Bagaimana Mahasiswa di NTT Memaknai Peringatan Sumpah Pemuda?

“Secara teori, kita mungkin memahami isi Sumpah Pemuda. Namun dalam praktik, nilai dan semangat itu perlahan mulai kehilangan makna,” kata mahasiswa

Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober menjadi momentum refleksi bagi mahasiswa di Nusa Tenggara Timur.

Sejumlah mahasiswa dari enam kampus di Pulau Flores dan Timor menilai semangat Sumpah Pemuda tak boleh hanya sekadar seremoni, tetapi harus tampak dalam tindakan nyata dan refleksi kritis atas kondisi bangsa saat ini.

Bagi Stefanus Suriadi Jadur, Ketua BEM Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, generasi muda saat ini perlu meninjau kembali esensi dari peringatan tersebut.

“Sejatinya, generasi muda harus paham sejarah bangsa, realitas yang terjadi kekinian dan suatu cita-cita atau ideal untuk kemajuan bangsa,” katanya kepada Floresa pada 28 Oktober.

Stefanus berkata generasi muda adalah penjaga marwah bangsa yang “harus bisa memberi jejak yang baik pada waktu.”

“Itu berarti generasi muda harus bisa membangun kualitas-kualitas hidup yang baik,” katanya.

Namun, menurut Stefanus, banyak anak muda kini hanya menjadikan peringatan Sumpah Pemuda sebagai seremoni tanpa makna reflektif.

“Sebagai suatu peringatan, Hari Sumpah Pemuda menjadi semacam anamnesis, di mana generasi muda harus bisa membangun refleksi kritis dalam dirinya di tengah realitas kehidupan bangsa Indonesia,” katanya.

Ia menambahkan, semangat berapi-api dari para pemuda pada 1928 harus tetap menyala dan dibagikan kepada orang lain.

Dengan demikian “generasi muda tidak menambah potret gelap kehidupan bangsa yang sering kita alami akhir-akhir ini.”

“Generasi muda juga harus kritis di tengah perkembangan teknologi dan banjirnya informasi,” katanya.

Refleksi kritis itu perlu diperkuat dengan ketajaman hati nurani.

“Kekurangan kita di Indonesia adalah membunuh hati nurani sebagai hakim tertinggi. Dampaknya jelas, banyak orang berbuat sesuatu secara naif, sehingga KKN terus terjadi dan makin banyak lagi,” katanya.

Bukan Sekadar Seremoni

Heraklius Solanus Peu, Ketua BEM Universitas Flores di Kabupaten Ende menilai peringatan Hari Sumpah Pemuda oleh kaum muda kini lebih tampak sebagai acara seremonial kendati dalam kenyataan masyarakat “terlelap dalam situasi Indonesia yang jauh dari kesejahteraan.”

Heraklius berkata, nilai-nilai Sumpah Pemuda tetap relevan bagi generasi muda masa kini, namun tidak lagi dimaknai secara lebih kompleks.

“Misalnya dalam kasus intoleransi, ketika orang sedang beribadat diganggu atau diusir, itu mencerminkan hilangnya rasa saling menghargai di antara umat beragama,” katanya.

Ia juga menyinggung persoalan sosial di tengah masifnya penolakan terhadap proyek geotermal di Flores sebagai bentuk nyata keresahan masyarakat terhadap ketidakadilan negara.

“Dalam situasi seperti ini, kita harus kembali melihat Sumpah Pemuda sebagai roh perjuangan anak muda yang menginginkan kesatuan bangsa, bebas dari intoleransi dan penindasan, serta mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

Ia juga bertekad terus mengajak kaum muda di kampus tersebut untuk “berada di garis depan perjuangan menegakkan keadilan di negeri ini.”

“Sebagai agent of change, kami akan tetap menjadi perwakilan masyarakat yang menitipkan harapan di setiap kantong-kantong kampus,” katanya.

Hal senada disampaikan Kornelia Dorceana Dangung, Ketua BEM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Karya Ruteng yang menyebut makna Sumpah Pemuda kini mulai memudar di hati sebagian anak muda.

“Secara teori, kita mungkin memahami isi Sumpah Pemuda. Namun dalam praktik, nilai dan semangat itu perlahan mulai kehilangan makna,” katanya.

Kornelia berkata, banyak kebijakan pemerintah yang menyiksa rakyat dan “membuat arah bangsa jadi ngawur.” 

Di tengah situasi itu, kata dia, aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan oleh anak muda merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab terhadap nilai-nilai Sumpah Pemuda.

“Namun tidak bisa dipungkiri juga bahwa masih banyak sekali anak muda yang bersikap apatis dengan keadaan bangsa sekarang,” katanya.

“Ini menunjukkan bahwa makna Sumpah Pemuda hanya sekadar menjadi peringatan seremonial semata tanpa roh perjuangan,” katanya.

Ia berkata, Sumpah Pemuda merupakan momen yang sangat berharga dan perlu selalu direfleksikan.

“Sumpah Pemuda bukan hanya tentang sejarah, tetapi juga tentang identitas dan tanggung jawab kita hari ini,” katanya.

Momen Merawat Persatuan 

Kornelia berkata, tantangan yang dihadapi generasi muda di era digital dan globalisasi saat ini berbeda dari sebelumnya, yang ditandai oleh maraknya hoaks dan polarisasi yang berujung ancaman disintegrasi bangsa. 

“Sebagai agen perubahan dan penerus bangsa, kita harus menerjemahkan semangat Sumpah Pemuda ke dalam aksi nyata, sesederhana dengan meningkatkan sikap toleransi terhadap keragaman,” katanya.

Ia berkata menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi persaudaraan merupakan fondasi kokoh untuk menghadapi berbagai tantangan global masa kini.

“Setiap anak bangsa perlu menyadari bahwa kita semua memiliki peran penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” katanya.

Kepala Bidang III BEM Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Gilberth Alfadianto Loasana berkata Hari Sumpah Pemuda merupakan momentum penting untuk mengingat kembali semangat persatuan dan kebangsaan di Indonesia.

“Hari ini mengajarkan kita bahwa perbedaan suku, bahasa, dan budaya bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang menyatukan kita sebagai satu bangsa,” katanya.

Gilberth berkata, sebagai generasi penerus, mahasiswa harus terus menumbuhkan rasa cinta tanah air dan memperkuat persatuan melalui pendidikan, inovasi dan sikap toleransi.

“Sumpah Pemuda menjadi pengingat agar kita aktif berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan menjaga keutuhan Indonesia di tengah dinamika global,” katanya.

Ia juga berkata tantangan pemaknaan Sumpah Pemuda saat ini adalah bagaimana semangat perjuangan itu tidak berhenti sebagai seremoni belaka.

“Sumpah Pemuda bukan hanya simbol atau perayaan tahunan, tetapi cerminan untuk memperkuat nasionalisme, semangat persatuan, dan pikiran kreatif dalam menghadapi tantangan zaman modern,” katanya.

“Kita harus terus menyalakan api perjuangan melalui pendidikan, literasi, dan inovasi digital sebagai wujud perubahan positif agar peringatan Sumpah Pemuda menjadi inspirasi nyata dalam tindakan, bukan sekadar ritual tahunan,” lanjutnya.

Refleksi dari Perjuangan Anti-Kolonial

Sementara itu, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kupang, Yorius Ama Makin berkata, Sumpah Pemuda merupakan tonggak penting dalam sejarah kebangkitan nasional, yang menandai lahirnya kesadaran pemuda akan pentingnya perjuangan berkarakter nasional dan anti-kolonial.

“Sumpah Pemuda mengonsolidasikan gerakan-gerakan berasaskan kedaerahan ke dalam satu bingkai tanah air, bangsa dan bahasa. Ia lahir dari kondisi objektif rakyat yang selama ratusan tahun hidup dalam belenggu penghisapan ekonomi, politik dan kebudayaan oleh kolonialisme Belanda,” katanya.

Yorius berkata kesadaran nasionalisme anti-kolonial pada masa itu merupakan hasil otokritik terhadap kegagalan perjuangan yang bersifat kedaerahan, yang “berbuah manis dalam Revolusi Agustus 1945.”

“Kalau kita membaca rentetan perjuangan pemuda dan rakyat pasca-kemerdekaan hingga reformasi, kita akan melihat bahwa peran pemuda selalu menjadi kekuatan penting dalam perkembangan bangsa,” katanya.

Semangat itu, kata dia, masih tampak hari ini dalam berbagai bentuk perjuangan baru.

“Banyak anak muda menyalurkan semangat Sumpah Pemuda lewat organisasi, tulisan, media dan berbagai gerakan sosial. Mereka ikut berbicara dan berjuang bersama rakyat untuk menghadapi persoalan-persoalan yang ada,” katanya.

Namun ia juga menyadari seringkali terjadi fragmentasi dalam gerakan kaum muda akibat meningkatnya sikap individualistik, pragmatis dan apolitis.

“Agar Sumpah Pemuda tidak kehilangan roh perjuangannya, generasi muda perlu menghidupkan kembali semangat persatuan dan perjuangan melalui kerja penyatuan antarsektor rakyat, pemuda, kaum tani, buruh dan seluruh rakyat tertindas lainnya,” katanya.

Ia berkata, kesadaran pemuda tidak datang begitu saja, melainkan tumbuh dari keterlibatan aktif dalam kerja edukasi, pengorganisasian dan propaganda untuk memperkuat barisan perjuangan rakyat.

“Setelah memperkuat dan memperluas organisasi, pemuda dan mahasiswa mesti membangun front persatuan dengan seluruh sahabat rakyat. Hanya dengan front persatuan berlandaskan garis politik demokratis nasional, tuntutan rakyat dapat diperjuangkan dan dimenangkan,” katanya.

Sementara bagi Ketua BEM Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) St. Paulus Ruteng, Konradus Pian, peringatan Sumpah Pemuda menjadi pengingat bagi mahasiswa untuk berperan sebagai agen perubahan di kampus dan masyarakat.

“Kita dapat menerapkan nilai-nilai persatuan, kesatuan, dan semangat perjuangan yang terkandung dalam Sumpah Pemuda untuk meningkatkan kualitas pendidikan, mempromosikan kesadaran sosial dan membangun komunitas yang inklusif dan berintegritas,” katanya.

Konradus berkata, memperingati Sumpah Pemuda bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi melanjutkan semangatnya dalam bentuk aksi nyata.

“Mari kita jadikan Sumpah Pemuda sebagai inspirasi untuk menjadi mahasiswa yang berkarakter, berintegritas, dan peduli dengan isu-isu sosial dan lingkungan,” ujarnya.

Dalam konteks lokal di Flores, kata dia, mahasiswa memiliki peran penting jika terlibat aktif dalam dinamika masyarakat.

“Kami bisa mengadakan kegiatan sosial seperti bakti lingkungan, edukasi kesehata dan pendampingan masyarakat di desa-desa,” katanya.

Ia juga berkata mahasiswa dapat memberdayakan UMKM lokal dengan memberikan pelatihan digital dan kewirausahaan agar masyarakat lebih mandiri secara ekonomi.

Editor: Anno Susabun

Artikel ini terbit di halaman khusus KoLiterAksi. Jika Anda adalah pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pemerhati pendidikan ataupun masyarakat umum dan tertarik menulis di sini, silahkan kirimi kami artikel. Ketentuannya bisa dicek dengan klik di sini!

Silahkan gabung juga di Grup WhatsApp KoLiterAksi, tempat kami berbagi informasi-informasi terbaru. Kawan-kawan bisa langsung klik di sini.

Artikel Terbaru

Banyak Dibaca

Baca Juga Artikel Lainnya