangunan fasilitas air minum tahun ini.
“Petani tidak hanya membutuhkan jalan untuk membawa hasil panen ke pasar. Mereka membutuhkan tanah yang tetap produktif, air yang cukup, lingkungan yang aman, dan kepastian bahwa mereka masih dapat bertani hari ini maupun di masa depan,” kata warga.
Di Forum Geotermal Flores-Lembata, Sudirman Said menempatkan panas bumi sebagai energi bersih yang potensial, tetapi mengingatkan bahwa proyek dapat kehilangan legitimasi ketika warga tidak diperlakukan sebagai subjek.
Ketika bangunan berat tanpa standar menggantikan pengetahuan yang teruji oleh lingkungan, kemajuan justru dapat memperbesar risiko. Rekonstruksi harus menyatukan ilmu teknik, kecakapan setempat, dan tata kelola bahan yang berkelanjutan.
Di Nangahale, Gereja tidak cukup menyerukan dialog. Ia harus menghentikan penggunaan kuasa rohani dan hukum untuk menekan umat, membuka asal-usul tanah secara jujur, dan bersedia diperiksa.
Lewat “Tragedi Tanah Kita”, pelajar SMAN 2 Komodo menghidupkan kembali kecemasan warga terhadap tambang dan proyek geotermal: siapa menikmati pembangunan, dan siapa menanggung kehilangan tanah, air, serta budaya?