Rekam Pengalaman Personal, Kaum Muda di Manggarai Barat Kampanyekan Pangan Lokal Lewat Buku

Buku tersebut diharapkan dapat menjadi ruang belajar kolektif yang memperkuat suara orang muda dalam membicarakan sistem pangan

Floresa.co – Kaum muda di Kabupaten Manggarai Barat mengkampanyekan pangan lokal melalui buku yang merekam pengalaman personal, termasuk memori masa kecil mereka tentang pangan.

Buku tersebut yang merupakan kompilasi zine atau majalah berjudul “Laci-Laci Kecil di Kepala” diluncurkan dalam lokakarya di Pavilla Labuan Bajo pada 26 April.

Lokakarya bertajuk “Icip-icip Memori Pangan” itu diselenggarakan Pamflet Generasi yang berkolaborasi dengan Suap-Suapan. 

Pamflet Generasi merupakan organisasi nirlaba yang mengedepankan interseksionalitas dan partisipasi orang muda dalam mengadvokasi berbagai isu sosial, termasuk sistem pangan berkelanjutan.

Sementara Suap-Suapan merupakan komunitas yang fokus melestarikan resep makanan lokal.

Dalam keterangan yang diperoleh Floresa, Pamflet Generasi menjelaskan, peluncuran buku tersebut merupakan momentum untuk memperkenalkan 29 zine yang ditulis oleh orang muda dari Manggarai Barat, Bandung, dan Jakarta. 

Setiap zine merekam pengalaman personal orang muda tentang pangan–terutama ingatan masa kecil, yang kemudian dirangkai menjadi refleksi kolektif tentang perubahan sistem pangan.

Buku tersebut merupakan hasil dari program Urban Futures bertajuk “Simpang Belajar: Terhubung dan Belajar” yang diselenggarakan oleh Pamflet Generasi dengan dukungan Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, melibatkan 29 orang muda yang aktif mengadvokasi isu pangan. 

Urban Futures merupakan program global yang berlangsung pada 2023-2027 dengan fokus pada sistem pangan perkotaan, kesejahteraan kaum muda dan aksi iklim. 

“Buku ini juga menjadi medium refleksi untuk mendiskusikan isu pangan dalam konteks ekonomi, budaya, dan politik yang lebih luas,” tulis Pamflet Generasi.

Dicky Senda, kurator buku dan pegiat pangan asal Mollo, Kabupaten Timor Tengah Selatan berkata, buku tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman orang muda dalam mengajak masyarakat luas untuk memahami tantangan pangan secara kolektif. 

“Mereka menggambar ulang isi laci personal ke medium zine ini. Ada yang membukanya dengan pasti, menemukan laci-laci penuh memori dan perasaan. Kemudian beranjak menuju titik refleksi yang sama: dari cara pandang personal menjadi kesadaran kolektif yang baru, sebagai modal untuk bergerak,” kata Dicky yang mengelola komunitas Lakoat Kujawas di Desa Taiftob.

Dicky berkata, buku tersebut menyoroti bahwa generasi muda tidaklah homogen dan pengalaman mereka terhadap pangan dibentuk oleh beragam faktor seperti gender, kelas sosial, kondisi ekonomi, hingga lokasi geografis. 

Karena itu, narasi yang dihadirkan dalam buku ini menjadi penting untuk memperkaya diskursus sistem pangan yang lebih inklusif.

Elizabet Yani Tararubi atau Liz, pendiri Dapur Tara yang menjadi salah satu narasumber Lokakarya “Icip-icip Memori Pangan” di Labuan Bajo pada 26 April 2026. (Dokumentasi Pamflet Generasi)

Lokakarya itu juga menghadirkan Elizabet Yani Tararubi, pendiri Dapur Tara yang berbasis di Melo, Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling. Dapur tersebut menyajikan aneka kuliner tradisional, bagian dari upaya melestarikan pangan lokal Flores.

Dalam sesi “icip-icip”, ia mengajak peserta untuk menelusuri kembali makna pangan melalui ingatan dan rasa. 

Ia menilai, perkembangan Labuan Bajo yang sangat pesat membuat orang mudah menjual tanah. Dampaknya adalah semangat bertani maupun berkebun mulai hilang. 

Sementara itu, Wilsa Naomi, pengarah editorial dan produksi buku tersebut berkata, peluncuran dalam format lokakarya dipilih untuk memperluas cara publik berinteraksi dengan buku. 

“Harapannya, lewat icip-icip hidangan ini, teman-teman juga bisa merefleksikan kembali persoalan pangan dan terpantik untuk mempertanyakan mengapa ada makanan yang tergeser ataupun hilang,” katanya.

Pamflet Generasi berharap buku tersebut dapat menjadi ruang belajar kolektif yang memperkuat suara orang muda dalam membicarakan sistem pangan, sekaligus menegaskan bahwa pengalaman personal memiliki peran penting dalam memahami tantangan pangan secara bersama. 

Editor: Anno Susabun

Dukung Kami

Ada cerita yang terlalu berisiko untuk diberitakan, korban yang terlalu lemah untuk didengar, dan mereka yang terlalu berkuasa untuk disentuh.
Floresa memilih memberi perhatian pada semua itu. Kami tidak bergantung pada iklan korporasi atau kepentingan politik. Independensi kami dibiayai oleh pembaca yang percaya bahwa kebenaran harus diungkap tanpa kompromi.
Dukung kami untuk terus bertahan. Caranya bisa cek di sini

BACA JUGA