Aku duduk di bangku kayu paling belakang kapela tua itu, tepat di bawah bayang-bayang patung Pastor Johannes. Cahaya pagi menerobos jendela sempit dan jatuh pada wajah patungnya yang tenang—seolah ia masih mengawasi umatnya, dua puluh tahun setelah kematiannya.
Di kapela ini, waktu berjalan lebih lambat.
Dindingnya retak halus, lantainya berderit setiap kali diinjak, dan bau kayu tua bercampur dupa selalu mengingatkanku pada sesuatu yang sulit dinamai: damai yang bersebelahan dengan kehilangan.
Aku menatap patung itu lama.
Konon, Pastor Johannes datang dari negeri jauh dan meninggalkan kenyamanan hidupnya demi kampung kecil ini. Ia makan apa yang dimakan warga, berjalan dari rumah ke rumah, membawa doa dan beras dalam tangan yang sama. Orang-orang mencintainya bukan karena ia sempurna, melainkan karena ia hadir.
Dalam diam aku bertanya: “Apakah semua orang yang memilih jalan itu sungguh siap menanggungnya?”
Pertanyaan itu menggantung di antara patung, dupa, dan cahaya pagi.
Tanpa kusadari, ingatanku berjalan mundur. Bukan kepada Pastor Johannes, melainkan kepada seseorang yang dulu duduk di sampingku—di bangku yang sama.
Natan.
Namanya kini seperti bisikan yang enggan keluar dari mulutku. Namun di tempat ini, segala yang kusembunyikan selalu menemukan jalan pulang.
***
Malam itu pun hujan.
Hujan turun tanpa jeda, seperti langit yang kelelahan menyimpan sesuatu. Seusai misa peringatan Pastor Johannes, kapela masih ramai. Aku hendak tinggal lebih lama—membantu membersihkan altar, menata kursi, atau sekadar bersama teman-teman.
Lalu Natan datang.
Ia berdiri dekat tungku dupa, wajahnya separuh ditelan bayang-bayang. Ada sesuatu dalam sorot matanya—gelisah sekaligus memaksa.
“Ayo pulang,” katanya.
Aku menolak. Sekali. Dua kali. Namun, karena ia terus mendesak, aku akhirnya mengalah.
Aku mengalah karena percaya kepadanya.
Atau mungkin karena aku belum pernah belajar menolak orang yang kucintai.
Di perjalanan, tercium bau tajam dari napasnya—sesuatu yang tak seharusnya ada di sana.
Alkohol. Mungkin ia membutuhkan tegukan itu untuk menenggelamkan sesuatu yang disimpannya. Angin malam dan suara hujan mengisi keheningan di antara kami.
Kami melaju beberapa saat sebelum motor itu mati di dekat pemakaman.
Kami turun. Hujan menetes dari rambutku ke bahu, lalu jatuh ke tanah. Ia membongkar bagian motor yang tak kupahami. Aku berdiri memeluk diri sendiri, menatap gelap yang terasa terlalu pekat.
Sepuluh menit terasa seperti satu jam.
Akhirnya kami berjalan menuju rumahnya. Rumah itu kosong, dan entah mengapa kesunyian di dalamnya terasa lebih menakutkan daripada gelap di luar.
Aku duduk di tepi ranjang, berusaha mengatur napas. Ia bilang ada sesuatu yang hendak disampaikan. Aku menunggu.
Namun, yang datang bukan kata-kata, melainkan perubahan. Sikapnya menjadi asing. Tatapannya berbeda. Tangannya tidak lagi sekadar menyentuh—ia menahan, menekan, menguasai.
Aku mencoba menolak. Mula-mula dengan kata-kata, lalu gerakan, kemudian tangis. Namun, kepercayaan yang selama ini kuberikan kepadanya berubah menjadi sesuatu yang merampas kendaliku malam itu.
Di luar, hujan terus turun—seolah dunia memilih diam. Setelah semuanya berlalu, tidak ada yang benar-benar selesai.
Ia meminta maaf berkali-kali. Suaranya pecah, tangannya gemetar. Namun kata-kata itu kosong—datang terlambat, ketika sesuatu yang penting telah dirampas.
Aku tidak menjawab. Aku berdiri, merapikan diri yang tak lagi sama, lalu berjalan keluar.
Di ambang pintu, ia menyerahkan sebuah payung hitam.
“Biar kamu tidak kehujanan,” katanya.
Aku menerimanya tanpa memandang wajahnya.
Malam itu aku pulang membawa dua hal: payung hitam miliknya dan luka yang tak terlihat.
Sejak malam itu, aku belajar diam.
Bukan karena aku tak punya cerita, melainkan karena beberapa cerita, ketika diucapkan, dapat melukai tubuh untuk kedua kalinya.
Natan perlahan menghilang dari hidupku.
Pesan-pesannya makin jarang, lalu berhenti sama sekali. Ketika kutuntut penjelasan, ia hanya berkata bahwa aku tak perlu terlalu takut.
Kalimat itu terus terngiang.
Seolah malam itu hanya perkara kecil.
Padahal, bagiku, malam itu telah melampaui batas yang tak dapat dipulihkan.
Yang tersisa hanyalah payung hitam itu—tergantung di belakang pintu kamarku, menjadi saksi yang tak pernah dimintai keterangan.
***
“Amel.”
Suara itu menarikku kembali ke kapela.
Ibu Etty berdiri di pintu. Senyumnya masih hangat seperti dulu, dan entah mengapa justru membuat dadaku sesak.
“Natan akan ditahbiskan,” katanya pelan.
Aku mengangguk.
Tak ada air mata. Namun sesuatu bergerak di dalam diriku—pelan, seperti luka lama yang disentuh tanpa izin.
Hari pentahbisan itu datang bersama hujan.
Aku berjalan menuju kapela dengan payung hitam yang warnanya mulai pudar. Jalanan sepi; hanya langkahku dan rintik hujan.
Di dalam, semuanya terasa sakral.
Nyanyian, doa, dan jubah putih tampak begitu bersih—seolah masa lalu tidak pernah terjadi.
Aku duduk di bangku belakang.
Aku tak berani melihat ke depan.
Ketika suaranya terdengar, aku menahan napas.
“Tuhan beserta kita.”
Aku mengenali suara itu.
Namun, aku tidak lagi mengenali orang yang mengucapkannya.
Aku keluar sebelum perayaan selesai. Aku tak ingin bertemu dengannya.
Namun payungku terjatuh dekat pintu sakristi.
Ketika aku hendak mengambilnya, seseorang lebih dahulu meraihnya.
Natan. Waktu membeku di antara kami.
Ia tampak berbeda—lebih tenang, lebih rapi, lebih jauh. Ia menyerahkan payung itu kepadaku. Jari kami sempat bersentuhan.
“Jika masa laluku melukaimu,” katanya lirih, “jangan biarkan itu mengganggu jalan yang kupilih sekarang.”
Aku menatapnya untuk pertama kali sejak malam itu. Tak ada kata yang keluar.
Beberapa luka tidak membutuhkan penjelasan—apalagi pembenaran. Mereka membutuhkan jarak. Aku mengambil payung itu, lalu pergi.
***
Tiga tahun kemudian, kabar itu datang tiba-tiba, seperti hujan pertama setelah kemarau.
Mengejutkan, tetapi tidak benar-benar mengakhiri apa pun.
Natan meninggal.
Orang-orang membicarakan dirinya, pelayanannya, dan kesalahan-kesalahan yang mulai terkuak. Aku tidak datang ke pemakaman. Aku menunggu sampai semuanya sepi.
Aku datang setelah pemakaman, ketika tempat itu telah sepi. Di depan nisannya, aku berdiri membawa payung hitam yang robek di beberapa sisi. Angin menggerakkannya pelan seperti napas yang tersisa.
Aku menatap namanya lama. Amarah masih ada, tetapi tidak lagi menguasai seluruh ruang dalam diriku. Yang tersisa adalah lelah yang akhirnya menemukan tempat untuk berhenti. Aku meletakkan payung itu di atas makamnya.
“Aku tidak memaafkan apa yang kaulakukan,” bisikku. “Tetapi aku akan menyelamatkan diriku sendiri.”
Angin mengangkat sedikit ujung payung itu, seolah hendak membawanya pergi.
Aku sempat ragu. Lalu aku mengambilnya kembali.
Payung itu bukan lagi miliknya. Ia adalah saksi bahwa aku pernah terluka dan tetap bertahan.
Aku berbalik.
Kali ini, aku benar-benar pergi.
Martin Wukak adalah mahasiswa Filsafat di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero.


