Bawa Sampah untuk Dapat Tiket Baca, Ide Kreatif Komunitas Literasi di Kupang untuk Peduli Lingkungan

Selain menyediakan bahan bacaan, komunitas tersebut juga melakukan asesmen terhadap kemampuan membaca anak-anak

Salah satu komunitas literasi di Kabupaten Kupang mendorong kepedulian anak-anak terhadap lingkungan dengan meminta mereka membayar tiket membaca dalam bentuk sampah.

Konsep itu diinisiasi oleh Rumah Literasi Cakrawala NTT yang berbasis di Dusun Dendeng, Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah. 

Direktur Rumah Literasi, Gusty Rikarno berkata, komunitasnya mengusung konsep “Sampahmu Tiket Baca” di mana anak-anak membayar tiket membaca dengan sampah anorganik seperti botol plastik dan kaleng.

“Cukup dengan membawa satu botol bekas, seorang anak bisa membaca buku,” katanya.

“Dari sini, mereka belajar untuk peduli kebersihan dan sekaligus mengurangi sampah di sekitar,” katanya pada 30 Agustus.

Gusty berkata, pihaknya bekerja sama dengan Komunitas Donasi Sampah untuk mendaur ulang sampah yang terkumpul. 

Hasil pengelolaannya digunakan untuk kebutuhan anak-anak, misalnya membeli bola dan perlengkapan menggambar.

Ia menegaskan program tersebut tidak sekadar menjadikan anak gemar membaca, tetapi juga mengajarkan mereka peduli pada lingkungan.

“Kalau setiap desa punya satu taman baca dengan konsep seperti ini, kita bukan hanya melahirkan generasi gemar membaca dan menulis, tapi juga generasi yang peduli kebersihan dan perubahan iklim,” katanya.

Gusty berkata, komunitasnya sudah mengoleksi lebih dari 1.500 judul buku, mulai dari buku bacaan anak hingga literatur umum.

Koleksi itu akan terus bertambah karena komunitasnya juga menjalin kerja sama dengan Sinode Gereja Masehi Injili di Timor yang rutin meminjamkan ratusan judul buku baru.

Ia berkata, komunitasnya tidak hanya menyediakan bahan bacaan, tetapi juga melakukan asesmen kemampuan membaca. 

Anak-anak, katanya, dikelompokkan sesuai levelnya, mulai dari yang belum mengenal huruf, baru bisa membaca suku kata, kalimat sederhana, hingga membaca dengan lancar dan memahami isi bacaan.

“Selain itu, anak-anak diarahkan untuk mengembangkan bakat dan minat, seperti olahraga, seni hingga berkebun,” katanya. 

Ia menambahkan semua kegiatan tersebut didampingi oleh 12 relawan, termasuk mahasiswa Jurusan Psikologi dan Bahasa Inggris dari Universitas Nusa Cendana serta Komunitas Multikultural dari Universitas Muhammadiyah Kupang.

Rumah Literasi Cakrawala dibentuk pada 2016 dan menaungi empat program utama.

Keempatnya adalah majalah pendidikan versi cetak dan daring, penerbitan dan percetakan, sekolah menulis Cakrawala dan taman bacaan masyarakat. 

Komunitas tersebut juga menginisiasi berbagai program bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT untuk meningkatkan minat baca dan menulis di kalangan anak-anak, remaja hingga orang dewasa.

Mereka mengunjungi sekolah-sekolah untuk mengkampanyekan pentingnya budaya membaca serta mendampingi para guru dan peserta didik dalam menulis sehingga karya tulis mereka bisa dipublikasikan dalam bentuk buku.

Handrisius Grodus merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Nusa Cendana

Editor: Herry Kabut

Artikel ini terbit di halaman khusus KoLiterAksi. Jika Anda adalah pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pemerhati pendidikan ataupun masyarakat umum dan tertarik menulis di sini, silahkan kirimi kami artikel. Ketentuannya bisa dicek dengan klik di sini!

Silahkan gabung juga di Grup WhatsApp KoLiterAksi, tempat kami berbagi informasi-informasi terbaru. Kawan-kawan bisa langsung klik di sini.

Artikel Terbaru

Banyak Dibaca

Baca Juga Artikel Lainnya