Oleh: Vano Jemadin
Pada 27 Februari 2026, saya membaca berita Floresa berjudul “Lihat Baik-Baik Bupati yang Terhormat,’ Kemarahan Warga Manggarai Timur Usai Pamannya Meninggal di Jalan...
Panggilan Gereja menemukan wujudnya yang paling nyata dan mendasar dalam pembelaan terhadap mereka yang lemah, tersingkir, dan menjadi korban. Ini adalah bagian dari tugas perutusan untuk mewartakan serta membela kehidupan dan martabat manusia
Kearifan lokal yang terkandung dalam budaya, ekonomi dan ekologi mesti dilestarikan demi menjaga keutuhan dan merawat martabat manusia, kata pastor paroki.
ARMA 2026 bukan hanya pengakuan atas kerja redaksi, tetapi juga pengingat bahwa suara warga Tonggurambang harus terus dibawa ke ruang publik. Dari pengalaman mereka, kami belajar bahwa mengabaikan isu ruang hidup warga adalah kegagalan besar jurnalisme.
Di pinggir Jalan Trans Flores, warga yang rumahnya diratakan perusahaan milik Gereja menyalakan pelita dan berdoa Rosario. Dari rumah-rumah bambu tanpa listrik, mereka menagih kasih yang terus dikhotbahkan, tetapi absen ketika tanah mereka diperebutkan, martabat mereka diinjak, dan hidup mereka diseret ke meja hijau.