Pemudi di Ruteng Luncurkan Novel Perdana, Dorong Kaum Muda Angkat Pengalaman Nyata Jadi Karya Sastra

Novel “Aku” karya Arcangela Giriany Tresa Rosari mengangkat kisah perjalanan iman dan spiritualnya

Floresa.co Seorang pemudi di kota Ruteng, Kabupaten Manggarai merilis sebuah novel yang mengangkat pengalaman iman dan spiritualitas pribadinya.

Kisahnya dalam novel “Aku” karya Arcangela Giriany Tresa Rosari itu, dirangkai dari catatan-catatan terpisah dalam buku hariannya sejak pertengahan tahun lalu.

Peluncuran novelnya berlangsung dalam agenda ‘Tour Literasi Bergerak: Merayakan Buku Aku’, acara kolaborasi Kolektif Rumah Baca Aksara dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Karya Ruteng pada 10 Desember.

Echa, sapaan perempuan kelahiran Ruteng, 29 Januari 2003 itu merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Ia baru saja lulus pendidikan sarjana pada Program Studi Administrasi Negara, Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, NTT.

Echa membuka acara dengan mengisahkan pergulatan batinnya, alasan ia memilih merangkai pengalaman itu ke dalam sebuah karya sastra dan proses kreatif yang ia lalui.

Ia berkata, proses penulisan dimulai pada Mei 2024, bertepatan dengan momen ketika ia pertama kali mengalami pengalaman-pengalaman spiritual yang kuat.

“Semua saya catat di buku diary. Awalnya hanya kumpulan cerita, belum terpikir untuk menjadi sebuah buku,” jelasnya.

Ia menuturkan, selama periode itu ia konsisten mencatat setiap pengalaman personalnya. Ia kembali membaca catatan-catatan itu pada Juni lalu “dan baru sadar semuanya saling berhubungan.”

“Itu membuat saya banyak intropeksi tentang iman, sikap, pergaulan selama kuliah dan bagaimana saya membawa diri,” katanya.

Dari Catatan Acak Menjadi Naskah Buku

Pada tahap awal, katanya, catatan-catatan harian itu masih sangat sederhana, bahkan banyak menggunakan bahasa sehari-hari yang tidak baku.

“Masih banyak (menggunakan) Bahasa Manggarai, bahasa anak muda, kata-kata amburadul. Bahkan ada kata ‘anjay’ juga di situ,” katanya.

Setelah berdiskusi dengan teman-temannya, muncul dorongan untuk mengembangkan kisah-kisah itu menjadi novel.

 Ia pun memutuskan mencari penerbit.”

Ternyata, kata dia, “tidak mudah,” karena “Semua tulisan harus tersusun rapi, saling terhubung.”

Saya butuh sekitar satu bulan untuk merangkainya kembali,” katanya.

Setelah melalui proses penyuntingan dan penyelarasan bahasa, naskah itu akhirnya diterbitkan yang terdiri atas enam bab.

“Buku ini berfokus pada pengalaman spiritual dalam iman Katolik. Isinya memuat perjalanan batin saya, mulai dari pengalaman pertama saat berdoa di Gua Maria, pergulatan rasa ragu akibat suara-suara yang tidak berasal dari diri saya, hingga ‘perjumpaan’ dengan Bunda Maria di sebuah gereja,” katanya.

Salah satu bagian dalam buku itu, katanya, berbicara tentang Semana Santa, prosesi tahunan umat Katolik di Larantuka, Flores Timur. 

Kisah itu lahir dari mimpinya mengenai kain berwarna biru yang sama dengan yang dikenakan pada patung Tuan Ma, arca Bunda Maria yang diarak dalam prosesi tersebut.

“Dalam bagian berikutnya saya menulis pengalaman seperti mati suri ketika merasa berjalan ke alam lain,” katanya, “dan puncaknya adalah kisah tentang cinta kasih, saat seseorang hadir dalam mimpi dan mengajarkan betapa pentingnya menyebarkan kasih kepada sesama.” 

Pengalaman itu, kata dia, sangat mengubah dirinya, karena banyak pesan yang sulit ia sampaikan hanya melalui kata-kata lisan.

“Judul ‘Aku’ dipilih karena saya ingin pembaca menemukan diri mereka sendiri dalam setiap kisah. ‘Aku’ itu untuk kita masing-masing. Saat membaca, kita bisa bercermin pada diri kita sendiri,” katanya.

Ia juga mengakui proses menulis tidak selalu berjalan mulus karena ia mudah dipengaruhi suasana hati.

“Saya mudah berubah mood, tapi saya lawan dengan membuat target. Hari ini saya menulis satu halaman, besok bisa lebih kalau suasananya mendukung. Saya juga konsisten membaca ulang dan memperbaiki tulisan,” katanya.

Meski merupakan penulis pemula, kata dia, konsistensi itulah yang membuat buku ini akhirnya selesai dalam satu tahun.

“Saya berharap buku ini dapat menjadi ruang refleksi bagi pembaca dan membantu mereka memahami perjalanan iman masing-masing,” katanya.

Arcangela Giriany Tresa Rosari, pemudi asal Ruteng yang menulis Novel “Aku”. (Dokumentasi Floresa)

Komentar Peserta Diskusi

Arif Laga, salah satu dosen STIE Karya dan peserta diskusi yang membahas buku ini berkata, setiap orang memiliki beragam pengalaman personal, namun sangat sedikit yang mau dan mampu menuangkannya dalam karya sastra.

“Meski bagi sebagian orang tampak biasa, pengalaman dalam buku ini menjadi berharga karena penulis berani menceritakannya,” katanya.” Pengalaman tersebut, kata Arif, memberi pesan penting untuk “tidak meragukan diri, terutama ketika kita memiliki kasih dan jika kelak muncul pengalaman baru.”

“Bagikanlah, jangan disimpan sendiri,” katanya.

Agustina K. Intan, mahasiswi STIE Karya berkata dalam novel penulis bercerita tentang tujuh kali kegagalan dalam proses pengujian proposal skripsi.

“Dari situ tampak adanya keraguan yang muncul, terutama terkait makna dan kehadiran pengalaman itu sendiri. Yang menjadi pertanyaan saya, apa yang membuat keraguan-keraguan itu tidak menggoyahkan penulis? Apa yang membuat penulis tetap bertahan dalam proses yang begitu panjang, meskipun penuh hambatan?” tanyanya.

Ia juga mengutip bagian lain dari buku itu yang menggambarkan kegelisahan: “Mengapa aku masih terjebak dalam lingkaran keluhan dan kekecewaan yang tak berujung?” 

Pertanyaan itu, kata dia, seperti menggantung di udara, yang perlahan memudar, namun meninggalkan jejak keraguan.

“Bagaimana cara penulis belajar untuk selalu bersyukur atas apa yang dimiliki? Dan apa yang membuat Echa terus bertahan di tengah keresahan dan kecemasan yang dialami saat itu?” tanyanya.

Merespons Agustina, Echa menyatakan keraguannya bermula saat berada di semester enam. 

Saat itu, ia sudah tujuh kali mengikuti bimbingan proposal skripsi, namun belum juga disetujui pembimbingnya. Sementara teman-temannya hanya membutuhkan tiga hingga empat kali proses bimbingan untuk mengikuti ujian proposal.

“Setiap revisi terasa membingungkan. Saya tidak tahu lagi bagian mana yang harus diperbaiki. Saya berdoa, tetapi merasa seperti doa saya tidak dijawab. Di titik itu saya pasrah, bahkan sempat ingin menyerah dan tidak mau menyentuh proposal lagi,” katanya.

Namun, pengalaman itu berubah ketika suatu hari ia keluar kos dan melihat banyak orang sedang berjuang; ada yang menjual sayur, memikul dagangan, bekerja keras dengan kondisi jauh lebih berat.

“Di situ saya tertampar. Saya sadar bahwa saya masih sangat kurang bersyukur. Saya punya kesempatan kuliah, kos yang layak, dan tidak perlu meminta-minta, sementara banyak orang berjuang keras hanya untuk hidup,” katanya.

Dari pengalaman itu, ia mulai belajar untuk bersyukur, walaupun proposalnya baru disetujui pada pertemuan kedelapan.

“Saya mulai melihat bahwa harapan itu masih ada. Melihat para pekerja kecil yang tetap berjuang justru membuat saya bangkit kembali,” katanya.

“Mereka mungkin menghadapi masalah yang jauh lebih berat, tetapi tetap melanjutkan hidup. Dari mereka, saya belajar bahwa saya tidak boleh menyerah dan harus memperjuangkan apa yang saya impikan.” 

Ia juga berkata, pengalaman penolakan sering membuat seseorang merasa pasrah, tetapi justru di situ kadang muncul pengalaman-pengalaman batin yang menguatkan. 

“Bandingkanlah dengan mereka yang lebih berat perjuangannya, agar kita punya alasan untuk tetap kuat,” katanya.

Ia berharap kaum muda di Ruteng semakin termotivasi melahirkan karya-karya sastra dari pengalaman nyata. Ia juga mendorong semakin banyak ruang dan waktu untuk membahas buku-buku atau isu-isu literasi di Manggarai. 

“Buku memang dicintai banyak orang, tetapi hanya sedikit yang mampu melahirkannya. Semoga ke depan lahir lebih banyak karya, bukan hanya dari saya, tetapi juga dari teman-teman di sini,” katanya.

Editor: Anno Susabun

Artikel ini terbit di halaman khusus KoLiterAksi. Jika Anda adalah pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pemerhati pendidikan ataupun masyarakat umum dan tertarik menulis di sini, silahkan kirimi kami artikel. Ketentuannya bisa dicek dengan klik di sini!

Silahkan gabung juga di Grup WhatsApp KoLiterAksi, tempat kami berbagi informasi-informasi terbaru. Kawan-kawan bisa langsung klik di sini.

Artikel Terbaru

Banyak Dibaca

Baca Juga Artikel Lainnya