“Apa yang kau harapkan selain nyawa kita tercabik-cabik binatang buas penghuni hutan?”
Sang kekasih terus mengomel lantang,
meski kian lelah sebab telah lama menanti:
bukan sang lelaki, bukan pula sosok Ilahi dalam doa,
melainkan ajal yang telah pasti menjemput.
“Lihat, kau bahkan telah menelanjangi semua kebencianku di tengah belantara ini.
Menelanjangi semua cerita sejarah yang telah lama terkubur malam.
Obormu bahkan hanya menuntun kita menuju perang maut.’’
Sejenak lelaki itu berhenti. Menarik tangan sang kekasih,
“Belantaramu ini punya hukumnya sendiri. Mari kita selami semua derita,
Mungkin juga untuk mengukir cerita, bahwa hati kita sungguh memiliki hukumnya sendiri.’’
“Tapi binatang buas, tak pernah mempersoalkan kebenaran!”
Ia lalu tunduk, oleh sebuah kepasrahan cinta.
“Saat itulah kita harus mampu bertahan, berjuang, hingga titik darah penghabisan,
Demi kebenaran kita. Bukan kebuasan binatang-binatang yang kau sangkakan itu!”
Lian Kurniawan adalah alumniusSMK St. Fransiskus Xaverius Ruteng. Ia pernah kuliah sastra Inggris di Universitas Sanatha Darma Jogja, tetapi harus berhenti karena masalah ekonimi. Sekarang ia berkerja sebagai ‘tukang kebun’ dan English Speaking Tour Guide di Labuan Bajo, Manggarai Barat.