Artikel-artikel yang ditulis oleh

Dominiko Djaga

84 Artikel

Camat di Lembata Memantik Ketegangan Baru dalam Polemik Geotermal Atadei

Camat itu mengeluarkan surat yang membatasi warga menyatakan sikap, langkah yang dicap warga sebagai bentuk kesewenang-wenangan dan taktik meloloskan proyek.

Respons Konflik Lahan Warga dan TNI AD di Tonggurambang, Komnas HAM Bakal Minta Hentikan Sementara Pembangunan Markas Militer

Komnas HAM berjanji mengumpulkan data hingga turun ke lapangan untuk memfasilitasi mediasi

Transpuan Hendrika Mayora Viktoria: Tetap Beriman, Jujur pada Diri Sendiri

Bagi Mayora, kejujuran adalah hal paling mahal — termasuk mengakui diri memiliki orientasi seksual berbeda di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya siap memahami identitasnya.

Pesan Intimidatif Mewarnai Nobar Pesta Babi di Markas PMKRI Maumere

Intimidasi terhadap pemutaran film Pesta Babi juga terjadi di beberapa wilayah lain di Flores.

Mempertahankan Independensi di Tengah Tekanan

Pesan itu datang tiba-tiba ke ponsel salah satu jurnalis Floresa—mengatasnamakan institusi keamanan, menyertakan data pribadi, dan menuntut agar sejumlah konten dihapus. Ancaman itu ditutup dengan kalimat “proses akan ditingkatkan ke tahap selanjutnya” jika permintaan tak ditaati.

Artikel Terbaru

Dari Balik Jeruji, Ayah Berpesan Terus Menjaga Tanah Nangahale

Ketika sengketa agraria antara masyarakat adat dan PT Krisrama, korporasi milik Keuskupan Maumere, berujung pada pemenjaraan warga, hukuman tidak berhenti di balik jeruji. Ia menjalar ke dapur, kebun, bangku kuliah, urusan adat, dan relasi anak dengan orang tua.

Polres Manggarai: Pelajar yang Ditemukan Meninggal di Kebun adalah Korban Bunuh Diri

Korban sempat menyampaikan niatnya untuk bunuh diri kepada temannya.

Kejaksaan, Gempa, dan Dugaan Korupsi di Manggarai Timur

Gempa dapat menunda pemeriksaan, tetapi Kejaksaan tidak boleh menjadikannya dalih untuk membiarkan penyidikan tanpa arah, tenggat, dan pertanggungjawaban.

Di Nangahale, Anak-Anak Takut kepada Romo, Kelapa, dan Penjara

Rumah mereka dirobohkan, kakek mereka dipenjara, dan sekolah terhenti. Bagi anak-anak Nangahale, konflik agraria hadir dalam puing rumah, larangan memetik kelapa, serta perjalanan rutin ke rutan. Nama anak-anak dalam laporan ini disamarkan untuk melindungi mereka.