Sesampainya di rumah, bapak sudah duduk di depan televisi. Punggungnya tegak, matanya menempel pada layar. Aku lewat di depannya, tapi ia tak menoleh.
Aku menuju dapur. Ibu sedang menyeduh kopi. Ia membawanya ke ruang tamu dan meletakkannya di dekat tangan bapak.
Sesaat ia berdiri, menatap layar, mengangguk kecil, seolah mencoba masuk ke acara yang ditonton bapak.
Tak lama kemudian ia menggeleng pelan dan kembali ke dapur.
Makan malam siap. Ibu memanggil kami dari meja makan. Biasanya bapak akan menjawab, atau setidaknya bangkit dari sofa. Malam itu tidak. Ia tetap duduk, matanya tak lepas dari televisi.
Meja makan hanya diisi oleh aku dan ibu.
Ibu tak bertanya. Ia mengangkat piring-piring, membawanya ke ruang tamu, dan meletakkannya di dekat bapak.
“Jangan lupa dimakan,” katanya. “Nanti dingin.”
Bapak berdehem. Matanya tak bergerak.
Ibu kembali ke meja makan. Kami saling menatap, lalu menggeleng pelan dan tertawa kecut.
“Sudah hampir sebulan bapakmu seperti ini,” kata ibu.
Sendoknya ia putar-putar di atas piring. Ia melirik ke arah ruang tamu, lalu berkata, lebih pelan, “Kita harus segera melenyapkan televisi itu.”
Aku terdiam.
“Ada sesuatu yang berbahaya sedang terjadi,” katanya lagi.
“Kenapa ibu berpikir begitu?”
Ibu tak segera menjawab. Ia menunduk, lalu mengangkat bahu. “Perasaan seorang ibu.”
Percakapan berhenti. Ibu membereskan piring dan mencucinya. Dari dapur, ia menatap punggung bapak. Tangannya terus bergerak, tetapi pandangannya tajam, tak berkedip.
Malam jatuh cepat. Besok hari pasar. Aku masuk ke kamar, sempat melirik ruang tamu.
Bapak masih di sana. Dari televisi terdengar suara orasi: janji perubahan, janji kesejahteraan, janji keselamatan. Aku menutup pintu. Telingaku penuh. Aku ingin tidur.
***
Saat rumah terlelap, layar kaca tetap menyala. Gambar berputar cepat, lalu melambat.
Muncul sosok seorang pemuda bertubuh gempal berdiri di atas podium. Tangannya menghantam meja dengan kepalan besi, lalu mengacung menghujam langit. Lidahnya berapi-api. Lencana bintang berbaris di pundaknya.
Ia menatap lurus dari dalam layar. Telunjuknya menekan dada sendiri.
“Pilih saya! Pilih saya! Pilih saya!”
Suara itu diulang-ulang, semakin dekat, seolah merambat keluar dari layar kaca. Telunjuk besi berbalik arah, menunjuk ke seberang.
“Ingat tanggalnya. Jangan lupa pilih saya.”
Seremoni ditutup dengan tarian. Pemuda gempal itu bergerak di atas panggung, bersama dayang dan bawahan lain.
Siaran ini ditayangkan di seluruh negeri. Bapak menonton. Tetangganya menonton.
Di ruang-ruang yang gelap, layar tetap menyala. Tirai tak ditutup. Beberapa tubuh berdiri terlalu lama di depan cahaya. Beberapa bergerak pelan, mengikuti pemuda gempal itu.
***
Aku keluar dari kamar dengan mata masih berat oleh kantuk. Menuju dapur, aku meneguk segelas air untuk memulihkan kesadaran. Dari ruang tamu, samar-samar terdengar suara ibu.
“Pak, ayo bangun. Jangan tidur di sini. Masuk ke kamar.”
Aku masih meneguk air ketika ibu membopong bapak menuju kamar mereka. Aku beranjak hendak mengambil handuk, tapi suara ibu menahanku.
“Ini sudah tidak bisa dibiarkan.”
“Bapak cuma begadang nonton televisi, Bu,” jawabku sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
“Tapi ini bukan menonton televisi biasa.”
“Maksud ibu?”
Ibu terdiam. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi tak menemukan kata. Aku menggeleng, tak memahami kegelisahan yang merambat di wajahnya, lalu melangkah ke kamar mandi.
“Ada sesuatu yang berbahaya sedang terjadi,” katanya lagi.
“Yang berbahaya sekarang kalau ibu terlambat ke pasar,” sahutku singkat.
Pagi itu aku mengantar ibu ke pasar, membantu menurunkan sayur-mayur dan menata lapak. Saat hendak pamit, tangan ibu menepuk bahuku.
“Periksa bapakmu.”
Aku mengangguk, meski tak benar-benar menggubris. Semuanya akan berjalan seperti biasa. Aku akan pulang, menunggu sore, lalu mengurus ternak. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Saat tiba di rumah, aku hendak masuk ke kamar. Namun di ruang tamu aku melihat bapak berdiri di belakang televisi, memasang sebuah gambar. Ia merapikan lipatan-lipatan kertas itu dengan teliti, memastikan setiap garis lurus dan presisi.
Dua langkah ke belakang. Seorang lelaki gempal berjubah, tangan menghujam langit.
Bapak menoleh dan tersenyum padaku.
“Dia pemimpin yang akan mensejahterakan kita.”
Malam itu, tak ada acara menonton televisi seperti biasa. Bapak menggantinya dengan khotbah kebangsaan. Aku dan ibu diperintahkan duduk di sofa.
Ceramah panjang dimulai: tentang lelaki gempal itu sebagai kesatria perkasa penumpas pemberontak di pedalaman hutan, pembela tanah air, filantropis sejati—dan, katanya, sosok yang imut dan gemoy.
Setelah itu, bapak menyuruh kami menatap layar. Remot ditekan.
DARRRR
Cahaya silau menghantam mataku. Gambar berputar cepat, lalu melambat. Wajah lelaki gempal itu muncul kembali, berdiri di atas podium dengan tangan menghujam langit. Ia berteriak tentang kemenangan, kemajuan, kesejahteraan.
Telunjuknya menekan dada.
“Pilih saya. Pilih saya. Pilih saya.”
Telunjuk itu berbalik arah, menunjuk ke wajah kami.
“Jangan lupa tanggalnya. Jangan lupa pilih saya.”
Sesuatu merayap ke kepalaku. Aku tak bisa berpaling. Kewarasanku seakan ditarik keluar, digantikan rasa takjub dan patuh. Jantungku berdebar. Aku ingin berdiri, ingin meneriakkan namanya.
BRAKK!
Cahaya padam.
Pandanganku berputar. Dalam samar-samar, kulihat ibu berdiri dengan kapak di tangan. Televisi itu ia hantam berkali-kali. Bapak gemetar. Aku berusaha tetap sadar.
Ibu berteriak.
“Tidak akan ada yang memilih manusia gempal itu, atau siapa pun dari kroni-kroninya. Wajah itu seharusnya berada di penjara.
Dia membuat ibuku berdiri belasan tahun, setiap hari Kamis, di depan istana, menuntut anaknya dikembalikan. Sampai ia mati, kakakku tak pernah kembali. Begitu juga orang-orang lain yang mereka culik.
Dan sekarang aku diminta memilih mereka sebagai pemimpin?”
Ibu mengangkat kapaknya.
“Siapa pun di rumah ini yang maju mendukungnya, akan aku hancurkan.”
Dominiko Djaga adalah jurnalis Floresa. Ia juga aktif menulis cerpen dan esai yang diterbitkan pada beberapa media seperti Kompas.id, Lau Ne, After 7 PM dan Bacapetra.com.


