Labuan Bajo terus dijual sebagai wajah pariwisata premium Indonesia.
Namun, di balik promosi itu, ada kenyataan getir: wisatawan bisa datang membawa uang, membeli paket mahal, lalu pulang dengan rasa tertipu karena negara belum mampu memastikan siapa yang benar-benar layak dipercaya.
Dua kasus terbaru bulan ini hanya membuka luka yang selama ini dibiarkan bernanah.
Sebanyak 22 wisatawan asal Tiongkok tiba tanpa kepastian kapal setelah dana Rp244,2 juta digelapkan agen. Enam wisatawan asal Italia juga gagal berlayar dan harus menyewa kapal lain setelah agen perjalanan tidak memberi kepastian. Agen itu sudah melakukan penipuan berulang.
Ini bukan lagi kisah “oknum” yang bisa dipadamkan dengan permintaan maaf atau pengembalian uang.
Ini adalah cerita tentang sistem yang longgar, pengawasan yang tidak jelas, dan penyelesaian damai yang terlalu sering memberi jalan pulang bagi pelaku, sementara wisatawan, pelaku usaha yang jujur, dan warga Labuan Bajo menanggung kerusakan reputasi.
Sampai kapan Labuan Bajo dipromosikan sebagai surga wisata, sementara sistemnya membiarkan penipu turis menemukan tempat yang nyaman?

