Guru Mika

Selepas kejadian yang nyaris mencampakkan tubuhku ke liang lahat, aku mulai enggan pergi ke sekolah. Aku sadar, tugas mulia ini dibayang-bayangi kehancuran. Siapa pelakunya, aku pun tak tahu. 

Mobil merah maron itu melaju cepat bagai lebah yang lewat setelah tubuhku terpeleset beberapa meter. Tak berhenti. Tak menoleh.

Sudah tiga hari firasatku mengalami gangguan akut. Firasat tentang sesuatu yang akan terjadi padaku. Aku mengenalnya betul. Semua ini barangkali berawal dari sikapku yang kerap dianggap berlebihan. Bagiku, mendidik berarti mengarahkan, bahkan memaksa murid menuju jalan yang benar. Apapun caranya. Itu prinsip hidupku. Karena itulah aku memiliki motivasi personal: menciptakan jalan yang benar. Sekecil apa pun, aku yakin perubahan akan berjalan, meski perlahan.

Aku guru muda yang mengabdi di salah satu SMA. Bangunan sekolah itu mewah dan megah. Murid-murid berdesakan memenuhi ruang-ruangnya. Baru sebulan mencintai sekolah dan para muridnya, aku sudah dicap sebagai guru killer. Istilah itu disematkan kepada guru berwatak tegas sepertiku.

Pada minggu kedua, aku menyuruh seorang siswa menghisap sepuluh batang rokok. Dengan paksa. Ia kedapatan merokok terang-terangan di kelas saat jam istirahat. Pada tarikan pertama, ia terbatuk-batuk. Asap mengepul bagai abu di ubun gunung api. Ia mengeluh, meminta ampun, hingga air matanya membasahi api rokok. Aku tak menggubris.

“Biar kau mengerti arti pelanggaran,” ucapku.

Seorang guru perempuan tua lewat. Ia mendongakkan kepala di pintu, tersenyum tipis.

“Selalu sabar, Mika.”

Aku mengangguk. Ia berlalu. Anak itu kuperbolehkan keluar kelas. Rokoknya terlentang di atas ubin putih. Tepuk tangan terdengar dari beberapa guru. Seolah-olah akulah pahlawan. Sejak itu, mataku tak lagi menangkap perokok di ruang kelas. Indra penciumanku—yang kuberi nama efata—menghirup udara segar di lingkungan sekolah.

“Kesuksesan kecil sudah tercapai,” batinku.

Namun aku waswas. Kesuksesan awal belum tentu sumber kebahagiaan. Aku teringat pepatah nenek moyangku: bersedih-sedih dahulu, bersenang-senang kemudian. Aku cemas jika rumus itu terbalik. Meski begitu, aku insaf. Kecemasan hanyalah perasaan yang berusaha mengusik semangatku. Aku tidak menyerah, apalagi mengalah.

Hari-hari di sekolah berjalan tanpa masalah. Satpam yang menjaga gerbang mulai menampakkan tawanya. Bahkan ketika matahari menembakkan sinarnya tepat di ubun-ubun, lelaki bertubuh kekar itu tetap berdiri gagah di pos jaga. Ia menemukan minat baru: membaca koran halaman demi halaman, meski matanya tetap awas terhadap murid-murid yang mencoba bolos. Jika namaku disebut keras-keras, anak itu akan kembali dengan wajah merah.

Aku kasihan padanya. Pos jaga itu sempit, tanpa AC. Ketika hawa meninggi, keringat di jidatnya bermunculan bak mata air.

“Selamat pagi, Pak. Ini ada hadiah. Kebetulan aku menjual babi kemarin.”

“Terima kasih banyak, Pak Guru,” katanya. “Saya tidak mampu berbuat seperti Bapak.”

Kami tertawa kecil. Kukayuhkan langkah ke ruang guru. Beberapa hari kemudian, keringatnya berkurang. Bahkan nyaris tak tampak lagi.

“Syukur,” batinku. “Kipas angin kecil itu berguna.”

Aku bangga menjadi pengajar, meski hanya tenaga honorer. Aku memiliki kesempatan berbicara dan menunjukkan jalan terang kepada manusia lain. Kepala sekolah pernah berkata, “Ini baru guru.” Kalimat itu menempel lama di dadaku.

Suatu pagi, ketika asap dapur mengepul dan matahari bersorak, aku membaca berita di ponsel: Seorang guru ditemukan tewas di gubuk. Pelaku belum ditemukan. Media lain menulis: Seorang guru diamuk muridnya. Dadaku berguncang. Nadiku berdenyut cepat, seolah memberi isyarat agar aku waspada.

Saat itu aku tersadar. Mungkin aku incaran berikutnya. Sudah tiga kali aku menerima awasan tak enak dari orang tua di kampung.

“Hati-hati, Mika,” kata mama. “Mama bermimpi tubuhmu kaku dan diusung ke rumah.”

“Bapak juga bermimpi,” sambung bapak. “Orang-orang datang membunuh sapi.”

Aku diam. Pikiran berkelahi dengan keputusanku sendiri.

Aku memutuskan memelihara monyet. Keputusan itu datang begitu saja, seperti firasat yang menepi lalu menetap. Pernah suatu waktu aku menemukan induk monyet mati di kebun, tergeletak tanpa luka. 

Tak ada bekas jerat. Tak ada darah. Mulut anaknya masih menempel di salah satu puting induknya. Orang-orang kampung bilang, kematian tanpa sebab biasanya bukan kematian biasa. Aku tak menjawab apa pun. Aku mengambil anak monyet itu. Induknya kukubur.

Di rumah, aku memberi susu bayi. Uang jajanku sering habis untuknya. Aku menamainya Sofi. Ia betina dan pintar. Sebagai monyet kecil, ia menurut. Tanpa perintah, ia memanjat tubuh ibuku, duduk di bahunya, mencari kutu di kepala wanita itu. Ibuku tak pernah mengeluh. Katanya, binatang juga tahu memilih tempat hidup.

Aku dan Sofi pergi ke mana-mana. Pasar, kebun, sekolah, lapangan bola, rumah teman, bahkan ke gereja. Di mana pun aku berada, Sofi selalu diam, seolah paham kapan harus bersuara dan kapan harus menunggu.

Suatu pagi aku menemukannya tergeletak di depan rumah. Tubuhnya dingin. Tak ada busa di mulutnya. Tak ada bau racun. Tak ada luka. Sofi mati begitu saja. Ibu memandang tubuh itu lama, lalu berkata lirih, “Di kampung, tula tak selalu tepat sasaran.”

Hari itu ibu tak mau makan. Ayah pun sama. Rumah seperti kehilangan suara. Aku bersumpah tak pernah berniat mencelakainya. Namun sumpah tak pernah cukup di hadapan kematian yang tak bisa dijelaskan.

“Kau pikir dengan caramu itu, semua bisa lurus?” kata ibu.
“Aku hanya ingin menjaga,” jawabku.
“Kadang yang dijaga bukan yang kena,” katanya.

Aku membuat peti kecil dari papan seadanya. Kukuburkan Sofi. Kupasang nisan bertuliskan namanya. Sejak itu, malam-malamku tak lagi sunyi. Selalu ada sesuatu yang terbangun lebih dulu dari tidurku.

Beberapa bulan aku tak kembali ke sekolah. Telepon seluler terus bergetar. Guru-guru datang ke rumah. Mereka ingin aku kembali. Katanya, murid-murid menunjukkan kebiasaan lama. Seorang guru senior mencoba caraku. Kini ia menjadi tahanan.

Aku kembali.

Beberapa murid memanjat tembok sambil memegang pylox. Mereka baru menyelesaikan pekerjaannya. Seseorang memanggil dari ujung lorong, “Pak Guru! Datang….”

Mataku tertumbuk pada satu kata di dinding, ditulis miring. MAMPUS.

Aku terhenyak beberapa detik. Terlintas wajah Sofi, tergeletak tanpa luka. Terlintas kalimat ibu, kadang yang dijaga bukan yang kena. Aku mengatur napas, merasakan berat langkahku sendiri.

Aku tetap melangkah maju, sementara mereka berdesakan masuk ke ruang kelas.

Ito Benggu lahir di Kefa-Eban, mahasiswa IFTK Ledalero. Bergiat di komunitas sastra Sandal Jepit Nitapleat dan kelompok diskusi sastra dan isu-isu sosial Bohemian Club.