Artikel-artikel yang ditulis oleh

B. Mario Yosryandi Sara

4 Artikel

Bergizi Klaimnya, Beracun Realitasnya

Anak-anak yang semestinya tumbuh-kembang dengan perlindungan, malah jadi objek uji coba proyek yang amburadul

Anarkisme Jalanan dan Normalisasi Kekerasan Negara

Alih-alih sibuk mengecam kerusakan fasilitas publik dan aset negara, kita harus berani membaca “api kecil” di jalanan itu sebagai cerminan dari “api besar” ketidakadilan struktural yang terus menggerogoti republik ini

Militerisasi Pangan dalam Proyek Food Estate

Ketika militer diberi mandat untuk menentukan aras produksi, maka prinsip pengelolaan berbasis komunitas, lokalitas dan partisipasi akan dikorbankan. Hasilnya, segudang problematika meledak di lokasi-lokasi food estate sedari perencanaan sampai pelaksanaannya

Pulau Flores di Ujung Ancaman ‘Mata Bor’ Geotermal

Tanpa perubahan paradigma pembangunan yang menempatkan manusia dan lingkungan sebagai subjek, narasi energi bersih di Flores sekadar pertarungan politik dagang, memperluas komodifikasi sumber daya alam dan menjamin jalur distribusi hasil ekstraksi untuk kepentingan pasar global

Artikel Terbaru

Cerita yang Dibungkam: Maria Omety dan Perlawanan di Tanah yang Terancam

Ada dalam satu bagian film, Maria Omety sedang melihat kembali hidupnya sendiri—hutan yang digusur, kampung yang perlahan dikepung, dan pilihan yang tidak selalu mudah: diam atau kehilangan.

Komunitas Tuli Manggarai Belajar Cara Selamat dari Bencana

Selama ini, peringatan dini, instruksi evakuasi, dan informasi kebencanaan disampaikan lewat pengumuman lisan dan sirine—sistem yang secara struktural mengecualikan mereka yang tidak bisa mendengar.

“Pesta Babi” dan Paulo Freire

Dalam konteks pemikiran Freire, intimidasi yang mewarnai pemutaran dokumenter ini menunjukkan bahwa kekuasaan yang represif tidak takut pada filmnya, tapi pada kesadaran yang lahir setelahnya.

Rektor IFTK Ledalero: Pelarangan “Pesta Babi” Tanda Rezim Otoritarian, Tidak Beradab

Seharusnya pemerintah membangun narasi tandingan atau membuat film baru jika tidak sepakat dengan film yang dibuat masyarakat sipil, ujar guru besar filsafat tersebut.