KoLiterAksi Umumkan Pemenang Lomba Menulis Kurikulum Merdeka untuk Pendidik dan Peserta Didik di NTT

Para pemenang berasal dari sekolah-sekolah di sejumlah kabupaten di NTT

Floresa.co – KoLiterAksi, sebuah inisiatif kolaborasi Floresa, Sunspirit for Justice and Peace dan komunitas Rumah Baca Aksara mengumumkan pemenang lomba menulis tentang Kurikulum Merdeka yang melibatkan pendidik dan peserta didik di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Para pemenang, yang diumumkan panitia pada 21 Mei, tersebar di antara sekolah-sekolah yang berbasis di Pulau Flores dan Pulau Timor.

Lomba ini yang mengusung tema “Peluang dan Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka: Sudut Pandang Pendidik dan Peserta Didik di NTT” digelar dalam rangka Hari Pendidikan Nasional, dengan dua kategori – Artikel Analisis untuk Pendidik SD-SMA/SMK dan Artikel Liputan Mendalam untuk Peserta Didik SMA/SMK.

“Kami berterima kasih atas keikutsertaan para peserta lomba ini. Sebaran lokasi para peserta yang berasal berbagai daerah, termasuk dari luar Pulau Flores, seperti Kabupaten Timor Tengah Selatan, Sabu Raijua, dan Kota Kupang menunjukkan lomba ini mendapat perhatian serius dari sekolah-sekolah di NTT,” kata Anno  Susabun, ketua panitia.

Ia menjelaskan, lomba yang diluncurkan pada 10 April ini diikuti oleh lima belas kelompok peserta didik SMA/SMK dan tiga puluh pendidik SD-SMA/SMK dari beberapa kabupaten.

Semula, kata Anno, pengumuman dijadwalkan pada 17 Mei, namun diundur ke 21 Mei atas permintaan Dewan Juri, yang kemudian diteruskan kepada peserta.

Hery Kabut, wakil ketua panitia yang juga Pemimpin Redaksi Floresa berkata, proses penjurian dilakukan oleh Dewan Juri yang terlebih dahulu melakukan penilaian mandiri terhadap setiap naskah.

“Para juri juga tidak hanya menetapkan angka bagi setiap naskah, tetapi juga memberikan keterangan tentang alasan mereka memberikan nilai. Setelahnya mereka berunding untuk menetapkan finalis dan pemenang,” katanya.

“Proses ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap naskah dinilai secara cermat untuk kemudian menentukan pemenang,” tambahnya.

Juri untuk kategori Artikel Analisis untuk Pendidikan SD-SMA/SMK adalah Tony Mbukut, Dosen Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif [IFTK] Ledalero; Venan Haryanto, mahasiswa PhD Universitas Bonn, Jerman sekaligus peneliti pada Litbang Sunspirit for Justice and Peace dan Ignasius Juru, periset dan penerima beasiswa LPDP untuk studi doktoral. Tony menggantikan juri sebelumnya Pastor Otto Gusti Madung, rektor IFTK yang meminta diganti menjelang akhir penjurian karena kesibukan di kampus.

Sementara untuk Artikel Liputan Mendalam Peserta Didik SMA/SMK, jurinya adalah Anastasia Ika dan Ryan Dagur – keduanya editor Floresa – dan Cypri Jehan Paju Dale, peneliti di Departemen Antropologi Universitas Wisconsin-Madison, AS.

“Para juri tinggal di lokasi berbeda-beda dan mereka dipertemukan beberapa kali via Zoom selama proses penjurian,” kata Herry.

Penilaian Dewan Juri

Dalam rekomendasi akhir para Juri Artikel Analisis, mereka menyatakan melihat keseriusan peserta merespons lomba ini “yang  terlihat dari upaya meramu dan menyajikan tulisan sesuai dengan ketentuan.”

“Ada beberapa tulisan yang disajikan dengan bahasa yang sederhana, inspiratif, mengangkat hal kecil dan sederhana; berusaha menghubungkan fenomena sosial dengan isu pendidikan. Misalnya mengangkat isu pariwisata dan menghubungkannya dengan Kurikulum Merdeka,” kata mereka.

Mereka juga menyebut “peserta merupakan orang-orang yang potensial untuk mengangkat dan membicarakan isu pendidikan di NTT.”

Kendati demikian, Dewan Juri menyatakan, mayoritas peserta belum bisa membedakan analisis dan opini. 

“Ada naskah yang murni opini, hanya berisi klaim dan argumentasi normatif tanpa basis data atau pengalaman. Ada pula naskah yang hanya berisi data dan pengalaman tanpa memberi bobot analisis yang tajam. Ada juga yang berusaha mengkombinasikan opini dan data atau pengalaman, kendati analisisnya tidak cukup mendalam dalam melihat fenomena,” kata mereka.

Mereka juga menyoroti sisi substansi, menyebut sejumlah naskah tidak memiliki pernyataan tesis yang konsisten dalam setiap bagian tulisan dan ada tesis yang kontradiktif pada bagian pendahuluan dan pembahasan maupun kesimpulan.

“Dari segi tata bahasa, ada naskah yang tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tidak ada lead atau paragraf awal yang jelas yang dapat memberikan impresi bagi pembaca agar membaca tulisannya sampai akhir. Sebagian besar tulisan juga tidak memiliki kohesi dan koherensi yang kuat antarbagian,” kata mereka.

Sementara Dewan Juri Artikel Liputan Mendalam menyatakan dalam rekomendasi akhir mereka bahwa untuk para pemenang, “ada upaya untuk memperhatikan dengan baik ketentuan lomba ini, meski kami juga tetap memberikan catatan-catatan dalam proses penjurian.”

Para juri memberi beberapa catatan, seperti peserta cenderung menyamakan liputan mendalam dengan wawancara/pernyataan narasumber tanpa ada upaya memakai sumber data lain seperti observasi, data resmi yang sudah dipublikasikan, sumber media (liputan lain), literatur, arsip; masih kuatnya muatan opini penulis dalam liputan; judul yang masih terlalu umum; alur belum runut; banyak bagian yang perlu dilengkapi/butuh penjelasan tambahan; pernyataan narasumber dalam bentuk kutipan yang masih panjang dan butuh pandangan berbeda dari narasumber lain.

Untuk peserta lain yang tidak dipilih sebagai pemenang, kata mereka, karena “belum bisa membedakan antara tulisan opini/analisis dengan liputan mendalam sehingga tulisan yang dihasilkan bukan merupakan liputan jurnalistik, tetapi opini/analisis, yang tidak sesuai dengan ketentuan lomba ini.”

“Ada juga peserta yang menulis liputan jurnalistik, tetapi tidak memenuhi kriteria lain, khususnya terkait peserta yang seharusnya dalam kelompok, bukan individu.”

Dewan Juri juga memutuskan tidak memilih finalis kategori ini karena naskah-naskah lainnya tidak sesuai dengan ketentuan.

Mereka pun merekomendasikan agar sekolah-sekolah di NTT “mengimplementasikan pendidikan jurnalistik dasar.

Para Pemenang dan Finalis

Dewan Juri Artikel Analisis memilih 10 finalis, tiga di antaranya ditetapkan sebagai pemenang, juara I-III.

Peraih juara I adalah MN. Aba Nuen dari SMA Negeri Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dengan judul artikel Harmonisasi Pembelajaran Intrakurikuler dan Ekstrakurikuler Optimalkan Potensi Murid.

Angly M Sae dari SMA Lentera Harapan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, dengan judul artikel Menakar Untung-Buntung Penerapan Kurikulum Merdeka Bagi Perkembangan Pariwisata Labuan Bajo meraih juara II.

Herfan Yanse Parlan Gagu, Guru SMP Negeri 1 Borong, Kabupaten Manggarai Timur, dengan judul artikel Nasib Kearifan Lokal Dalam Kurikulum Merdeka meraih juara III.

Sementara para finalis – yang diurutkan berdasarkan abjad – adalah Abel Harapan dari SMAN 2 Borong, Kabupaten Manggarai Timur dengan judul artikel Pembelajaran Berdiferensiasi: Sebuah Harapan Sistem Pendidikan Humanis;  Antonius Rian dari SMAK Santo Yakobus Rasul Lewoleba, Kabupaten Lembata, dengan judul artikel Bercermin pada Alegori Gua Plato untuk Mengukur Kurikulum Merdeka; Heribertus Martinus Moscati dari SMPN 5 Borong, Kabupaten Manggarai Timur dengan judul artikel Peluang dan Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka di SMPN 5 Borong.

Finalis lainnya adalah Jefrianus Kolimo dari SMP Negeri 2 Hawu Mehara Kabupaten Sabu Raijua, dengan judul artikel Kurikulum Merdeka dan Tantangannya Dalam Pembelajaran;  Martinus Arsenius Jemarut dari SMAK St. Fransiskus Saverius Ruteng, dengan judul artikel Merdeka Belajar: Penyederhanaan yang Kebablasan;  Robertus Sabon Taka dari SMA Swasta Katolik Frateran Podor, Kabupaten Flores Timur, dengan judul artikel Kurikulum Merdeka di Tangan Guru Yang Tidak Merdeka; dan  Yohanes Satrio Panggut dari SMAK St. Thomas Aquinas Ruteng, dengan judul artikel Peluang dan Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka di Kabupaten Manggarai.

Sementara untuk kategori Liputan Mendalam Peserta Didik SMA/SMK, Dewan Juri menetapkan tiga pemenang.

Juara I diraih oleh peserta didik dari SMA Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu, Kabupaten Ngada [Andreas Gemilang By, Emanuel Pitamini, dan Fransiskus Renoldy Due Neri] dengan judul liputan Kurikulum Merdeka di Seminari, Mungkinkah?

Juara II diraih peserta didik dari SMA Katolik Giovani Kupang [Amanda Gabriella Chrislayanto, Avrill Raqhuel Malelak dan Maria Gemma Galgani Orpa Beribe] dengan judul liputan Proses Adaptasi dan Implementasi Kurikulum Merdeka sebagai Pelajaran Berdiferensiasi di SMAK Giovanni Kupang.

Sementara juara III diraih peserta didik dari SMAS Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere, Kabupaten Sikka [Patrik Mariano Gi, Frederik Chandra Saputra, Anjelo Laurentsidi Buga Jata] dengan judul liputan Peluang dan Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka.

Beatrix Ayuwandira Dabur, sekretaris panitia berkata, panitia akan menghubungi kembali semua pemenang, finalis dan peserta untuk pengurusan hadiah, piagam dan sertifikat.

“Sesuai dengan informasi saat pengumuman lomba ini, para pemenang akan mendapat fellowship berupa uang tunai, piala dan piagam penghargaan. Para finalis akan mendapat piagam, sementara peserta diberikan sertifikat,” katanya.

Ia menambahkan semua artikel para pemenang dan finalis juga akan diedit bersama dengan tim editor KoLiterAksi untuk kemudian dipublikasi.

Program Lanjutan

Elisabeth Hendrika ‘Ney’ Dinan, direktur Sunspirit for Justice and Peace berkata senang sekali melihat antusiasme peserta lomba yang datang dari berbagai wilayah di NTT.  

“Ini bisa menjadi salah satu tolak ukur, bahwa di NTT kesadaran publik terkait peningkatan kapasitas literasi lewat tulisan cukup tinggi,” katanya.

Ia berharap “lomba ini menjadi pemicu lahirnya penulis-penulis handal yang kritis dari NTT” dan “mempererat jaringan baru antara sesama peserta lomba dan juga panitia.”

Ia menambahkan, KoLiterAksi perlu “memperbanyak forum-forum seperti ini yang bisa menjangkau peserta lebih banyak, ruang yang lebih luas dan topik yang beragam.”

Gheril Ngalong dari Rumah Baca Aksara berkata, antusiasme peserta “menunjukkan bahwa semangat literasi kita tidak mati, hanya perlu dirangsang terus-menerus.”

Ia berharap “semoga melalui agenda apresiasi untuk literasi dari program KoLiterAksi ini bisa membangun ruang kesadaran serta mampu bergerak bersama untuk lebih kritis melihat setiap kebijakan pemerintah di ranah pendidikan di NTT.”

Sementara Herry Kabut dari Floresa berkata, lomba ini menjadi titik pijak bagi kolektif KoLiterAksi dalam menyiapkan agenda ke depan untuk membantu pengembangan literasi di NTT

“Sejak dibentuk awal tahun ini, KoLiterAksi memiliki misi mendorong peningkatan literasi di NTT. Lomba ini hanya salah satu bentuk kegiatan yang kami canangkan, selain telah membuka akses seluas-luasnya bagi lembaga pendidikan dan pelaku pendidikan untuk menulis di halaman KoLiterAksi,” katanya.

Ia menambahkan, melihat antusiasme para peserta dalam lomba ini, “kita tentu akan menyiapkan langkah yang perlu, terutama pendampingan terhadap para penulis yang bersedia untuk belajar bersama KoLiterAksi.”

Editor: Ryan Dagur

Artikel ini terbit di halaman khusus KoLiterAksi. Jika Anda adalah pelajar, mahasiswa, guru, dosen, pemerhati pendidikan ataupun masyarakat umum dan tertarik menulis di sini, silahkan kirimi kami artikel. Ketentuannya bisa dicek dengan klik di sini!

Silahkan gabung juga di Grup WhatsApp KoLiterAksi, tempat kami berbagi informasi-informasi terbaru. Kawan-kawan bisa langsung klik di sini.

Artikel Terbaru

Baca Juga Artikel Lainnya