Peringati Hari Sumpah Pemuda, Komunitas Literasi di Kupang Gelar Panggung Kreasi bagi Anak-anak dan Mahasiswa

Kegiatan tersebut adalah jawaban dari kerinduan anak-anak untuk menampilkan dan menunjukkan kemampuan dan potensi diri

Salah satu komunitas literasi di Kabupaten Kupang menggelar Panggung Kreasi bagi anak-anak dan mahasiswa, bagian dari cara mereka memperingati Hari Sumpah Pemuda. 

Berlangsung pada 25 Oktober, kegiatan itu diinisiasi oleh Rumah Literasi Cakrawala NTT yang berbasis di Dusun Dendeng, Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah.

Direktur Rumah Literasi, Gusty Rikarno berkata, kegiatan tersebut merupakan wadah bagi anak-anak untuk menampilkan bakat mereka lewat paduan suara, pembacaan puisi, pidato dan fashion show

Kegiatan tersebut, kata dia, adalah jawaban dari kerinduan anak-anak yang bergabung dalam Taman Bacaan Rumah Literasi Cakrawala NTT untuk  menampilkan dan menunjukkan kemampuan dan potensi diri dalam beragam bentuk. 

Lewat kegiatan tersebut mereka juga berkesempatan untuk menimba dukungan dan apresiasi orang tua, pemerintah dan masyarakat yang peduli dengan pendidikan.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat membuat orang “membuka mata dan optimis dengan kemampuan anak-anak.” 

“Kegiatan ini penting karena dapat membentuk karakter anak-anak, seperti rasa percaya diri, kerja sama, toleransi dan saling mendukung satu sama lain,” katanya.

Pelaksanaan kegiatan itu juga melibatkan Mendi Project, komunitas mahasiswa di Kupang. 

Mereka menampilkan monolog “Jeritan Malam” yang mengangkat isu kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTT yang terus meningkat dalam lima tahun terakhir. 

Merujuk pada data Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Provinsi NTT, ada 140 kasus pada 2020, 202 pada 2021, 287 pada 2022, 323 pada 2023 dan 398 pada 2024.

Hingga Mei tahun ini, UPTD PPA mencatat ada 241 kasus, lebih dari separuh dari jumlah tahun lalu. 

Melalui monolog itu, komunitas tersebut mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan berperan aktif dalam melindungi perempuan dan anak.

Mendi Project juga menampilkan musikalisasi puisi berjudul “Masa Gelap” yang mengungkap keresahan terhadap situasi sosial dan politik di Indonesia, khususnya pasca demonstrasi pada 25 Agustus, di mana mahasiswa dan masyarakat sipil menjadi korban aksi represif aparat keamanan.

Musikalisasi itu menggambarkan pergulatan batin dan kegelapan yang menyelimuti bangsa saat keadilan diperjuangkan dengan mengorbankan nyawa. 

“Puisi ini kami hadirkan sebagai bentuk refleksi atas keadaan bangsa. Bahwa perjuangan dan suara rakyat tidak boleh padam meski di tengah duka,” kata Dewi Sartika, salah satu anggota Mendi Project.

Ketua Mendi Project, Enji Juna menilai kegiatan semacam ini memberi ruang penting bagi anak-anak dan masyarakat untuk mengekspresikan diri secara kritis dan kreatif.

“Kami melihat bahwa Rumah Literasi Cakrawala NTT telah membuka ruang bagi anak-anak untuk berkembang, tidak hanya belajar membaca, menulis dan berhitung, tetapi juga melatih mereka mengeksplorasi kemampuan diri melalui penampilan di atas panggung,” katanya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut dapat memberi dampak positif karena anak-anak dilatih mengekspresikan potensi dan keberanian mereka di depan publik, sekaligus menumbuhkan kesadaran sosial melalui seni.

Pada akhir kegiatan, Rumah Literasi, Komunitas Belajar Mengajar (KBM) Universitas Muhammadiyah Kupang dan Mendi Project menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman untuk berkolaborasi memperkuat pendampingan anak-anak dalam bidang literasi, numerasi serta pengembangan karakter melalui seni dan edukasi berbasis komunitas.

Ketua KBM Universitas Muhammadiyah, Yeremia A. Hiyetingkai berkata komunitasnya akan rutin mengadakan kegiatan belajar setiap akhir pekan untuk meningkatkan kemampuan membaca, berhitung dan memahami teks bagi anak-anak di Rumah Literasi.

“Kami berharap kehadiran kami bisa membantu anak-anak di desa agar berkembang dan memiliki kesempatan belajar yang sama dengan teman-teman mereka di kota,” katanya.

Handrisius Grodus merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana

Editor: Herry Kabut

Artikel ini terbit di halaman khusus KoLiterAksi. Jika Anda adalah pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pemerhati pendidikan ataupun masyarakat umum dan tertarik menulis di sini, silahkan kirimi kami artikel. Ketentuannya bisa dicek dengan klik di sini!

Silahkan gabung juga di Grup WhatsApp KoLiterAksi, tempat kami berbagi informasi-informasi terbaru. Kawan-kawan bisa langsung klik di sini.

Artikel Terbaru

Banyak Dibaca

Baca Juga Artikel Lainnya