Salah satu organisasi mahasiswa di Yogyakarta bakal menerima anggota baru dan menyatakan berkomitmen untuk melahirkan generasi yang progresif.
Pernyataan itu disampaikan oleh Dewan Pimpinan Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPK-GMNI) Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’ pada 28 Oktober, menjelang pelaksanaan Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) pada 1 November.
Kegiatan yang akan dilaksanakan di STPMD ‘APMD’ itu mengusung tema “Mewujudkan Transformasi Sosial dengan Membentuk Marhaenis yang Berkesadaran, Bersolidaritas, Berpikir Kritis dan Bermental Pejuang.”
Marhaenis merupakan sebutan bagi penganut marhaenisme, yaitu ide dan alat perjuangan yang dirumuskan Soekarno untuk mengangkat harkat dan martabat kaum marhaen, yakni rakyat kecil, petani, buruh dan mereka yang termarjinalkan oleh kolonialisme dan kapitalisme.
Yonoris Jitro Paila, ketua panitia kegiatan berkata PPAB bukan sekadar rutinitas formal tahunan organisasi, melainkan kesempatan penting untuk menanamkan nilai-nilai dasar perjuangan Marhaenisme yang digagas Soekarno untuk berpihak pada rakyat kecil dan memperjuangkan keadilan sosial.
Menurutnya, transformasi sosial hanya bisa dijalankan oleh mereka yang sadar, bersatu, berpikir kritis serta berani melawan kemalasan, ketidakpedulian dan ketakutan.
Selain itu, katanya, PPAB menjadi bagian penting dalam melanjutkan estafet perjuangan organisasi demi melahirkan generasi yang progresif, peka terhadap persoalan sosial dan mampu menjadi pemimpin di berbagai lini.
Karena itu, ia berharap, para calon anggota dapat mengikuti seluruh rangkaian acara secara sungguh-sungguh dan memaknainya sebagai bagian dari proses pembentukan jati diri.
Vansianus Masir, ketua organisasi itu berkata, menjadi anggota GMNI tidak sekadar untuk “tumpang dan tampung nama” demi menambah daftar panjang Curriculum Vitae (CV) atau riwayat hidup.
Lebih dari itu, kata dia, seorang Marhaenis harus menjadi subjek yang sadar terhadap realitas sosial yang menindas, memiliki solidaritas dan empati terhadap sesama, bermental pejuang dan berani bersikap serta mampu berpikir kritis demi perubahan sosial yang berpihak pada rakyat kecil.
Ia berkata, memilih bergabung menjadi anggota GMNI berarti siap untuk menjadi bagian dari penggerak, pejuang dan pelaku sejarah, bukan penonton dan penikmat semata.
Setiap anggota organisasi, katanya, harus mempunyai inisiatif untuk terlibat dalam kegiatan atau pun mengusulkan kegiatan.
“Jangan sampai urusan hidup dan mati, aktif dan tidaknya organisasi hanya dilimpahkan kepada pengurus,” kata Ancik, sapaannya.
“GMNI bukan sekadar struktur yang di dalamnya ada pengurus dan anggota, tetapi sebuah ‘organisme perjuangan’ yang hidup dari semangat kolektivitas dan gotong royong,” tambahnya.
Ancik menegaskan mahasiswa yang memilih bergabung dalam organisasi yang berdiri pada 23 Maret 1954 itu harus terus berdialektika dengan menghidupkan tradisi membaca, menulis dan berdiskusi.
Dengan begitu, kata dia, anggota GMNI bukan hanya berani bertindak, tetapi juga mampu berpikir secara kritis dan reflektif sehingga bisa berkontribusi dengan memproduksi gagasan, pengetahuan dan narasi yang mencerdaskan di ruang publik.
Editor: Herry Kabut





