Itok yang Sempat Aman Kembali Tidak Aman

Ia membangun citra sebagai komedian, pembawa acara, dan figur media sosial. Namun, jejak penipuan wisatawan membuat pesona itu berbalik menjadi beban reputasi—bagi dirinya, korban, pelaku usaha yang bekerja benar, dan Labuan Bajo.

Floresa.co – Itok Aman seharusnya aman. Setidaknya, begitu bunyi namanya.

Namun, dalam perkara wisatawan yang kembali menyeret Kristoforus Aman alias Itok Aman, kata “aman” justru terdengar seperti sindiran yang terlalu telanjang untuk diabaikan.

Kasus terbaru bermula dari enam wisatawan asal Italia yang gagal berlayar bersama Sabbar Cruise. Mereka sebelumnya berhubungan dengan agen perjalanan Labuan Bajo Top milik Itok. Namun, pada hari keberangkatan, kepastian yang ditunggu tak kunjung datang.

Trip ke Taman Nasional Komodo yang semestinya menjadi liburan berubah menjadi urusan mencari kapal pengganti, lalu berujung di Polres Manggarai Barat.

Di luar perkara wisata, Itok lama merawat pesona. Ia dikenal sebagai komedian lokal, pembawa acara pesta nikah, dan figur media sosial.

Di panggung, ia menjual tawa; di Facebook, ia merawat kedekatan. Wajahnya akrab, gayanya cair, namanya mudah diingat.

Tetapi reputasi tidak selalu dirusak oleh musuh. Kadang ia runtuh oleh pemiliknya sendiri.

Dalam industri wisata, nama Itok kini tidak hanya dikaitkan dengan tawa dan panggung, tetapi juga wisatawan terlantar, kapal yang tak pasti, pengaduan polisi, dan Labuan Bajo yang ikut menanggung malu.

Ketika kasus terbaru mencuat, panggung digitalnya ikut padam. Akun Facebook yang sebelumnya menjadi etalase dirinya kembali tidak dapat diakses.

Orang yang terbiasa tampil di depan publik justru sulit dijangkau ketika wisatawan dan pihak kapal meminta pertanggungjawaban.

Pengelola Sabbar Cruise, Saputra, mengatakan Itok sempat memesan perjalanan empat hari tiga malam senilai Rp79 juta dan menyetorkan uang muka Rp20 juta. Dana itu sudah digunakan untuk membeli bahan makanan, minuman, handuk, seprai, bed cover, dan kebutuhan kapal lainnya.

Saat keberangkatan tiba, Itok tak bisa dihubungi. Para wisatawan akhirnya memakai kapal lain dan baru kembali ke Labuan Bajo pada malam 12 Agustus.

Mereka tidak menutup liburan dengan cerita indah, melainkan dengan pengaduan ke polisi dan kelelahan hingga dini hari.

Menurut Saputra, pihak kapal ikut dirugikan. Persiapan sudah dilakukan, sementara hubungan transaksi utama berada antara wisatawan dan agen perjalanan.

Hingga berita ini ditulis, Itok belum dapat dikonfirmasi. Polisi sebelumnya menyebut ia berada di wilayah Mukun, Kabupaten Manggarai Timur, dan masih mendalami alur pembayaran serta hubungan antara wisatawan dan agen perjalanan.

Masalahnya, nama Itok bukan baru kali ini muncul dalam perkara wisatawan. Pada Mei lalu, ia dilaporkan atas dugaan penggelapan Rp85,2 juta uang wisatawan asal Malaysia dan Singapura.

Ia sempat ditahan selama 48 hari, tetapi keluar setelah kerugian korban dikembalikan, surat perdamaian diteken, dan laporan polisi dicabut. Dengan kata lain, ia aman lagi.

Malam setelah bebas, Itok kembali tampil di ruang publik. Di Facebook, ia mengunggah video komedi di salah satu lokasi di Labuan Bajo. Panggung menyala, tawa kembali diproduksi, dan perkara seolah masuk lemari arsip bernama damai.

Dalam catatan Floresa, Itok juga dikaitkan dengan sejumlah kasus lain sebelumnya. Tidak semuanya sampai ke meja polisi; sebagian disebut selesai sebelum menjadi laporan resmi.

Jejak berulang itu membuat Itok tak lagi sekadar dibicarakan sebagai komedian lokal, MC, atau pelaku seni. Ia menjadi contoh bagaimana reputasi pribadi dapat roboh oleh pola yang sama: uang perjalanan, kapal yang tidak jelas, wisatawan kecewa, lalu pengaduan polisi.

Pesona yang dirawat bertahun-tahun runtuh justru karena kepercayaan wisatawan diperlakukan seperti perkara yang dapat ditambal belakangan: kembalikan uang, tanda tangan damai, lalu berharap orang lupa.

Yang roboh bukan hanya reputasi Itok. Setiap kali namanya muncul dalam dugaan penipuan wisatawan, Labuan Bajo ikut terseret.

Pelaku wisata yang bekerja benar ikut dicurigai, warga yang hidup dari pariwisata ikut menanggung akibat, dan destinasi yang dipromosikan sebagai premium kembali harus membersihkan noda yang dibuat oleh segelintir orang.

Polisi pun kembali bertemu nama yang sama: orang yang pernah mereka tahan, lalu bebas setelah perkara diselesaikan damai dan lepas dari jerat pidana.

Jika penanganan sebelumnya dimaksudkan untuk menutup masalah, kasus terbaru justru menunjukkan bahwa yang tertutup mungkin hanya laporan, bukan polanya.

Kini nama itu kembali berada di meja polisi. Semoga aparat tidak lelah mengurus perkara dengan pola serupa—atau terlalu menikmati komedi Itok sehingga lupa bahwa yang sedang dipertaruhkan bukan panggung hiburan, melainkan kepercayaan wisatawan dan reputasi pariwisata Labuan Bajo.

Pertanyaannya kini: jika uang kembali dikembalikan dan perdamaian kembali diteken, apakah Itok akan aman lagi? Jika polisi kembali memilih jalan yang sama, korban, pelaku wisata jujur, warga, dan Labuan Bajo akan kembali membayar harga dari ketidaktegasan itu: reputasi dirusak, lalu publik diminta percaya bahwa semuanya sudah aman.

Setiap kali penipuan wisatawan selesai tanpa konsekuensi hukum yang jelas, yang dipertaruhkan bukan hanya uang korban. Yang ikut dipertaruhkan adalah kepercayaan wisatawan, reputasi pelaku usaha yang bekerja benar, dan nama Labuan Bajo.

 

DUKUNG KAMI
Floresa adalah media independen. Kami berkomitmen bahwa cerita yang paling sulit diungkap adalah cerita yang paling perlu didengar.
Kalau Anda percaya jurnalisme seperti ini penting — dukung kami. Caranya klik di sini
Baca artikel lain serial: Penipu Turis Perusak Pariwisata