Jurnalisme di Tengah Gempa Flores

Saat warga terdampak menunggu bantuan, kami berhadapan dengan pertanyaan: untuk apa informasi tentang penderitaan jika ia tidak membuka jalan bagi pertolongan?

Oleh: Ryan Dagur

Pada 15 Agustus 2026, ketika gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Flores, kami bersama Sunspirit for Justice and Peace membentuk Tim Respons Cepat Gempa Flores.

Pada mulanya, niat kami adalah mengumpulkan informasi tentang warga terdampak, memverifikasi kebutuhan paling mendesak, lalu meneruskannya kepada pihak-pihak yang ingin membantu.

Kami membuat formulir daring dan membukanya untuk publik. Dalam waktu singkat, laporan dan permintaan bantuan darurat berdatangan dari warga yang rumahnya roboh, masih diliputi kecemasan, dan belum tahu harus mencari pertolongan ke mana.

Pada saat yang sama, rekan-rekan dan mitra kami di berbagai kota mulai bertanya bagaimana mereka dapat menyalurkan bantuan.

Di titik itulah niat awal kami berubah. Bukan karena rencana besar yang telah disiapkan sejak awal, melainkan karena keadaan menuntut keputusan cepat.

Masih pada hari yang sama, kami memutuskan membuka penggalangan donasi publik dan menyebarkan informasinya melalui media sosial.

Kami tidak memiliki pengalaman mengelola respons kemanusiaan sebesar ini. Namun dalam situasi darurat, menunda keputusan juga berarti membiarkan kebutuhan warga menunggu lebih lama.

Karena itu, kami bergerak lebih dulu, sambil menyusun mekanisme kerja, pembagian tugas, pencatatan, dan verifikasi secara paralel.

Kami berbasis di Flores. Bencana ini tidak datang sebagai peristiwa jauh yang hanya kami baca dari laporan. Beberapa rumah rekan dan kerabat kami ikut retak.

Nama-nama kampung terdampak bukan sekadar titik di peta administratif; banyak di antaranya kami kenal dari perjalanan, percakapan, jaringan kerja, dan hubungan yang selama ini terbangun.

Kedekatan itu tidak otomatis membuat pekerjaan menjadi mudah, tetapi membuat kami sulit untuk tidak melangkah.

Dengan tim redaksi yang kecil, kami mengalihkan seluruh perhatian dari menulis berita ke kerja-kerja mendesak: menyortir laporan, memverifikasi kebutuhan, menghubungi relawan, mencatat transaksi, dan memastikan setiap donasi bergerak secepat mungkin menuju warga terdampak.

Semua itu dikerjakan dari ruang kecil di Labuan Bajo yang menyatu dengan dapur kantor kami.

Pada pekan pertama, telepon tim kami hampir tidak berhenti. Pesan masuk pagi, siang, malam. Ada warga yang menghubungi ketika hari sudah larut. Sebisa mungkin, kami merespons satu per satu.

Ketika sejumlah rekan kemudian bertanya mengapa kami melakukan aksi ini, jawaban paling jujur adalah: karena kami merasa terpanggil untuk bertindak. Namun, panggilan itu tidak berhenti sebagai dorongan emosional.

Ia bertumpu pada alasan yang lebih jelas: dalam krisis, informasi tidak hanya bernilai sebagai berita, tetapi juga sebagai jalan agar bantuan menemukan sasarannya.

Kami berani bergerak karena memiliki tiga kapasitas yang sangat penting dalam keadaan darurat: informasi, jaringan, dan kepercayaan publik.

Selama 12 tahun, kepercayaan itu tumbuh melalui kerja-kerja jurnalistik. Dalam situasi bencana, kapasitas tersebut menjadi modal sosial yang tidak seharusnya dibiarkan pasif.

Keyakinan itu terjawab ketika donasi terus mengalir sejak hari pertama, dengan jumlah yang jauh melampaui bayangan kami sebelumnya. Hingga 12 September 2026, donasi mencapai Rp1.379.283.684. Dari jumlah itu, Rp1.379.228.721 telah kami distribusikan kepada warga terdampak.

Bantuan telah bergerak ke banyak titik. Sasaran kami terutama warga di lokasi-lokasi terpencil, posko-posko kecil, dan kelompok rentan yang kebutuhannya sering tidak segera terlihat dalam arus besar penanganan bencana.

Secara keseluruhan, donasi menjangkau 221 titik atau posko pengungsian pada 149 desa/kelurahan dan di tujuh kabupaten di Flores. Melalui alokasi khusus, bantuan juga diarahkan kepada 255 kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, ibu hamil, lansia, dan anak-anak.

Karena kebutuhan warga berbeda dari satu tempat ke tempat lain, fokus penyaluran tidak seragam. Di sebagian tempat, warga paling membutuhkan pangan dan kebutuhan harian posko. Di tempat lain, kebutuhan paling mendesak adalah terpal, selimut, dan perlengkapan tenda.

Untuk kelompok rentan, bantuan diarahkan secara lebih khusus pada susu bayi, kebutuhan lansia dan ibu hamil, nutrisi, serta perlengkapan sanitasi.

Dari informasi para relawan, sekitar 95 persen bantuan yang kami salurkan merupakan bantuan pertama yang sampai ke tengah warga terdampak.

Selain dibawa langsung oleh relawan, sebagian donasi kami salurkan melalui lembaga Gereja Katolik, pemerintah desa, dan komunitas-komunitas setempat. Rantai kecil seperti ini membuat bantuan bergerak dari satu kabar ke kabar lain, dari satu tangan ke tangan lain, hingga tiba di tempat yang paling membutuhkan.

Sejak awal, kami menyadari bahwa kerja seperti ini hanya dapat dijalankan jika keputusan-keputusannya bisa dijelaskan. Donatur berhak tahu ke mana uang mereka pergi. Warga terdampak berhak menerima bantuan secara layak. Publik berhak memeriksa kerja kami.

Karena itu, kami berusaha membuka informasi penyaluran melalui media sosial dan mencatat alur penggunaan dana sejelas mungkin.

Namun, pilihan kami untuk melampaui kerja jurnalistik sehari-hari tidak bebas dari pertanyaan. Ada yang bertanya: Apakah Floresa masih dapat disebut media jika ikut mengelola bantuan? Apakah kedekatan dengan warga terdampak akan mengganggu independensi kami? Bagaimana publik bisa percaya pada berita-berita kami jika kami sendiri terlibat dalam kerja kemanusiaan itu?

Kami tidak menolak pertanyaan-pertanyaan itu. Justru kami menganggapnya penting. Sebab setiap kritik dan pertanyaan memaksa kami melihat ulang keputusan sendiri dan bertanya apakah yang kami lakukan masih bisa dipertanggungjawabkan.

Namun, pertanyaan etis bagi kami tidak berhenti pada apakah media boleh terlibat atau tidak. Pertanyaannya menjadi lebih konkret: ketika kami punya informasi, jaringan, dan kepercayaan publik, apakah kami boleh memilih diam atau cukup meliput saja?

Keterlibatan semacam ini juga bukan pengalaman yang sama sekali asing. Pertanyaan tentang independensi telah beberapa kali muncul ketika kami membersamai warga di berbagai tempat di Flores, terutama dalam persoalan-persoalan yang menempatkan mereka dalam posisi rentan terhadap kebijakan pembangunan.

Dari pengalaman itu, kami belajar bahwa dalam konteks tertentu jarak memang penting, tetapi jarak bukan satu-satunya ukuran etika.

Etika juga menyangkut tanggung jawab atas kapasitas yang sudah dimiliki. Jika sebuah media memiliki informasi yang terverifikasi, jaringan yang bekerja, dan kepercayaan publik yang memadai, maka pertanyaan etisnya bukan hanya bagaimana menjaga jarak, tetapi juga bagaimana memastikan kapasitas itu tidak mengabaikan kebutuhan paling mendesak di depan mata.

Risiko keterlibatan memang nyata. Namun ada risiko lain yang juga harus dilihat: risiko ketika data tentang warga terdampak berhenti sebagai bahan berita; ketika kepercayaan pembaca tidak dimaksimalkan untuk membuka jalan pertolongan; ketika diam tampak netral, tetapi bagi warga yang menunggu bantuan berarti keterlambatan dan pengabaian.

Inisiatif kami tentu tak sebanding dengan yang dilakukan negara dan lembaga-lembaga amal lainnnya. Kami tidak ingin menggantikan mereka semua. Kami tidak ingin menjadikan media sebagai lembaga amal permanen. Namun, kami juga menolak gagasan bahwa jurnalisme kehilangan martabatnya ketika pengetahuan yang ia kumpulkan dipakai untuk menolong orang bertahan hidup.

Setelah hampir sebulan berjalan, kami memilih menghentikan penyaluran donasi pada 12 September 2026. Keputusan ini kami ambil bukan karena kebutuhan warga telah selesai, melainkan karena kami melihat bahwa berbagai elemen telah bergerak.

Pada sepekan terakhir, permintaan bantuan kepada kami sudah berkurang. Beberapa warga menghubung kami agar meliput tentang pola penanganan pascagempa ini. Di titik ini, kami merasa sudah saatnya untuk kembali menjalankan mandat utama sebagai media.

Kepada seluruh donatur, komunitas masyarakat, paguyuban, mahasiswa, organisasi kolaborator, dan setiap orang yang telah menitipkan amanah melalui kami, kami menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya.

Kepercayaan itu bukan sekadar angka donasi, melainkan tanda bahwa solidaritas masih dapat bekerja melampaui jarak.

Kepada para relawan di mana pun—pembaca, pelajar dan mahasiswa, guru, aktivis, jurnalis, pemuda kampung, dan siapa pun yang memilih berjalan bersama warga Flores dalam hari-hari sulit ini—kami juga berterima kasih.

Dari tangan merekalah banyak bantuan menemukan alamatnya, terutama di tempat-tempat yang jauh dari pusat perhatian.

Di tengah reruntuhan rumah, tenda-tenda darurat, dan kabar yang datang silih berganti, kami belajar bahwa bencana tidak hanya menguji ketahanan warga. Ia juga menguji apakah informasi, jaringan, dan kepercayaan yang kita miliki sungguh dipakai untuk menjaga kehidupan bersama.

Aksi donasi ini boleh berhenti, tetapi pemulihan warga tidak berhenti. Ia akan berlangsung dalam hari-hari panjang setelah perhatian publik mulai bergeser: ketika rumah harus dibangun kembali, anak-anak kembali belajar, keluarga menata ulang hidup, dan warga menagih kehadiran negara yang sungguh siap sebelum bencana berikutnya datang.

Di sana kami akan terus bekerja: mencatat kondisi di tenda-tenda, memeriksa pola penanganan bencana, menagih kesiapan, dan mengangkat suara warga yang mudah hilang dari percakapan besar. Tugas jurnalisme bukan hanya mengabarkan apa yang terjadi, tetapi juga menjaga agar yang terluka tidak cepat dilupakan.

Bagi kami, pelajaran terpenting dari pengalaman sebulan terakhir adalah: jurnalisme yang berpihak pada kehidupan tidak berhenti pada kemampuan melihat dan menulis.

Pada saat-saat tertentu, ia juga harus berani menjadi jalan kecil agar pertolongan sampai, agar tanggung jawab tidak berhenti sebagai kata, dan agar setiap berita tentang penderitaan tetap terhubung dengan martabat manusia di baliknya.

 Ryan Dagur adalah Pemimpin Umum Floresa

Editor: Anno Susabun

DUKUNG KAMI

Terima kasih telah membaca artikel kami.

Floresa adalah media independen. Setiap laporan kami lahir dari kerja keras rekan-rekan reporter dan editor yang terus berupaya merawat komitmen agar jurnalisme melayani kepentingan publik.

Kami menggalang dukungan publik, bagian dari cara untuk terus bertahan dan menjaga independensi. Cara salurkan bantuan bisa dicek pada tautan ini: https://floresa.co/dukung-kami

Terima kasih untuk kawan-kawan yang telah mendukung kami. Gabung juga di Grup WhatsApp pembaca kami dengan klik di sini atau di Channel WhatsApp dengan klik di sini.

ARTIKEL PERPEKTIF LAINNYA

TRENDING